Cakrawala News
Portal Berita Online

Terdampak Pandemi Covid-19, Warga Madiun Ini Raup Untung Dari Cacing Lumbricus

0 82

MADIUN, CAKRAWALA.CO – Hampir seluruh sektor terdampak pandemi-19 (virus Corona). Dalam upaya memutus mata rantai persebaran Covid-19 pemerintah memberlakukan berbagai pembatasan, yang secara tidak langsung berimbas pada kelangsungan hidup masyarakat dengan berbagai profesi, tak terkecuali sopir mobil rental.

Adalah Varian Argasyam Isbandi (27) atau akrab disapa Rian, warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. Berhenti bekerja sebagai sopir mobil rental karena sepinya penumpang saat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020, sempat membuatnya bingung. Rian harus memutar otak, bagaimana caranya agar ia tetap bisa menghidupi anak dan istrinya.

Bapak dua anak ini menuturkan ceritanya, ketika dalam kondisi bingung karena tak lagi berpenghasilan, dirinya menemui kakaknl kandungnya yang tinggal di Kabupaten Ponorogo. Kemudian Rian dikenalkan dengan salah seorang warga setempat yang sukses berbisnis budidaya cacing lumbricus rubellus. Disana Rian memperoleh ilmu bagaimana beternak hewan invertebrata berkandungan protein tinggi ini.

ads bukopin

Menggunakan sisa tabungan dan uang pinjaman, akhirnya pada awal bulan Juli 2020, Rian memantapkan niat dengan memanfaatkan lahan kosong dibelakang rumahnya untuk beternak lumbricus rubellus. Dengan modal 35 juta rupiah, ia gunakan untuk membeli bibit cacing, alat oven dan membuat kolam cacing dan rumahnya. “Modalnya dari sisa tabungan dan sebagian lagi dari pinjaman, sekitar 35 juta,” kata Rian.

Rian mengaku, sebenarnya untuk memulai bisnis beternak cacing ini hanya membutuhkan modal sebesar 10 juta rupiah. Dengan perincian 7,5 juta rupiah untuk mebeli bibit cacing dan sisanya untuk membuat kolam cacing. Kemudian untuk membuat tambahan alat oven khusus untuk cacing, Rian mengeluarkan dana sekitar 7 juta rupiah.

“Apalagi cacing kering yang saya jual, standar kualitas farmasi. Jadi suhu dan lamanya panggang sudah ditentukan,” lanjut suami Alisa Nada ini meneruskan ceritanya.

Dua bulan menggeluti bisnisnya ini, akhirnya Rian bisa menuai hasil panen pertamanya. Setelah itu dalam waktu sedikitnya dua minggu sekali, Rian dapat memanen 36 kilogram cacing basah. Dijelaskan Rian, untuk bisa memasarkan cacing – cacingnya ke pasaran, dirinya harus menjual dalam kondisi kering.

“Dipasaran cacing yang dijual harus kering. Kalau panen 36 cacing basah maka bila dikeringkan menjadi enam kilogram,” jelas Rian sembari menunjukkan lokasi ternaknya, Selasa 13 Oktober 2020.

Untuk 1 kilogram cacing lumbricus rubellus kering, ia jual dengan harga 500 ribu rupiah. Bila dalam sekali panen bisa memperoleh lumbricus rubellus kering seberat 6 kilogram, maka dalam dua minggu, Rian mendapatkan omzet sebesar 3 juta rupiah. Bahkan kedepan dirinya berencana akan menambah 6 kolam cacing lagi. Ini dikatakannya, karena permintaan cacing kering dari perusahaan jamu semakin banyak.

Sementara untuk memasarkan hasil panennya, Rian mengaku tidak mengalami kesulitan. Selain dibeli langsung oleh warga, karena bisa langsung dikonsumsi untuk menyembuhkan berbagai penyakit, diantaranya Maag, Thypus, Diare dan juga menambah stamina, Rian sudah memiliki langganan pabrik jamu herbal besar yang berada di Jawa Tengah.

“Biasanya ada warga yang beli untuk mengobati sakit maag, thypus sampai untuk menambah stamina,” ujar Rian.

Rian tidak ingin menikmati kesuksesannya sendiri saja, ia membagikan ilmunya dan mengajak warga di kampungnya untuk memperoleh penghasilan ditengah pandemi yang belum jelas kapan bakal berakhir, dengan membudidayakan cacing tanah ini. Bukan tanpa alasan, dikatakan Rian untuk saat ini karena permintaan cacing kering untuk pabrik jamu saja mencapai 7 ton, sementara dirinya baru bisa memenuhi sebanyak 2 ton saja.

“Kalau yang modalnya pas-pasan, kita sarankan cukup beli bibit dan membuat kolamnya saja. Nanti, saat mereka sudah bisa panen, kita akan bantu memasarkan,” katanya.*(Ayu)

Leave A Reply

Your email address will not be published.