Cakrawala News
Portal Berita Online

Yudha dan Para Politisi Tempaan Pandemi Berhasil Merubah Gaya Komunikasi “Berbagi”

0 836

oleh : Janur M Bagus

Banyak sosok peduli yang lahir dari tempaan Pandemi Covid 19 sejak resmi dinyatakan melanda Indonesia pada dua tahun lalu tepatnya di Bulan Maret 2020. Kini virus corona atau Covid-19 memasuki pertengahan tahun 2021 masih juga membayangi setiap denyut dan aktivitas warga bangsa Indonesia, bahkan konfirmasi terakhir belum juga menunjukan tanda-tanda akan mereda, meski statistik penurunan angka terpapar covid 19 mulai terlihat dari laporan beberapa kota di tanah air.

Terlepas dari kondisi masih kuatnya cengkraman covid 19 di Ibu Pertiwi, kita mengambil hikmah dan manfaat dengan semakin tumbuh dan berkembangnya “Kesholehan Sosial” yang muncul dan tertanam dari jiwa-jiwa besar anak bangsa mulai dari deretan tenaga medis, pengusaha, birokrasi, politisi hingga sejumlah praktisi berbagai jenis profesi tampil memberi warna dan turut memaknai masa Pandemi dengan berbagai langkah nyata sebagai sumbangsih bagi bangsa dan negara dalam berbagai kiprahnya.

Tidak sedikit yang terpapar kemudian gugur menjadi kusuma bangsa lantaran tak mampu bangkit terlilit virus yang terlanjur menggerogoti hingga menemui takdir menjemput ajal pada perjalanan perjuangan mereka di garda terdepan memerangi covid 19.

Catatan terakhir, Indonesia  mengukir angka dengan kematian tenaga medis dan kesehatan paling tinggi di Asia, dan 5 besar di seluruh dunia. Bahkan, sepanjang bulan Desember 2020 lalu mencatat 52 tenaga medis dokter meninggal dunia akibat terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Apa yang menjadi penyebabnya ??  kompas.com merilis  disampaikan oleh Dr Adib Khumaidi SpOT dari Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), bahwa kenaikan jumlah kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan ini merupakan salah satu dampak dari akumulasi peningkatan aktivitas dan mobilitas yang terjadi belakangan ini.

Diantaranya seperti berlibur, pemilihan kepala daerah (pilkada) dan aktivitas berkumpul bersama teman dan keluarga yang tidak serumah.

Maka meski Pemerintah Indonesia sudah menyiapkan vaksin bahkan sudah diberikan secara gratis kepada masyarakat Indonesia secara bertahap, bukan berarti vaksin tersebut dapat menjadi obat Covid-19. Vaksinasi hanyalah  upaya yang bersifat preventif dan bukan kuratif.

Oleh karenanya meski sudah ada vaksin dan sudah melakukan vaksinasi, Pemerintah  menghimbau agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat, karena risiko penularan saat ini masih cukup tinggi.

Masih dari rilis kompas.com dari Maret hingga akhir Desember 2020 lalu terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Jumlah 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat tersebut terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medik.

Hingga 2021 ini masih dari rilis kompas.com terdapat 647 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Data tersebut berdasarkan rangkuman Tim Mitigasi IDI dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI), dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Petugas medis dan kesehatan yang meninggal dunia terdiri dari 289 dokter (16 guru besar) dan 27 dokter gigi (3 guru besar), 221 perawat, 84 bidan, 11 apoteker, 15 tenaga laboratorium medik. Sementara dokter yang wafat terdiri dari 161 dokter umum (4 guru besar), 123 dokter spesialis (12 guru besar), dan 5 residen yang berasal dari 26 IDI Wilayah (provinsi) dan 116 IDI Cabang (Kota/Kabupaten).

Gambaran diatas memberikan alasan kuat jika kemudian pada Lebaran Idul Fitri 1442 H atau Mei 2021 Pemerintah dengan sangat terpaksa kembali mengeluarkan kebijakan Larangan Mudik Lebaran dengan tegas bahkan larangan berlaku juga bagi  sejumlah bentuk turunan lainnya pada hiruk pikuk lebaran yang jika dalam kondisi normal Lebaran merupakan momentum kuat untuk mengukur standar kemampuan warga bangsa Indonesia dari berbagai sisi, baik geliat ekonomi, kepadulian sosial bahkan potensi zakat umat Islam khusunya dapat dengan mudah mengukurnya hingga angka Triliunan Rupiah.

Mengerucut pada dinamika Pandemi Covid 19 di sebuah kota kecil di Wilayah Priangan Timur Jawa Barat yaitu Kota Garut kota berjuluk swiss van Java memiliki banyak cerita dan memnyimpan banyak perhelatan yang tertunda bahkan pada musim mudik lebaran hingga Idul Fitri geliat warganya telah memunculkan spekulasi dengan berbagai ragam persepsi. Akankah Garut tetap di Zona risiko sedang cenderung rendah atau malah balik ke risiko merah akibat kemeriahan Idul Fitri tanpa mudik atau dengan mudik yang diulik lewat berbagai cara mulai jalan tikus hingga jalan buaya tetap ditempuhnya karena mudik bukan hanya sekedar tradisi, melainkan pesan moral yang harus dimaknai dalam menumbuhkan kesholehan sosial pada alur hubungan antar manusia untuk menyempurnakan hubungan dengan Tuhan setelah umat muslim satu bulan berpuasa.

Penulis memiliki catatan tersendri sejak Pandemi populer di masyarakat Kabupaten Garut. Mulai dari Pejabat hingga warga pada starta sosial paling bawah semuanya hapal jika Pandemi adalah momok yang menakutkan membuat kalangkabut semua pelaksana disektor terimbas. Dahsyatnya kemudian berimbas pada tatanan sosial maupun politik dan ekonomi. Maka kemudian tidak salah jika Pemerintah menggulirkan kebijakan melalui  program Pemulihan Ekonomi Masyarkat dan Penguatan Perlindungan sosial.

Pun demikian di Kabupaten Garut sejumlah kebijakan difokuskan pada Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Perlindungan sosial, sehingga tidak heran jika kemudian terjadi berulang kali refokusing ploting realaisasi APBD Kabupaten Garut yang memaksa memangkas berbagai rencana strategis pembanguan infrastruktur di wilayah Kabupaten Garut.

Kembali pada Kesholehan sosial, dahsyatnya Pandemi telah melahirkan banyak pelaku sosial yang terlahir dari berbagai latar belakang, sebut saja Masyarakat Peduli Negeri (MPN) yang diinisiasi para pengusaha di kabupaten Garut. Mucul juga gerakan-gerakan kepedulian seperti PHRI-HDCI Peduli dan Berbagi hingga Gebyar Baznas Kabupaten Garut dengan 23 ribu lebih sebar paket sembako untuk menopang ketahanan daya beli masyarakat.

Dalam konteks lokal Kabupaten Garut, para politisi juga memulai memindahkan alur komunikasi berbasis konstituen dengan pola pendekatan Berbagi dan Peduli. Sebut saja Politisi PDI Perjuangan Yudha Puja Turnawan, namanya mendadak viral karena hampir setiap hari mengisi hari-harinya dengan aktivitas “berbagi” dalam segala kondisi seperti advokasi warga korban bencana hingga individu individu tersakiti lantaran berada di garis kemiskinan dengan segala fenomenanya.

Yudha Puja Turnawan telah menjelma menjadi sosok Politisi Muda yang mampu menjawab kebutuhan pragmatis warga agar tetap mampu bertahan di tengah Pandemi yang menyiksa lantaran guliran program jaring pengaman sosial dampak Pandemi kadang tidak merata, bahkan banyak yang luput dari jaring karena jaringnya bolong bolong atau karena jaringnya terlalu sempit sehingga belum mampu menjangkau secara utuh dan menyeluruh.

Maka kehadiran institusi dengan paltform kepedulian sosial, hingga individu-individu yang mengusung kepedulian seperti Yudha Puja Turnawan sedikitnya telah memberi warna baru bahwa politisi juga tidak hanya sebatas membual dan menjual janji melainkan mulai mampu mempola kepedulian dengan kepekaan lintas Daerah Pemilihan (Dapil), lintas dukungan Partai bahkan lintas agama, suku dan ras.

Sekali lagi Yudha yang memiliki pengalaman pahit pernah terpapar covid 19 hingga harus merasakan ketirnya ruang isolasi covid 19,  dan juga para politisi lainnya yang juga tersadar kemudian tampil bergerilya dibasisinya masing-masing merupakan tempaan Pandemi Covid yang dahsyat berimbas pada kesadaran kolektif untuk  mengejawantahkan ruh religi dengan fakta-fakta sosio kultur yang ada di Garut.

Terus semangat A Yudha dan Politisi lainnya, perjuangan tidak akan pernah mengingkari hasil…Wallohu A’lam

***Penulis Janur M Bagus Wartawan peserta FPJP ubahlaku.

Leave A Reply

Your email address will not be published.