Cakrawala News
Portal Berita Online

Think Before Posting

0

KABUPATEN CIANJUR JABAR CAKRAWALA.CO – Permasalahan di ruang digital di Indonesia mulai dirasakan saat netizen Indonesia dikatakan sebagai warga digital yang paling tidak sopan se-asia Tenggara. Seakan kita dihadapkan pada sebuah fenomena baru, adanya perbedaan antara dunia maya dan dunia nyata. Ketika masyarakat bersosialisasi di kehidupan sehari-hari, tidak akan berani untuk berkata kasar, mengucapkan ujaran kebencian hingga mampu merendahkan orang lain secara terang-terangan.

Gigin Gintani Putri, guru SMKN 2 Cimahi mengatakan, berbeda ketika sudah masuk dalam dunia digital seakan mereka bukan dirinya sendiri, bukan warga negara Indonesia yang ramah dan memiliki landasan Pancasila. Seakan mereka menjadi sosok yang bebas tanpa membawa latar belakang apapun. Maka dari itu, dengan mudahnya berbuat sesuka hati mereka di ruang digital.

Padahal kenyataannya ketika keluarga Indonesia berada di ruang digital mereka membawa nama diri mereka sendiri dan negaranya. Sebenarnya, urusan etika digital ini menjadi tanggung jawab siapa?

Gigi menjawab, tentunya para pengguna media digital, bertanggung jawab dalam memelihara kesantunan di ruang digital. Karena mayoritas para pengguna digital ini adalah generasi Z dan Alfa atau para anak muda. Sehingga ini menjadi tugas berat bagi para orangtua dan orang dewasa yang berada di sekeliling para anak muda itu untuk memberikan edukasi atau literasi digital bagi mereka.

“Pihak keluarga dan sekolah dapat memberikan pengajaran mengenai etika sopan santun komunikasi sehari-hari. Diharapkan itu semua dapat diimplikasikan pada pola komunikasi di media sosial,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (29/11/2021).

Internet memang hadir seperti pisau bermata dua, di satu sisi sangat positif membantu kita dalam kehidupan sehari-hari terutama saat pandemi kita tidak bisa beraktivitas bagaimana mestinya. Di sisi yang lain sangat berbahaya, tentu jika digunakan untuk hal-hal yang negatif. Jika dilakukan sebebas-bebasnya tanpa memikirkan etika digital yang harus dilakukan.

Pentingnya etika digital karena nyatanya meskipun dari jarak jauh kita bisa menyakiti hati orang lain hanya melalui kata-kata yang kita ketikkan. Pesan apapun yang sampai kepada orang lain di waktu yang tidak tepat, saat mereka memiliki kestabilan emosi yang tidak baik mereka akan menerima itu langsung menusuk ke dalam perasaannya terdalam. Sehingga tidak jarang banyak korban korban dari bullying ini atau korban dari ujaran kebencian ini ingin melakukan bunuh diri.

Hal ini banyak terjadi pada kalangan public figure yang banyak menerima ujaran kebencian setiap waktu. Konten-konten negatif di media sosial ini juga banyak jenisnya bisa berupa konten tidak berfaedah atau tidak jelas seperti memberi sampah kepada pengemis.

“Itu sebuah hal yang diluar etis dari masyarakat. Membuat banyak orang tidak nyaman sehingga layak untuk dihukum sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku. Banyak hal ini di media sosial yang di luar dari batas etis yang harusnya dilakukan oleh seseorang memang tidak menyakiti fisik atau langsung menuju ke satu orang tetapi dapat melukai hati banyak orang sehingga mungkin saja dapat menimbulkan konflik atau perpecahan,” jelasnya.

Seperti pengguna Tiktok yang menampilkan suara disko di area masjid, tentu ini sangat melukai hati umat Islam maka dari itu pihak kepolisian sangat tepat jika menangkap membuat konten tersebut. Tujuannya, agar para engguna internet yang lain bisa lebih hati-hati waspada tidak mengulangi perbuatan serupa walaupun tidak ada niat untuk melecehkan agama manapun. Jadi cara paling mudah untuk hidup bermedia sosial di zaman sekarang adalah think before posting. Berpikir berulang sebelum membagikan di ruang digital, menyalahi etis atau tidak, membuat orang marah, sakit hati atau menyinggung tidak. Konten yang menyinggung orang lain itu juga sudah termasuk konten negatif. Jadi penting untuk berpikir ulang sebelum posting.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (29/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Sugiarti (Instruktur Virtual Cordinator Training Jawa Barat), Chairi Ibrahim (TMP Event), Aldiyar (instrutur Edukasi4ID), dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.