Cakrawala News
Portal Berita Online

Yenny Wahid: Peran Masyarakat Sipil dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perdamaian

0 217

JAKARTA, Cakrawala.co – Direktur Wahid Foundation (WF), Yenny Zannuba Wahid menyampaikan materi tentang “Peran Masyarakat Sipil dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perdamaian” dalam sebuah Diskusi Terbatas, Senin (21/09/2020). Diskusi Terbatas diselenggarakan oleh Asisten Deputi Hubungan Luar Negeri, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pemerintahan, Sekretariat Wakil Presiden dengan tajuk “Peran Perempuan dalam Perdamaian”.

Menurut Yenny, dahulu WF lebih banyak melakukan program-program dalam konteks yang teoritis seperti riset, position paper dsb. Tetapi saat ini, lebih banyak memutuskan untuk terjun ke tingkat akar rumput untuk lebih fokus dalam memberikan dampak yang lebih terukur.

Yenny prihatin akan keterlibatan perempuan, “selain sebagai peacekeepers tapi perempuan saat ini sayangnya menjadi target rekruitmen oleh kelompok-kelompok garis keras”.

Di Indonesia, banyak sekali perempuan-perempuan yang dulu perannya mungkin lebih banyak dibelakang layar, untuk melakukan fungsi organizing, atau fungsi rekrutmen, atau fungsi fund raiser, tapi sekarang di beberapa kasus mereka langsung ada di front stage. Bahkan, menjadi pelaku-pelaku tindakan kekerasan ekstrimisme berbasis kekerasan. Contohnya, pengeboman Surabaya dimana ada seorang Ibu yang langsung membawa anaknya untuk melakukan pengeboman di beberapa rumah ibadah maupun di fasilitas umum.

Rekrutmen oleh kelompok ekstrimis kekerasan masih terus berlangsung termasuk diantaranya yang sangat efektif adalah melalui jalur media sosial dan perangkat internet lainnya. Target pertama untuk agen ekstrimis adalah individu yang rentan. Baik rentan secara ekonomi, psikologis maupun sosial.

Kerentenan secara psikologis ini yang paling susah dideteksi. Kalau kerentenan secara ekonomi juga tidak boleh disalah pahami bahwa orang yang berada dibawah ekonomi yang lemah kemudian adalah kelompok radikal.

Maka senses of injustice, sense of greed inilah yang kemudian menjadikan orang untuk terpicu masuk ke dalam gerakan-gerakan radikal karena adanya keinginan yang untuk mengoreksi sistem yang ada. Sehigga kekerasan menjadi salah satu mekanisme untuk mengubah kondisi yang ada menjadi kondisi ideal yang mereka inginkan. Kadang-kadang secara psikologis juga ada trauma-trauma yang terjadi pada individu-individu.

Oleh karena itu, WF menginisiasi  Peace Village atau Kampung Damai bersama UN Women sebagai sebuah prakarsa untuk mempromosikan resiliensi di tingkat desa. Masyarakat sipil juga punya peran yang luas terutama dalam konteks negara-negara seperti Indonesia dimana masyarakatnya sangat people oriented.

Materi “Pemberdayaan Perempuan dan Perdamaian:Peran Masyarakat Sipil” oleh Yenny Zannuba Wahid dalam Diskusi Terbatas: Peran Perempuan dalam Perdamaian.

Kita sama-sama tahu bahwa ada ruang-ruang yang tidak bisa dimasuki oleh negara, lembaga-lembaga internasional, tetapi hanya bisa dimiliki atau dimasuki oleh tokoh-tokoh di tingkat lokal. Dalam melakukan suatu kampanye dan promosi  di tingkat nasional juga di tingkat internasional, WF sering menjadi host untuk kelompok-kelompok masyarakat sipil bahkan juga government agencies dari beberapa negara yang masih tinggi tingkat konfliknya, mulai dari Afghanistan, Filipina, Myanmar dan lain sebagainya.

Peran masyarakat sipil adalah melakukan pendampingan kepada komunitas yang rentan dalam rangka membangun model resiliensi. Ini juga perlu dilakukan karena lagi-lagi resources (sumber daya) kita dari negara terkadang sangat terbatas sifatnya. Jika kita bisa melibatkan masyarakat sipil dalam melakukan pendampingan maka akan ada continues effort maka akan ada lebih banyak lagi durable impact yang terjadi pada tingkat komunitas ini.

Pendampingan ini juga menjadi penting karena tidak ada one fits solution, satu solusi disebuah komunitas belum tentu berjalan di komunitas lain. Dengan mengambil angle kesejahteraan, kesetaraan dan penghormatan terhadap keberagaman, pada Peace Village, partisipasi wanitanya sangat kental dan gender equality juga menjadi salah satu fokus besar.

“Kampung damai mendorong perempuan sebagai agen perdamaian. Kita dorong perempuan, kita fasilitasi dengan training untuk mengembangkan fungsi-fungsi sosial dan juga memperkuat resiliensi mereka dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya”, kata Yenny.

Ada beberapa pendekatan lintas sektornya yaitu sustainable ecomic growth, mekanisme pembangunan perdamaian dan penguatan peran perempuan.

Yenny memilih lintas sektor karena selama ini upaya-upaya dilakukan sudah baik tetapi dilakukan lebih shy low (berjalan sendiri-sendiri). “Semua bagus tetapi ketika dirangkum dalam sebuah gerakan besar yang dilakukan dalam gerakan yang komprehensif maka dampaknya yang kami rasakan”, ungkap Yenny.

Ketika WF melakukan pelatihan tentang peacebuilding mecanism tapi disisi lain juga membantu memfasilitasi agar masyarakatnya lebih sejahtera dan dibarengi dengan penguatan terhadap kesadaran mereka tentang dirinya seorang perempuan dalam membangun masyarakat yang lebih baik, lebih sejahtera maka dampaknya luar biasa.

WF juga menginisiasi masyarakat gemar menabung dengan mekanisme asuransi mikro. Kita sama-sama tahu bahwa banyak masyarakat dari tingkat akar rumput terutama yang tidak punya kesadaran untuk menabung padahal itu adalah mekanisme untuk memastikan di hari tuanya dia bisa tercukupi atau bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan riilnya, misalnya anak mau sekolah atau semacamnya.

Bahkan kelompok ibu-ibu diharapkan dalam berada pada kelompok yang beragam tidak hanya dari satu kelompok saja. Berangkat dari satu pemikiran bahwa rata-rata manusia very potential oriented. Berdasarkan bukti empirik di Sumenep, ada salah satu Ibu yang sebelumnya tidak paham dirinya memiliki hak perempuan kini dirinya mempunyai pikiran untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Selain itu, salah satu komponen utama dari Peace Village adalah pengembangan sistem deteksi dini dan early response system. Dimana ketika ada konflik yang terjadi maka masyarakat di desa tersebut punya mekanisme untuk mengatasinya.

“Kita berharap bahwa program-program ini kemudian bisa betul-betul memberikan efek yang bertahan lama di masyarakat baik ditingkat bawah terutama meningkatkan resiliensi. Pada dasarnya perdamaian itu harus diupayakan, tidak bisa taken for granted (diberikan cuma-cuma). Semua perdamaian hanya bisa terjadi kalau semua dilibatkan dan dalam hal ini peran perempuan bisa krusial sekali”, harap Yenny. (sdk)

Leave A Reply

Your email address will not be published.