Kim dan lima orang tamunya ditangkap polisi ketika sedang pesta “narkoba” di Diskotek Golden Crown, Jakarta Barat. Mereka masuk diskotek Golden Crown 5 Desember 2017 dan ditangkap 7 Desember 2017. Menurut berita Tempo.co, mereka dilepas pada 11 Desember 2017 setelah membayar Rp 1,6 miliar kepada polisi sebagai jaminan.

Menurut Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono uang Rp1,6 miliar itu tak pernah ada. Yang ada adalah mereka tidak terbukti mengonsumsi narkoba. Itu saja. Wakapolda Metro Jaya Brigjen Purwadi Arianto, juga mengaku sudah membaca hasil pemeriksaan Propam bahwa uang 1,6 miliar itu tidak ada, dan mengapa mereka dilepaskan setelah 5×24 jam karena tidak terbukti mengonsumsi narkoba. Hasil tes urine yang ada adalah adanya jenis zat ketamine. Selama ini ketamine tidak atau belum termasuk jenis narkoba yang bisa dipidana.

Jika anda mengonsumsi ketamine, meski efeknya sama dengan jenis narkoba lain yang dilarang, maka anda belum kena pasal karena tidak ada pasal yang bisa menjerat pemakai ketamine. Begitulah kesimpulan dengan logika sederhana.

Selama ini Undang-undang yang bisa menjerat para pemakai, pengedar dan pemroduksi narkoba diatur dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Narkotika didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini (UU 35/2009).

Sedangkan, menurut UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, pengertian psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Undang-undang Narkotika dan Psikotropika telah mengatur penggolongan jenis narkotika dan psikotropika. Siafatnya lentur bisa berubah. Buktinya apa yang sebelumnya digolongkan sebagai psikotropika golongan I dan Golongan II telah dicabut, kemudian ditetapkan sebagai Narkotika Golongan I dalam UU 35/2009.

Inilah repotnya kalau undang-undang yang diciptakan mendefinisikan narkotika dan psikotropika membatasi pada golongan-golongan, maka yang terjadi kemudian tidak sesuai dengan perkembangan temuan kesehatan. Ada jenis narkotik maupun psikotropika yang tidak masuk dalam golongan dimaksud. Apa salahnya para ahli hukum mendefinisikan narkotika dan psikotropika dalam kategori umum sehingga narkotika pada jenis apapun bisa dipidana, karena memiliki efek merusak. Dengan demikian Undang-undang bisa bertahan lama karena fleksibel.

Seperti dalam hukum Islam, ketika menetapkan haramnya “khamar”, definisinya sangat umum yaitu apa saja yang bisa memabukkan. Mulai dari ciu cap tikus sampai berbagai jenis minuman keras yang mungkin belum ada namanya.

Itulah kelemahan hukum positif kita yang ternyata tidak mampu mengantisipasi perkembangan dunia kesehatan, farmasi dan teknologi. Jika penegakan hukum kita terlalu hitam putih, yuridis dogmatis, maka sampai kapanpun dunia narkoba tak pernah bisa bebas dari bumi Indonesia. Kelemahan hukum bisa dimainkan oleh siapa saja.

Ketamine narkoba jenis baru

Badan Narkotika Nasional (BNN) pernah melansir hasil penelitian narkoba jenis baru (new psychoavtive substance/NPS) yang masuk ke Indonesia. Hasilnya puluhan jenis sudah mulai beredar, beberapa di antaranya belum diatur dalam Undang-Undang Kesehatan. Jumlah narkoba jenis baru itu berjumlah 37 jenis. Sebanyak 18 di antaranya telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 13 tahun 2014, tentang Kesehatan. Sebanyak 19 jenis NPS lainnya belum diatur atau digolongkan sebagai narkoba/psikotropika karena itu tidak bisa dijerat undang-undang. Salah satunya adalah Ketamine.

Dikutip dari dunia bebasnarkoba.org, ketamine, digolongkan sebagai “anestetis disosiatif”, digunakan dalam bentuk bubuk atau cairan sebagai anestetis, biasanya digunakan untuk hewan. Zat ini dapat disuntik, diminum, dihirup, atau ditambah pada batang penghisap atau rokok. Ketaminedimasukkan dalam daftar bahan-bahan yang diawasi di AS pada tahun 1999.

Efek jangka pendek dan jangka panjang termasuk peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, rasa mual, muntah, perasaan kebal, depresi, amnesia, halusinasi dan masalah pernapasan yang berpotensi fatal. Pengguna ketamine juga bisa menjadi ketagihan. Pada penggunaan dosis tinggi, pengguna mengalami efek “Lubang-K”, pengalaman “keluar dari tubuh” atau “hampir mati”.

Oleh karena ia menimbulkan perasaan terlepas seperti mimpi, sehingga si pengguna menjadi sulit bergerak. Ketamine telah digunakan sebagai narkoba “perkosaan-kencan”.

Sesungguhnya jika dibanding-bandingkan dengan jenis psikotropik lainnya, ketamin efeknya sama atau hampir sama dengan methylone (MDMC) Turunan Cathinone yang bisa memberikan stimulan, halusinogen, insomnia, dan sympathomimetic. Juga hampir sama dengan mephedrone (4-MMC) Turunan Cathinone stimulan, yang bisa meningkatkan detak jantung, dan harmful.

Jadi JIKA BENAR polisi beralasan keenam warga Korea yang pesta narkoba itu dilepas karena tidak ada bukti mengonsumsi narkoba, kecuali hanya mengonsumsi ketamine, maka sah adanya.

Pertanyaaannya kemudian adalah apakah benar ada angka 1,6 miliar sebagai jaminan agar bisa lepas, sudah jelas dijawab Kombes Argo Yuwono, bahwa semua itu tidak ada. Tapi mengapa orang yang ikut menyerahkan duit bisa bercerita bahwa itu benar adanya, bahkan menurut berita Tempo.co penyerahannya di restoran dekat Polda Metro? Hanya Tempo yang tahu. Wallahu a’lam.***

Artikel ini sudah tayang di UCNews