Cakrawala News
Portal Berita Online

Tantangan Peran Perempuan dalam Mediator dan Negosiator Perdamaian

0 33

JAKARTA, Cakrawala.co – Konsultan Mediator Beyond Borders, Shadia Marhaban menyampaikan pengalaman kerjanya dalam menghadapi Tantangan Peran Perempuan dalam Mediator dan Negotiator Perdamaian pada Diskusi Terbatas: Peran Perempuan dalam Perdamaian. Diskusi Terbatas diselenggarakan oleh Asisten Deputi Hubungan Luar Negeri, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pemerintahan, Sekretariat Wakil Presiden pada Senin (21/09/2020) pukul 09:00 WIB.

Menurutnya, peran perempuan bukannya tidak ada, peran perempuan sangatlah banyak. Namun, kendala-kendalanya juga banyak, terutamanya yang berkaitan dengan legitimasi. Legitimasi yang diberikan oleh negara terhadap sosok perempuan itu sendiri.

“Saya melihat peluangnya sebetulnya lebih banyak dan juga bisa sharing pengalaman dengan negara-negara di luar indonesia. Sharing pengalaman-pengalaman saya di Aceh kepada negara lain terutama di Asia Tenggara yang hampir mirip dengan Gerakan Bersenjata dengan gerakan leberation. Saya melihat ini justru bagi saya bukan merupakan jalan buntu tapi justru sebuah opening”, kisah Shadia.

ads bukopin

Shadia mulai meningkatkan kapasitasnya untuk ikut dalam proses-proses negosiasi dengan gerakan liberation bersenjata di Asia Tenggara. Mulai konflik di Selatan Thailand dan di Mindanao. Dirinya sudah bekerja lebih kurang hampir 6 tahun secara intens dengan Moro Islamic Liberation Front (MILF).

                                           Shadia Marhaban berbagi pengalaman di Mindanao

Shadia juga sudah masuk dan melihat peluang-peluang untuk Indonesia dapat berkontribusi ketika dirinya bekerja pada negosiasi-negosiasi dengan 7 gerakan bersenjata di Myanmar. Hanya saja dirinya tidak bekerja untuk negara (Indonesia) pada saat itu tetapi dengan organisasi dan kadang-kadang dengan lembaga PBB sehingga kontribusi  sebagai negaranya tidak nampak.

Kendala atau tantangan-tantangan yang Shadia lihat yaitu masih tentang Legitimasi. Pertanyaan-pertanyaan timbul pada dirinya tentang kenapa dia? Mengapa dia ada disitu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang tidak dilontarkan pada orang laki, tetapi kalau pada perempuan itu banyak ditanyakan.

Tantangan selanjutnya adalah inclusion of women itu bukan prioritas. Shadia yang mantan jurnalis ini mencontohkan, pada proses-proses negosiasi perdamaian yang berlangsung di Yaman ataupun di Siria -siapa yang menyaring, siapa yang punya hak suara untuk orang-orang yang tergabung dalam pemilihan women of mediation experts itu?.

Berdasarkan observasi bekerja selama 17 tahun, Shadia melihat proses kendala-kendala seperti itu. “inclusion of women itu masih belum prioritas, masih dipertanyakan fundingnya, ada ga women mediator itu, dimana mereka, kok kami tidak nampak?” tanya Shadia.

Shadia menambahkan, profil women mediator dapat ditemukan di dalam roster PBB atau di dalam roster ASEAN, perempuan-perempuan sudah dapat di list yang memang mempunyai kapasitas-kapasitas.

“Ada gagasan yang berlian dari Sout East Asia Women of Mediator and Negotiator, ini sangat bagus kalau memang kita invest dibidang ini. Karena saya melihat peluang-peluang itu bisa maju dibidang mediasi itu sangat baik sekali,” ungkapnya.

           Pengalaman Shadia Marhaban dkk berbagi pengalaman bersama Delegasi Afghnistan di Aceh.

 

Tantangan lainnya adalah akses terhadap pendanaan. Bagaimana kita bisa mengakses, bagaimana perempuan-perempuan khususnya perempuan di Indonesia bisa mengakses pendanaan-pendanaan yang sifatnya bisa mengembangkan jati diri perempuan.

Masalah under utilities mediators (kekurangan keperluan mediator). Banyak mediator sekarang berkembang di dunia, dari mulai Commenwealth, African Union, mereka mempunyai kelompok-kelompok seperti sayap di dalam lembaga-lembaga regional itu mempunyai bidang negosiasi dan mediasi perempuan. Tetapi sayang ini menjadi tidak berfungsi karena sebenarnya bukan tidak ada legitimasi tetapi hanya saja kekurangan orang-orang yang terlibat langsung di dalamnya. Kebanyakan yang bekerja adalah misalnya pejabat, jadi mereka tidak punya peluang untuk turun langsung ke lapangan untuk mempelajari kondisi-kondisi di lapangan yang ada.

Yang kelima, kelompok ahli-ahli mediator perempuan itu sepertinya tidak punya dokumentasi kerja-kerja. Memang dulu pernah ada kalau yang bermain ditingkat akar rumput saja sehingga yang diatas tidak melihat. Begitu juga yang diatas, yang akar rumput tidak melihat.

Shadia menyarankan alangkah baiknya ini dibuat seperti koordinasi yang bisa dibangun semacam sinergitas, dimana para penggerak diatas track 1 negotiation hingga yang ke track 3 atau yang track 1.5 sampai bisa koordinasi bisa kebawah dan bekerja sama.

Shadia memang berasal dari wilayah konflik, tapi ia berikhtiar membangun perdamaian di berbagai belahan dunia. Shadia melihat ini sebagai suatu inspirasi dan peluang yang bisa ditularkan kepada teman-teman yang lain.

Untuk gencatan senjata, partisipasi perempuan juga dirasakan sangat kurang. Di bidang security ini, perempuan juga bisa fokus, karena perempuan tidak fokus pada kearah gender saja. Sebenarnya banyak sekali peluang-peluang yang bisa dirangkul oleh perempuan. Contohnya misalnya cease fire of arrangement, Disarmament, Demobilization and Reintegration (DDR) ini semua saya pikir sangat kaya asetnya yang bisa dimainkan oleh perempuan dan bisa berperan disini.

Alangkah baiknya kalau kedepan bisa juga ditambahkan untuk perempuan yang mau bersekolah tentang penanganan peace crisis di negara-negara luar. Nah ini, memang merupakan investasi hasilnya tidak bisa dilihat dalam 1-2 tahun tapi akan nampak 5-10 tahun. Orang akan melihat ahli bersenjata, peace agreement dari Indonesia, ahli security banyak dari Indonesia dan mereka akan banyak memanggil kita. apalagi kalau kita membuat roster. Ada nama-nama perempuan yang bisa dilibatkan langsung.

“Saya hanya mengajak bagaimana yang konkret ini, tantangan ini menjadi peluang. Kita melihat, pengalaman Aceh, pengalaman Papua, itu menjadi sebuah aset. Bagaimana pendokumentasian kerja kerja perempuan ini bisa kita transfer ilmunya untuk model-model yang sama di luar negeri”, harap Shadia. (sdk)

Leave A Reply

Your email address will not be published.