Cakrawala News
Portal Berita Online

Waspadai Bahaya Pornografi dan Pelecehan Seksual di Ruang Digital

0 85

KABUPATEN CIREBON JABAR CAKRAWALA.CO – Sekarang ini pornografi telah masuk ke konten-konten digital, termasuk dalam game. Pelecehan di era digital ini juga berbentuk verbal dan non-verbal.

Pornografi sendiri merupakan gambar, sketsa, illustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya yang memuat kecabulan yang melanggar norma kesusilaan di masyarakat. Sementara, pelecehan seksual adalah upaya penyerangan yang bersifat seksual.

Sangat disayangkan, korban pornografi dan pelecehan seksual banyak terjadi pada anak-anak karena pelaku merasa anak-anak adalah target yang lemah dan mudah dipengaruhi, ungkap Ria Ariyanie seorang praktisi humas dan komunikasi dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (11/10/2021).

Pornografi pada anak lebih bersifat merusak karena akan mempengaruhi kerja bagian otak bernama Pre-Frontal Cortex (PFC). Bagian ini mengatur fokus seseorang, cara mengambil keputusan, mengendalikan diri, berpikir kritis, dan merencanakan masa depan. PFC dapat dikatakan sebagai pusat pertimbangan dan keputusan, serta pembentuk kepribadian juga perilaku sosial seseorang.

Oleh karena itu, kita harus waspada terkait bahaya pornografi yang setara dengan narkotika. Pornografi bisa menyebabkan kecanduan, tingkatannyapun berbeda-beda. Biasanya, seseorang dikatakan sudah mulai kecanduan pornografi ketika seseorang menonton sebulan sekali dan mencoba menahan diri. Hingga tingkatan paling tinggi yakni ketika seseorang merasa tidak berdaya ketika tidak melihat konten pornografi.

Konsekuensi kecanduan paling tinggi akan mengarah ke hal negatif, ke kriminalitas. Ini yang kecanduannya sudah parah dan PFCnya sudah rusak sekali, jelas Ria.

Orang yang kecanduan pornografi lebih senang menyendiri dan enggan melepas gadget, mudah marah dan tersinggung, serta sering tampak gugup saat berinteraksi dengan orang lain.

Di dunia digital, selain pornografi terdapat ancaman serupa, yaitu grooming online, sexting, sextortion, kekerasan langsung, dan modus konten negatif pada game.

Dengan itu, kita perlu mengubah dan menjauhkan anak dari bahaya pornografi. Orang tua atau orang dewasa harus menanamkan pendidikan sejak dini untuk memiliki rasa empati, mengoptimalkan potensi anak, serta berikan pendidikan seks sesuai usia anak dan risikonya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (11/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Billy Kwananda (Wakil Ketua Bidang Pengembangan Bisnis GEKRAFS Jawa Timur), Opah Ropiah (Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan), Ahmad Rofahan (Ketua RTIK Kabupaten Cirebon), dan Kevin Joshua sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.