Cakrawala News
Portal Berita Online
Banner Sky Kiri
Banner Sky Kanan

Top! Anak Muda Raja Gojek Jadi Mendikbud

Oleh Syaefurrahman Al-Banjary

Pengumuman kabinet Joko Widodo jilid 2 sudah dilakukan kemudian mereka juga langsung dilantik. Yang mengejutkan adalah nama raja Gojek (mantan CEO PT Gojek Indonesia) Nadiem Makarim yang menempati posisi Mendikbud. Lalu pertanyaannya adalah apa pertimbangan Presiden Joko Widodo sehingga anak kemarin sore tiba-tiba jadi Mendikbud.

Bagaimana ketika para rektor yang sudah senior dan para guru besar dengan keilmuannya yang mendalam dan risetnya yang luas diceramahi anak muda ini. Apakah anka muda ini akan bicara pengalamannya membangun start up aplikasi transportasi sehingga menjadi inspirasi mahasiswa untuk masuk gelombang revolusi industri 4.0 yang serba digital.

Pria 35 tahun itu memang menjadi salah satu sosok yang mencolok di kabinet baru, sebab ia menjadi menteri termuda di kabinet ini.
Nadiem makarim lahir di Singapura, 4 April 1984, adalah anak ketiga pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Ayah Nadiem merupakan aktivis sekaligus pengacara yang ternama di tanah air. Ia menghabiskan masa sekolah dasar dan menengah pertama di Indonesia, lalu melanjutkan pendidikan menengah atas di Singapura.

Lepas dari SMA, Nadiem melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas Ivy League di Amerika Serikat. Jenjang strata satu ia tempuh di Brown University jurusan Hubungan Internasional. Ia juga sempat ikut pertukaran pelajar di London School of Economics and Political Science di Inggris. Setelah menyabet gelar BA (Bachelor of Arts), Nadiem melanjutkan S2 ke almamater sang ayah, Harvard University hingga meraih gelar Master of Business Administration.

Joko Widodo memang pernah mengatakan akan menarik menteri-menteri muda. Jokowi mengatakan “akan membuat terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM yang siap kerja, siap berusaha, dan link and match antara pendidikan dan industri (Kompas.com, 23/10/2019)

Jika ini yang ingin dimaksudkan Joko Widodo maka Jokowi telah menegaskan prinsipnya bahwa pendidikan yang diinginkan adalah hanya memproduksi calon-calon pekerja, yang bisa masuk pada industri, menciptakan pekerjaan dan jadi tukang.
Padahal banyak ahli selalu menekankan bahwa tujuan pendidikan yang ingin dicapai bukanlah meciptakan tenaga kerja, ahli dan seterusnya. Keterampilan itu adalah bagian kecil dari tujuan pendidikan sesungguhnya.

Tujuan pendidkan sesungguhnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan pendidikan ini ditegaskan dalam UU UUD 1945 amandemen pasal 31 dan UU Pendidikan Nomor 20 tahun 2003.

Terlepas dari semua ini, kita memang perlu tabayun kepada Jokowi, siapa tahu ada pemikiran lain yang di luar apa yang selama ini kita dengar. Setidaknya para pembantunya bisa menjelaskan visinya, ya visi pendidikan masa depan, bukan hanya visi yang memperkuat ekonomi tetapi memperkuat kepribadian, akhlak dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Boleh jadi yang diinginkan Jokowi adalah semangat mudanya, yang bisa melakukan revolusi pendidikan, sementara soal kedalaman ilmu dan lain-lainnya akan ditangani oleh para guru besar. Wallahu a’lam (syaefurrahman albanjary/23/10/2019).

Facebook Comments
%d bloggers like this: