Cakrawala News
Portal Berita Online

Terancam Punah Kini Badak Jawa Tinggal 76 Ekor dan Sumetera 80 Ekor di Dunia

0 382

BOGOR JAWA BARAT CAKRAWALA.CO,-Badak Jawa atau Rhinoceros sondaicus yang juga dikenal badak bercula satu dan badak Sumatera Dicerorhinus sumatrensis, kini terancam punah. Berdasarkan data Yayasan Badak Indonesia (YABI) kedua spesies Badak bercula satu hanya tinggal 76 ekor dan Badak Sumatera hanya 80 ekor di dunia.

Pakar Badak Amerika Serikat, Terri L Roth, menjelaskan, penyebabnya selain hewan ini agresif dan lebih suka menyendiri, juga masa berkembang biak atau bunting 16 bulan dan baru 4 tahun kemudian baru bisa kembali bunting. Badak betina hanya masa 1 hari saja dalam waktu 22 hari untuk siap dibuahi badak jantan. Berbagai faktor tersebut menyebabkan badak menjadi hewan yang langka dan sulit berkembang biak.

“Badak Sumatera ini sangat sulit di breeding dikembangbiakan. Tidak bisa dikawinkan seperti hewan lain seperti rusa sapi, kapan pun bisa dikawinkan, tidak. Mereka itu sangat agresif dan harus ada waktu-waktu tertentu akan dikawinkan,” kata Terri saat Rapat Kerja Yayasan Badak Indonesia di Royal Sofari Garden, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu 20 Juli 2022.

Terri menjelaskan, saat ini Yayasan Badak Indonesia sudah memiliki metode pengembangbiakan dan badak sudah memproduksi 3 ekor badak. Kemajuan yang dilakukan itu melalui banyak pendekatan dari experience (pengalaman), Saintifik banyak faktor ilmu.

“Sehingga bisa menghasilkan anak badak terakhir bulan maret. Dan itu sebagai informasi satu ekor badak hanya memproduksi satu ekor anak saja, dalam 16 bulan hamil. 4 tahun selanjutnya baru bisa hamil lagi. Dan agresif tidak bisa dikawinkan, harus ada waktu-waktu tertentu,” jelasnya.

Direktur Yayasan Badak Indonesia, Jansen Manangsang, menyampaikan YABI memiliki visi dan misi jelas untuk mempertahankan keberlangsungan populasi dan lingkungan badak di Indonesia.

“Kedua kita berupaya penangkaran dan meningkatkan populasinya, dan ketiga penting juga mengedukasi masyarakat bagaimana pentingnya dari badak ini, karena rumahnya tinggal di Indonesia saja,” jelasnya.

Lanjut Jansen menjelaskan, YABI akan sepenuhnya akan mengikuti arahan bersama KLKH. Dalam pengembangbiakan ini YABI akan berupaya melalyi teknologi ART Assisted Reproductive Technology (ART) atau kawin tabung. YABI belum mentargetkan jumlah populasi badak dalam pengembangbiakan, namun lebih meningkat keberhasilan dengan membenahi saintifik.

“Dan perlu dukungan masyarakat karena masyarakat masih menganggu hutan ilegal logging, sehingga harus komorehensif penangannya untuk memajukan program pelestarian badak. Upaya ini untuk meningkatkan populasi badak sehingga pastikan tidak punah di Indonesia,” paparnya.

Eksekutif Direktur Internasional Rhino Foundation (IRF), Nina Fascione menyampaikan, IRF mendukung penyelamatan satwa badak Indonesia dan siap berkerjasama dengan pemerintah Indonesia. IRF membawa harapan agar populasi badak bisa kembali seperti dulu..

“IRF sudah lebih dari 30 tahun di dunia, IRF tidak hanya di Indonesia, suport seluruh dunia khusunya di Indonesia suport kegiatan YABI,” katanya.

IRF, kata Nina, akan mendanai kebutuhan terkait pemerintah Indonesia dan YABI dan mendukung stategi dalam pelestarian badak.

“Salah satunya akan mencari dan terutama dari Amerika mensuport kegiatan di Indonesia.

Yang memiliki stategi itu adalah pemerintah, tugas IRF mensuport stategi pemerintah. Seperti melakukan di lokasi lokasi pengembang biakan membuat badak hamil dan dikembalikan lagi kehabitannya, IRF tidak memiliki strategi sendiri melainkan mensuport apa yang dilakukan pemerintah Indonesia dan YABI,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan populasi dan kelestarian badak di Indonesia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Yayasan Badak Indonesia dan Internasional Rhino Foundation, akan mengembangkan pusat konservasi badak Sumatera di Taman Nasional Way kambas Lampung dan Ujung Kulon Banten di tiga lokasi yang menjadi lokasi observasi konservasi badak.

Pemerintah Indonesia melalui KLKH terus berupaya melestarikan badak malalui insitu dan eksitu. Insitu adalah usaha pelestarian alam yang dilakukan dalam habitat aslinya, sedangkan eksitu adalah usaha pelestarian alam yang dilakukan di luar habitat aslinya.

Menurut Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genenika, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indra Exploitasia, menyampaikan Badak Jawa kini tinggal 76 ekor dan Badak Sumatera berjumlah 80 ekor.

“Sebenarnya badak itu tidak dalam kondisi kritis pemerintah Indonesia telah berupaya sehingga memperlihatkan adanya kelahiran badak jawa di insitu juga bertambah. Awalnya dulu 60 sekarang telah menyampai angka 76. Jadi sudah ada peningkatan populasi untuk di Badak Jawa,” jelas Indra.

Demikian juga sebenarnya di Pulau Sumatera, ada peningkatan populasi khususnya di Eksitu. Terdapat kelahiran-kelahiran yang dikelola oleh

SRS (Suaka Rhino Sumatera) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung yang memperlihatkan ada data kenaikan angka kelahiran Badak Sumatera.

“Namun demikian juga di way kambas dan di BBS habitat insitunya kami masih menemukan jejak-jejak badak. Itu yang menjadi harapan kita yang menandakan ada kenaikan populasi di habitat insitunya,” jelasnya.

Sementara untuk Badak Jawa atau badak bercula satu yang berada di Ujung Kulon sendiri sudah ada penambahan kelahiran badak. Tercatat, mulai 2019 sampai 2021 sudah ada angka kelahiran.

“Saat ini jumlah badak di sana terdata 76 ekor.

Perkembangbiakan badak Jawa di insitu. Dan tidak ada di kebun binatang, di SRS itu adalah semi hutan karena berada di taman nasional Way Kambas,” jelasnya.

Dari sisi program konservasi badak, kata Indra, KLKH bersama YABI akan mengembangkan di tiga lokasi observasi. Yakni lokasi pertama di utara yakni Aceh, di mana meningkatkan pengembangbiakan dengan Intensive protection Zone (IPZ) di Taman Nasional Gunung Leuser dan membangun SRS eksitu yang serupa dengan di Way Kambas Lampung.

Lokasi kedua di selatan Way Kambas, SRS akan dikelola oleh YABI. Di lokasi ini akan terus meningkatkan pengembang biakan anak badak yang kemudian mengarah kepada pembinaan populasi di knsitu di Taman Bukit Barisan way Kambas.

Dan lokasi terakhir di Timur, Kalimantan, Badak Sumantera yang ada di Kalimantan di SRS Hutan Lindung Kelian. Di mana lokasi ini ditemuka beberapa individu badak di habitat alam yang akan diselamatkan dan akan dikembalikan ke habitat alam.

“Yang saya harapkan YABI menjadi salah satu mintra dari KLKH membantu dalam hal konservasi badak dengan meningkatkan populasi baik di insitu maupun eksitu. Karena kita memiliki program yang disebut eksitu link to insitu, di mana nanti ketika eksitu berhasil akan berhasil di insitu,” kata Indra.

ABIZAR ALGIFARI GYMNASTIAR // CAKRAWALA.CO

Leave A Reply

Your email address will not be published.