Cakrawala News
Portal Berita Online

Waspada Kecemasan yang Sering Dialami Netizen

0 117

KABUPATEN GARUT JABAR CAKRAWALA.CO – Dunia digital memberikan pengalaman baru dan rasa bagi penggunanya, mulai dari kreativitas, semangat, kebahagiaan, kesedihan hingga kecemasan. Kecemasan ini yang nampak menjadi sebuah pengaruh baru saat seseorang bermedia digital. Kecemasan yang tidak dirasakan seseorang atau malah terlihat biasa namun sebenarnya jika dilihat lebih mendalam berdampak psikologis.

Dewi Tresnawati dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut menceritakan, kecemasan yang dialami para netizen ialah Fear of Missing Out atau yang kerap disebut FOMO. Ungkapan itu digunakan untuk menyebut pola perilaku anak muda yang selalu merasa khawatir berlebihan dan merasa ketakutan akan tertinggal tren yang sedang terjadi.

Secara tidak sadar memang terjadi, seseorang kerap merasa wajib setiap hari mem-posting status di media sosial atau jika ada kejadian luar biasa terjadi. Seperti ketakutan jangan sampai orang lain tidak tahu apa yang terjadi sehingga kita berkewajinan untuk membagikan kejadian ini.

Bukan hanya soal barang kekinian yang harus dimiliki tetapi terkadang seperti challenge yang ada di media sosial. Challenge itu seperti harus kita lakukan padahal sebenarnya itu tidak sesuai dengan budaya kita atau tidak layak untuk ditiru, ujarnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (14/9/2021).

Misalnya, tren berjoged, tren prank hingga mem-posting sesuatu yang orang lain lakukan. Kecemasan lain adalah JOMO yang merupakan kebalikan dari FOMO. JOMO merupakan singkatan dari Joy of Missing Out atau bisa diartikan sebagai perasaan tidak peduli karena tidak melakukan atau mengikuti tren sesuatu tertentu. Orang-orang ini merasa tidak ingin mengikuti perkembangan zaman dan juga teknologi. Apa yang dilakukan mereka dapat dikatakan berlebihan karena tidak ingin terkoneksi internet.

Padahal internet tidak hanya berisi sesuatu yang viral dan negatif saja tetapi digunakan bila digunakan secara bijak kita dapat mengambil banyak manfaatnya. Kita sebenarnya bisa mengikuti tren tapi tren yang positif misalkan melakukan sedekah subuh, berbagi makanan atau melakukan crowd funding untuk membantu sesama dan lain-lainnya, saran Dewi.

Maka, agar kita terhindar dari kecemasan-kecemasan, sebaiknya dalam media digital harus lebih bijak dalam menentukan apa yang kita lakukan. Tidak masalah mengikuti tren tetapi yang positif atau memang sesuai dengan budaya kita atau bahkan tren yang menyusahkan orang lain.

Lalu dalam bermedia digital sebaiknya kita menghindari Echo Chamber dan filter bubble agar kita lebih berpikiran luas kita tidak hanya berteman atau mengikuti satu pandangan saja. Mengikuti banyak orang dengan latar belakang beragam, membuat pemikiran kita tidak sempit sehingga kecemasan-kecemasan itu tidak tidak akan datang dalam diri. Jangan lupa untuk berkolaborasi dalam kampanye literasi digital, agar lebih memahami apa yang harus kita lakukan di dunia digital bukan untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat Selasa (14/9/2021) juga menghadirkan pembicara Diondy Kusuma (Owner Diana Bakery), Steve Pattinawa (Kordinator Literasi Digital ICT Watch), Katherine Jioe (Pebisnis Online), dan Shinta Putri sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.