Cakrawala News
Portal Berita Online

Tempat Pembuangan Sampah Piyungan Overload, Bank Sampah Harus Berperan Aktif

JOGJAKARTA CAKRAWALA.CO –  Masalah sampah menjadi permasalah sangat serius bagi Kota Yogyakarta, jika tidak ditangani dengan sungguh dan melibatkan semua pihak. Ratusan Bank Sampah di Yogyakarta diharapkan meningkatkan perannya untuk mengurangi pembuangan sampah ke Tempat pembuangan Sampah terpadu Piyungan yang sudah dinyatakan overload. Masalah tersebut dibahas dalam forum diskusi Wartawan unit DPRD DIY, Selasa (19/11/2019) dan menghadirkan narasumber Bambang Suwerda inisiator Bank Sampah dan Agus Setianto Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan DIY.

” Kondisi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan sudah overload. Namun, masih tetap diupayakan untuk digunakan. Setiap hari ada 600 ton sampah yang masuk ke TPST Piyungan. Ke depan akan ditata lagi. Ada anggaran Rp10 miliar dari DLHK untuk TPST di 2020,” ungkap Agus Setianto, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan DI Yogyakarta, dalam diskusi pengelolaan sampah di kantor DPRD DIY, Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Lebih lanjut dikatakan, TPST Piyungan merupakan tempat pembuangan sampah akhir untuk Provinsi DIY, yang berada di Kabupaten Bantul. TPST ini dibangun pada 1995 dengan luas 14,5 hektare.

” Sistem pengelolaan sampah di Piyungan masih pola lama. Sampah ditumpuk saja, sehingga belum terurai sepenuhnya. Ke depan, akan ada kerja sama dengan investor untuk mengelolanya. Bentuk pengelolaan dan nilai investasinya masih dibahas oleh tim di kantor Gubernur DIY,” jelasnya.

Agus Setianto menambahkan bahwa pihaknya juga berupaya mengurangi dari hulu, yakni dari rumah tangga, warung, dan restoran dan lainnya. Saat ini sedang menyusun peraturan gubernur yang mengatur masalah sampah. Tujuannya mengurangi sampah agar tidak semuanya dibawa ke TPST. Agus Setianto menjelaskan, jumlah bank Sampah di DIY cukup banyak namun tidak semua kondisi sehat.

” Saat ini, menurut data , ada 700 bank sampah dengan kondisinya tak semuanya sehat. Pada 2020, bank sampah akan dievaluasi agar tahu kendala dalam pengelolaan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Jaringan Pengelolaan Sampah Mandiri DIY, Bambang Suwerda mengatakan, bank sampah bisa berperan mengurangi sampah di TPST Piyungan hingga 6 persen. Dirinya sudah melakukan penelitian dan riset pada periode Oktober, November, Desember 2018 dengan sampel 17 bank sampah di Bantul.

“ Berdasarkan hasil penelitiannya, saat ini yang dibutuhkan adalah regulasi. Di Bantul sudah ada kewajiban ASN mengumpulkan 2,5 kilogram per bulan dibawa ke bank sampah. Nah Ini di tingkat provinsi belum ada,” ungkap Bambang Suwerda, pendiri Bank Sampah pertama di Indonesia.

Bambang Suwerda menjelaskan, ada beda identifikasi awal untuk bank sampah. Jumlahnya, menurut lembaganya, ada 1.500 bank sampah di DIY dengan kondisi 30 persen sehat. Sisanya tak sehat, karena pengelolaannya yang tak memenuhi standar.

“ Pihak yang membeli sampah dari warga tersebut, kondisi tempat penampungannya masih banyak yang tak standar. Misalnya, bangunannya semi permanen, sehingga kalau hujan datang, bisa memicu penyakit dari timbunan sampah. Hal Ini juga jadi masukan ke dinas,” ujarnya.

Bambang suwerda mengharapkan peran pemerintah untuk mengoptimalkan bank Sampah di DIY untuk menjadi salah satu solusi mengatasi permasalahan sampah di Yogyakarta.

” Bank Sampah harus dioptimalkan. Sebab Jepang saja tertarik dengan keberadaan bank Sampah. Oleh karena itu, peran pemerintah daerah diharapkan betul – betul nyata sehingga bank sampah dirasakan manfaatnya oleh semua pihak,” pungkasnya. ( Okta/ Santosa )

%d bloggers like this: