Cakrawala News
Portal Berita Online

Tak Patah Semangat Droping Air Bersih Pakai Uang Patungan

BANYUMAS. JATENG. CAKRAWALA.CO – Sekitar dua pekan terakhir, hujan mengguyur wilayah Kabupaten Banyumas selama sekitar tiga hari. Namun turunnya air dari langit ini tampaknya masih belum jelas sebagai penanda berakhirnya musim kemarau panjang tahun ini.

Sejumlah desa yang sudah lebih dari dua bulan mengalami krisis air bersih, hingga hari ini terus mengharapkan bantuan air tetap mengalir. Harapan sejumlah warga itu bukan dari pemerintah setempat, mereka setiap hari menunggu para ‘pejuang’ yang memberikan air bersih dari hulu mata air Curug Cipendok. Warga desa di wilayah yang terjadi krisis air terutama ada di tiga kecamatan, yakni Ajibarang, Cilongok dan Purwojati.

Sedikitnya ada 10 desa di Kecamatan Cilongok yang setiap hari disambangi oleh para pejuang air bersih ini. Antara lain Desa Rancamaya, Cilongok, Cipete, Sudimara, Batuanten, Kasegeran, Jatisaba, Panusupan, Pageraji, dan Langgongsari.

Di Purwojati, mereka menyambangi titik rawan terparah di Desa Kaliputih, Kalitapen dan Karangmangu di Kecamatan Purwojati. Adapun di wilayah Kecamatan Ajibarang, mereka setiap hari mendistribusikan air bersih ke Kalibenda, Lesmana dan Banjarsari.

“Alhamdulillah droping terus berjalan, kami stay siang sore malam di sini yang memang tempat paling strategis berdekatan dengan sumber air,” kata Sigit Suyatno, koordinator relawan di Balai Desa Karang Tengah Kecamatan Cilongok.

Sigit awalnya bergerak bersama dengan sekitar sepuluh kawan-kawannya. Itu juga tak pernah terencana, semua karena ia menyakskan pemandangan di desa-desa di tiga kecamatan yang membuatnya sedih karena krisis air bersih kali ini sangat parah.

“Tak pikir lama, kami bergerak bersama, iuran seikhlasnya dan sampai hari ini kita maju terus dengan cara sama,” kata pria bertubuh gempal ini.

 

Akses jalan sulit, hingga kehabisan bensin, menjadi romantika proses pengiriman air bersih. (foto : istimewa)

Sigit awalnya memakai kendaraan roda empat bak terbuka seadanya dilengkapi dengan drum besar. Drum itu diisi air dari sumber di Karangtengah dan langsung terdistribusi ke desa paling dekat. Hari pertama, Sigit dan kawan-kawannnya mampu membagi seribu liter air dari tiga kali muatan.

“Setelah beberapa hari kami jalan, banyak kawan yang bergabung, memberikan bantuan dalam bentuk kendaraan ataupun iuran uang. Sekarang kami sudah ada armada sampai tujuh unit, alhamdulillah,” katanya.

Sampai waktu yang belum ditentukan, Sigit serta para pejuang air bersih lainnya tak patah semangat. Tak ada dana bantuan pun, iuran memang dilakukan mereka dari awal.

“Kami bukan tak mau lagi untuk melakukan ini jika kelak terjadi kekeringan parah lagi tahun depan. Kami punya harapan, Pemkab Banyumas bisa melakukan maping area untuk langkah antisipatif agar tak kewalahan,” ungkapnya. (Angga Saputra/cakrawala.co)

%d bloggers like this: