Cakrawala News
Portal Berita Online

Waspada Temuan Kasus Baru, Nakes Diminta Tingkatkan Pendisiplinan Protkes

0 101

CAKRAWALA GORONTALO – Tenaga kesehatan (nakes) yang sering terlibat dalam penagangan Covid-19 diminta agar lebih mengingkatkan dispilin penerapan protokol kesehatan.

Demikian harapan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dr. Yana Yanti Suleman sebagai respon temuan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) terkait dua kasus positif Covid-19 yang berasal dari Inggris.

“Informasinya, mutasi ini sangat mudah menular. Untuk itu penerapan protokol kesehatan secara ketat menjadi kewajiban kita semua,” ungkapnya.

Di sisi lain dirnya mengatakan proses vaksinasi harus dipercepat sebagai salah satu upaya memutus rantai penularan Covid-19.

Yana berharap masyarakat tidak panik dan tetap mengakses informasi melalui sumber terpercaya untuk mencegah misinformasi maupun berita hoaks.

“Saat pandemi Covid-19 banyak informasi yang beredar di masyarakat dan bisa membuat kepanikan. Padahal, belum tentu apa yang disampaikan benar adanya. Verifikasi sebelum menyebarkan berita atau informasi yang belum jelas,” ucapnya.

Sebelumnya, Kemenkes menerima informasi adanya dua kasus positif COVID-19 dengan mutasi virus corona dari Inggris atau B.1.1.7 pada Senin, 1 Maret 2021.

Dua kasus tersebut merupakan hasil temuan dari 462 sampel yang diperiksa. Mutasi virus Corona B.1.1.7 sebelumnya pertama kali diumumkan di Inggris pada Desember 2020.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan virus corona adalah tipe virus RNA (ribonucleic acid) yang secara alami dan mudah mengalami mutasi. Selain itu, memepunyai kemampuan untuk bertahan hidup.

“Hingga saat ini, kami belum mendapatkan bukti ilmiah bahwa virus mutasi COVID-19 ini lebih tinggi tingkat keganasannya dibanding virus COVID-19 yang awal. Namun, dari beberapa penelitian di negara lain menunjukkan varian virus baru ini lebih cepat menular,” kata dia.

Kata dia, mutasi terjadi pada bagian tanduk atau spike dari virus yang menyebabkan virus lebih mudah masuk ke sel sasaran. Sehingganya penularannya akan lebih cepat dibanding varian yang lama.

Kecepatan penularan mutasi virus tersebut tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit. Namun, penelitian terkait varian baru ini terus dilakukan.

Para peneliti yang mendalami virus Corona B.1.1.7 mengonfirmasi bahwa efektivitas inokulasi terhadap virus masih ada di level yang bisa diterima sehingga sejauh ini belum mengganggu kinerja vaksin.

“Vaksin yang sekarang digunakan pemerintah masih efektif untuk mencegah penularan mutasi virus sehingga tidak akan mempengaruhi kekebalan kelompok,” ujar dr. Nadia.

Dirinya menuturkan masyarakat harus untuk tetap tenang dan tidak perlu resah. Kemudian tetap waspada meskipun tingkat keganasan varian baru virus COVID-19 ini belum diketahui.

“Namun, dengan kemampuan penularan yang lebih tinggi, kami mengimbau masyarakat harus lebih waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan harus lebih diperketat, serta mensukseskan program vaksinasi COVID-19,” ucapnya.

Menghadapi libur panjang akhir pekan ini, Nadia, mengimbau pada masyarakat untuk menahan diri dan tidak bepergian keluar rumah dulu.

“Mengingat setelah libur panjang, umumnya terjadi peningkatan kasus positif COVID-19 dari kluster keluarga,” tutur dr. Nadia.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes dr. Slamet mengatakan sejumlah langkah telah dilakukan pemerintah.

Salah satunya memastikan untuk terus memperkuat upaya 3T (Testing, Tracing dan Treatment) demi mencegah varian baru corona B117 meluas.

Ia menjelaskan temuan ini menunjukkan kemampuan dan kapasitas dari laboratorium Balitbangkes dalam melakukan metode Whole Genome Sequencing (WGS).

“Mutasi virus corona B.1.1.7 yang terdeteksi pertama di Inggris betul telah terdeteksi di Indonesia. Mutasi virus ini lebih menular, orang yang terinfeksi varian ini juga dapat menularkan virus dalam jumlah yang lebih besar,” kata dr. Slamet.

Slamet juga menjelaskan kegiatan WGS ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan surveilans genom virus SARS-COV-2 yang telah dilakukan sejak virus ini masuk ke Indonesia.

“Data hasil pemeriksaan genom ini diunggah ke repository Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID),” bebernya.

Slamet menambahkan karakter dari varian mutasi B117 ini tidak terbukti lebih parah infeksinya.

“Belum ada hasil penelitian yang mengatakan bahwa varian ini lebih ganas dan menyebabkan sakit yang lebih parah. Virus ini tetap dapat di deteksi dengan swab antigen dan swab PCR,” tandas dr. Slamet.

(Aden)

Leave A Reply

Your email address will not be published.