Cakrawala News
Portal Berita Online

Yuk Gunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar di Media Sosial

0 180

KABUPATEN BOGOR JABAR CAKRAWALA.CO – Indonesia memiliki bahasa daerah masing-masing, tetapi juga punya bahasa pemersatu, yaitu Bahasa Indonesia. Apabila kita sedang menggunakan media sosial, gunakanlah bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Jadi, kita harus mengetahui waktu penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Ketika dalam forum diskusi, maka gunakan bahasa Indonesia agar dapat dipahami siapapun.

Bahasa ini harus selalu berkaitan. Dalam menggunakannya kita harus mengingat lawan bicara kita. Shandy Susanto, Dosen Podomoro University menjelaskan terdapat sikap bahasa yang berhubunagn dengan tiga hal yaitu, kesetiaan, kebanggaan, dan kesadaran.

“Kita harus memupuk bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu dan bahasa utama. Jadi, berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, kecuali dalam lingkup kecil seperti keluarga maka penggunaan bahasa daerah juga diperbolehkan,” ujar Shandy dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021).

Bahasa dalam tulisan memiliki empat faktor, yaitu baik, benar, logis, dan sistematis. Penggunaannya harus sesuai konteks dan aturan. Penggunaan bahasa juga harus beraturan dan berstruktur.

Media sosial menjadi salah satu wadah penggunaan bahasa. Dalam penggunaannya media sosial memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, menambah pergaulan, memudahkan interaksi dengan banyak orang, bisa mengekspresikan diri dan menyebarkan informasi secara cepat.

Shandy mengatakan, adanya media sosial memperluas lingkaran pertemanan, dalam berkenalan pun harus sopan. Mendapatkan teman dari luar negeri juga menjadi hal yang mudah dilakukan di media sosial tanpa perlu ke luar negeri terlebih dahulu. Kemudian, dalam menyebarkan informasi yang didapatkan di media sosial harus selalu divalidasi untuk mencegah penyebaran hoaks.

Sebaliknya, dampak negatif penggunaan sosial media dapat menjauhkan orang yang dekat, menimbulkan konflik, kecanduan internet, privasi terganggu, dan rentan terhadap pengaruh buruk orang lain.

“Dampak negatif yang paling sering dirasakan karena penggunaan gadget atau sosial media adalah minimnya interaksi secara langsung, terutama pada keluarga karena semua sibuk menatap layar handphone masing-masing,” jelasnya.

Shandy memaparkan rumus THINK sebagai patokan unggahan di media sosial. T merupakan true, apakah berita ini benar adanya. H yaitu hurtful, apakah postingan menyakitkan bagi seseorang. I yaitu ilegal, karangan cerita yang tidak benar adanya. N yaitu necessary, apakah informasi yang ingin disampaikan itu penting untuk disebarkan. K yaitu kind, apakah berita ini baik dan patut disebarkan di media sosial.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Maria N. Prasistri (Graphic Designer), Nandya Satyaguna (Medical Doctor),  Asep H. Nugroho (Dosen Fakultas Teknik UNIS), dan Nyimas Indriani.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***RED

Leave A Reply

Your email address will not be published.