Cakrawala News
Portal Berita Online

Kisah Tommy Soeharto dari Buron Menuju Istana Presiden (1)

284

Oleh Syaefurrahman Al-Banjary.

Kisah ini saya awali dari keberhasilan Tommy Soeharto mendirikan Partai Berkarya yang lolos verifikasi sehingga ikut Pemilu tahun 2019. Melalui partai inilah Tommy Soeharto bertekad menguasai Istana Kepresidenan untuk bisa lebih berkarya, dan menyatakan masa lalunya adalah bentuk penzaliman terhadap dirinya sehingga ia nekad  kabur selama 387 hari.

Ia berhenti dari pelariannya berkat kecerdikan mata tajam Tito Karnavian waktu itu tahun 2001. Sejak itulah ia harus mendekam di penjara dalam tiga kasus, korupsi tukar guling tanah Bulog, kepemilikan senjata dan membujuk orang lain melakukan pembunuhan terhadap Hakim Agung Kartasasmita.

Saat ini ketika ada perbincangan publik hanya ada satu atau dua calon Presiden, adalah sebuah pembodohan publik. Masak iya dari 250 juta orang Indonesia tidak ada orang terbaik untuk memimpin negeri ini?

Maka jika Tommy Soeharto mendapatkan taqdirnya maju sebagai calon Presiden adalah jalan terbaik untuk menghapus dosa-dosanya masa lalu. Kita ingat apa kata Ebiet G Ade dalam nyanyiannya “Kalian Dengarkah keluahanku”:

Apakah buku diri ini selalu hitam pekat? Apakah dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan? Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum dengan sinar mataNya yang lebih tajam dari matahari.

Ke manakah sirnanya nurani embun pagi yang biasanya ramah kini membakar hati? Apakah bila terlanjur salah akan tetap dianggap salah? Tak ada waktu lagi benahi diri; Tak ada tempat lagi untuk kembali.

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang…

Dan akhirnya Tommy pun berdoa, ya Tuhan bimbinglah batin ini agar tak gelap mata dan sampaikanlah rasa inginku kembali bersatu … dan seterunya.

 

Nyanyain Ebiet G Ade ini rasanya tepat untuk menggambarkan sejarah panjang Tommy Soeharto, anak laki-laki kesayangan pak Harto yang pernah berkuasa di Republik iniselama 32 tahun.

Ketika Pak Harto masih berkuasa, Tommy seperti mendapat banyak kemudahan dalam hal bisnis, karena kekuasaan Bapaknya. Ya soal BPPC (Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh), Mobil Timor, jalan tol dan sebagainya.

Tapi Tommy belakangan menyatakan bahwa ia mendapatkan hal itu setelah 30 tahun bapaknya berkuasa. Tidak seperti presiden jaman sekarang, belum satu periode saja penguasaan bisnis mobil sudah dikuasai kroninya. Swasembada beras hanya dicapai pada zaman Bapaknya. Tommy mulai kritis apa yang terjadi saat ini. Nampaknya ia akan mengusung tag line “enak jamanku to?” dengan gambar bapaknya.

Setelah reformasi dengan turunnya Presiden Soeharto, keluarga Cendana memang menjadi target dengan pengusutan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Sampailah pada kasus Buloggate yang menjadi sebab Gus Dur jatuh. Di sisi lain, Tommy Soeharto bersama Ricardo Gelael juga diperkarakan dalam kasus tukar guling tanah Bulog di Kelapa Gading, Jakarta Timur dengan tanah 60 hektar di Marunda. Keduanya menggunakan payung usaha PT Goro Batara Sakti.

Di PT. GBS,  Tommy memiiki saham 80% dan Ricardo Gelael 20 %. Tapi, sebenarnya, tanah yang dimaksud bukan milik perusahaan itu sepenuhnya, karena ada 25 hektar milik pengusaha Hokianto (Presiden Komisaris Bank Hokindo), yang surat-suratnya masih berupa girik atas nama 19 orang.

Singkat cerita, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam sidangnya tanggal 14 Oktober 1999 menyatakan, Tommy Soeharto dan Ricardo Gelael tidak terbukti bersalah sehingga  membebaskan keduanya dari segala dakwaan. Putusan ini memperkuat putusan PN Jakarta Selatan sebelumnya (19 April 1999) dalam sidang terpisah yang membebaskan terdakwa mantan Kabulog Beddu Amang dalam kasus yang sama.

Jaksa lalu mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Pada 22 September 2000,  Majelis Hakim Mahkamah Agung yang dipimpin Hakim Agung Moh. Syafiuddin Kartasasmita, memvonis Tommy bersalah dan menghukum Tommy  dan Gelael 18 bulan penjara. Tommy juga dihukum membayar ganti rugi Rp 30 miliar dan denda Rp10 juta. Jika denda itu tidak dipenuhi dapat diganti hukuman kurungan tiga bulan.

Putusan kasasi itu menyebutkan Hutomo Mandala Putra harus sudah berada di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur, sejak 2 November 2000 melaui keputusan MA nomor Registrasi 01/K/Pid/2000 yang dikeluarkan tanggal 22 September 2000.

Atas putusan kasasi tersebut, Tommy jelas tidak terima. Ia berharap putusannya berpihak padanya seperti putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang membebaskannya sebagaimana bebasnya Beddu Amang dalam kasus tukar guling juga.

Tommy akhirnya mengajukan Grasi, tapi ditolak. Lalu ia kabur. Tapi ketika kabur, pengacaranya nengajukan PK melalui pengacara BED Siregar. Terjadi pencarian hingga menggeledah rumah Pak Harto di Cendana. Tapi tak ketemu. Baru setelah 387 hari, Tito Karnavian yang waktu itu masih berpangkat  Komisaris Polisi menangkapnya di Bintaro Jaya Pondok Aren Tangerang. Bagaimana liku-liku pelariannya, ikuti terus tulisan ini, edisi 2. (fur/13/3/2018).

Comments are closed.