Cakrawala News
Portal Berita Online

UMKM Garut Lakukan Berbagai Cara Agar Tetap Bertahan di Masa Pandemi Covid-19

0 194

GARUT JABAR CAKRAWALA.CO  – Hampir 15 bulan lebih Pandemi Covid-19 masih bertahan di Indonesia, dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini sangat terasa, entah itu dari bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan bidang-bidang lainnya. Salah satunya dirasakan oleh para pelaku usaha yang harus terus berinovasi guna mempertahankan eksistensinya di tengah-tengah masa sulit pandemi Covid-19 di Indonesia.

Seperti salah satu pelaku usaha di Kabupaten Garut, yakni Lutfi Muhammad Sidik sebagai pemilik Astiga Leather atau perusahaan yang berkecimpung di kerajinan kulit, menyebutkan bahwa ia merasakan penurunan penjualan hingga 80-90 persen akibat pandemi ini.

“Penjualan di Astiga selama masa pandemi memang menurun selama 2 tahun terakhir pandemi ini, terakhir penurunan itu sangat besar hampir 80-90%, cuman mungkin dalam waktu terakhir ini meningkat, cuma bulan juni ini agak sedikit menurun lagi dikarenakan pandemi mulai lagi naik lagi kasusnya, sehingga kita harus cari cara lain untuk kita bisa penjualannya lebih baik,” ujar Lutfi saat diwawancarai di lokasi Astiga, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Kamis (10/6/21).

ads harlah pkb

Ia menuturkan selain pendapatan yang menurun drastis, angka produksi di Astiga pun mengalami penurunan, dari awalnya memproduksi 15 jaket per hari, namun akibat pandemi ini hanya bisa melakukan produksi sekitar 7 atau 8 jaket per hari.

“Sebelum pandemi untuk produksi baik untuk pesanan ataupun stock lumayan banyak, yang biasanya perhari 15 jaket sekarang dikurangi setengahnya per hari, hal ini dikarenakan daya beli masyarakat sekarang menurun, sehingga kita mengurangi produksi untuk stock tapi untuk pesanan kita menerima terus tergantung kuantitasnya, ketika memang pesanannya banyak ya kita juga menambah kapasitas produksi dan apabila permintaanya sedikit kita juga mengurangi kapasitas produksi,” tutur Lutfi.

Guna mempertahankan kondisi usahanya, Lutfi mengubah sistem penjualan dengan mengkolaborasikan sistem penjualan offline atau di galerinya, dengan sistem penjualan online memanfaatkan media sosial.

“Untuk saat ini cara yang efektif yaitu promosi secara gencar di online, mulai dari promosi dan penjualan harus sudah online, nah itupun yang sudah kami lakukan di Astiga yaitu aktif di media sosial dan juga kita membuat website untuk berjualan online serta untuk menarik minat pasar,” katanya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ruda Pratama, owner Viera Sutra Alam, yang memanfaatkan pasar online untuk memasarkan produk yang mereka jual, terlebih saat pandemi seperti ini orang-orang banyak menghabiskan waktunya di rumah saja dengan berselancar di dunia maya, sehingga, menurut Ruda, itu merupakan sebuah peluang yang harus dimanfaatkan oleh setiap pelaku usaha.

“Di masa pandemi ini memang saya pribadi itu kaget dengan situasi sekarang, cuman memang Viera Sutra Alam ini memang udah berjalan itu penjualannya di online juga jadi gak hanya di offline, galeri kita juga memasarkan via online. Online itu kita media sosialnya pake instagram. Nah di masa pandemi itu kita justru malah dimana orang-orang di rumah aja dan kita memanfaatkan momentum itu, jadi kita lebih sering memposting, kita lebih sering mengupload produk baru,” ungkap Ruda, di Galeri Viera Sutra Alam, yang berlokasi di Jl. Raya Bandung – Garut No.34-14, Jati, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut.

Ia mengatakan, dampak lain dari pandemi ini karena penjualan secara langsung ke galeri berkurang, membuat pihaknya memiliki waktu banyak untuk melakukan inovasi dengan harapan setelah pandemi usai banyak produk baru yang bisa ia hasilkan dan ia jual.

“Di online itu pertama memang otomatis kita harus memperkenalkan terus tenun garut -nya ini, bahwa di masa pandemi itu kita nggak cuma itu-itu aja justru malah istilahnya berkarya terus kemudian berinovasi lagi setelah pandemi kita berharapnya kita mempunyai produk-produk yang memang ada yang baru lagi ya inovasi terus kita berusaha untuk mempertahankan pengrajin-pengrajin tenun kita, pengrajin tenun sutra alam,” ujarnya.

Terlebih sebelum pandemi lalu, menurut Ruda, Tenun Garut sedang naik daun karena banyak dicari oleh para konsumen, entah itu yang membeli secara online ataupun membeli tatkala Viera sedang mengikuti sebuah pameran fesyen.

“Ya sebetulnya karena Tenun Garut ini memang sekarang lagi disenengin sama customer yang pecinta batik sama tenun, jadi sebelum pandemi kita sering pameran juga, banyak customer ambil juga dari pameran kemudian di online juga bagus, jadi memang sebelum pandemi ini Tenun Garut emang lagi banyak dicari gitu kan,” lanjut Ruda.

Namun, perubahan sistem penjualan ke sistem online ini tidak begitu dirasakan oleh salah seorang Pengrajin Akar Wangi Garut, Joana Li, karena ia menilai produk yang ia hasilkan memiliki dasar untuk souvenir, sedangkan souvenir indentik dibagikan saat ada acara-acara yang memuat orang banyak, dan itu menurutnya bertentangan dengan situasi pandemi seperti ini.

“Online untuk kerajinan kurang signifikan, karena kan kerajinan itu kita lebih basic-nya kita untuk di souvenir, untuk bagi-bagi. Nah saat pandemi ini kan jarang berkumpul membuat acara, jadi artinya tidak ada souvenir yang dibagikan. Jadi kalau dengan oline hanya misalnya untuk kebutuhan pribadi ya, pribadi cuma satu, satu, satu,” kata Joana Li, pemilik Zocha Graha Kriya, di galerinya, Jalan Pakuwon, Kecamatan Garut kota, Kabupaten Garut.

Di tengah situasi sulit seperti ini, ia berharap pemerintah bisa membantu para pengrajin yang saat ini sedang mengalami kesulitan dengan membeli produk buatan pengrajin sendiri, sehingga para pengrajin bisa tetap bertahan di masa sulit ini.

“Harapannya, karena ya kita sekarang hopeless (putus asa) ya. Harapannya pemerintah membantu kita, membantunya dengan memberi pekerjaan, pekerjaan misalnya yang udah biasa mereka beli di toko, janganlah beli di toko tetapi belilah di pengrajin-pengrajin kan sama-sama beli, sama-sama harus keluar uang. Dengan seperti itu akan menghidupi kami. Misalnya pemerintah itu mau tidak mau harus beli keperluan di kantor, untuk kebutuhan sehari-sehari, untuk tempat tisu, meja, kursi dan lain-lain. Nah kenapa harus membeli yang bermerk di luar, kenapa tidak memakai produk pengrajin sendiri dengan begitu banyak sekali yang akan terhidupi,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat STIE Yasa Anggana, Dadang Syafarudin, memaparkan di masa pandemi ini para pelaku usaha harus melakukan reorientasi bisnis, sehingga pelaku UMKM harus lebih luwes dan fleksibel dalam melayani kebutuhan pasar.

“Data Asosisasi Pengguna Jasa Internet terdapat peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia dari 266,91 juta penduduk hampir 196,71 juta jiwa menggunakan internet, artinya ada indikasi pergesesaran prilaku pasar sehingga harus ditangkap oleh para pelaku UMKM untuk dapat mendulang kembali penjualan dengan memanfaatkan Teknologi Internet, termasuk para pelaku UMKM masuk ke platform pasar pasar digital (market place) seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, tapi tentunya hal ini harus dibaringi oleh keterampilan para pelaku UMKM dalam menjelajah platform digital dimaksud,” ucap Dadang saat diwawancarai melalui aplikasi pesan singkat WA, Minggu (13/6/21).

Ia menilai banyaknya para pelaku usaha di Kabupaten Garut yang beralih ke penjualan online di pandemi ini, adalah sebuah peningkatan yang cukup tinggi dan faktanya banyak para pelaku UMKM yang bisa bertahan karena mereka sudah bisa beradaptasi dengan teknologi internet atau menggunakan platform digital untuk mendorong peningkatan penjualannnya.

“Tentu saja harus disikapi dengan cara para pelaku UMKM untuk senantiasa beradaptasi dan belajar secara terus menerus tentang teknologi internet yang akan menjadi media penjulan mereka dimasa pandemi, selain itu harus disikapi secara optimal bagiamana layanan platform digital seperti digital marketing dengan cara menemukan kembali siapa yang menjadi sasaran dan target pasar UMKM, dan temukan juga bagaimana dan di mana konsumen dapat menemukan produk, apakah melalui media sosial, search engine, market place kalau sudah diketahui optimalkan platform digital dimaksud,” paparnya.

Dadang menyarankan para pelaku usaha yang masih melakukan penjualan secara offline atau langsung di toko-toko atau galeri masing-masing, untuk mengkolaborasikan dengan penjualan online karena saat ini sudah waktunya menuju penjualan online.

“Saran tetap harus berjuang dengan gigih, reorientasi kembali strategi pemasaran yang telah dibuat apabila sebelumnya melakukan secara offline sudah waktunya untuk menuju online melalui pemanfaatkan digital marketing, dan apabila sudah memanfaatkan platform digital silahkan optimalkan kembali dengan cara jangan pernah puas dengan hasil yang sudah ada.” pungkasnya.***jmb

Leave A Reply

Your email address will not be published.