Cakrawala News
Portal Berita Online

SOS Cabut Dukungan untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

35

CIANJUR,CAKRAWALA.CO- Solidaritas Senyap (SOS) Indonesia, organ eksponen aktivis 1998, menarik dukungan politiknya dalam mengawal eksistensi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menuju Pemilu 2019. Penegasan itu menyusul tidak lagi terdapatnya persamaan persepsi dalam proses pendampingan perjuangan PSI.

“Karena sudah tidak sejalan lagi, maka bijak rasanya bagi kami Presidium SOS Indonesia untuk mencabut dukungan politik yang pernah kami berikan dalam mengawal PSI menjelang Pemilu 2019,” tegas Ketua Presidium Solidaritas Senyap Indonesia, Muhammad Asep NK, saat berlangsungnya evaluasi internal Presidium SOS Indonesia bersama sejumlah eksponen 1998 lainnya dari berbagai wilayah di Indonesia, di salah satu rumah makan di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Sabtu (6/10).

Asep mengatakan, dari awal, pada dasarnya SOS Indonesia merupakan kekuatan eksternal PSI. SOS Indonesia merupakan presidium yang hadir dengan maksud dan tujuan mengawal eksistensi PSI di kancah politik Indonesia menuju bursa Pemilu 2019.

ads bukopin

“Berangkat atas semangat reformasi 1998, awalnya berharap gelora dan semangat juang kami 20 tahun lalu dapat memberikan support perjuangan bagi para politisi muda Indonesia yang bersih, terbuka, progresif, dan visioner bersama gerbong politik mereka yakni PSI. Apalagi sebagai partai politik pendatang baru di kancah politik Indonesia, PSI tampil dengan mengusung jargon politik antikorupsi dan antiintoleransi. Jelas menjadikan sebuah harapan baru bagi kami, khususnya rakyat dan bangsa ini,” tegas Asep.

Bahkan bukti keseriusan dalam mengawal perjuangan PSI sesungguhnya, lanjut Asep, SOS Indonesia memberikan pendampingan bagi para calon legislatif PSI baik di DPRD kabupaten dan kota, provinsi, hingga DPR di berbagai wilayah di Indonesia menuju Pileg 2019.

“Permasalahannya hari ini, ternyata partai politik yang mengadang-gadang solidaritas itu kini terkesan terkotak-kotak. Kami mengendus adanya indikasi dugaan yang terkesan melahirkan sebuah monarki di internal PSI itu sendiri,” tegas Asep.

Satu contohnya berkenaan kelompok caleg khusus (calegsus) yang jelas-jelas mendiskreditkan keberadaan caleg lainnya serta kriteria tentatif atau definitif bagi status kepemimpinan para kader di tingkat daerah. Bahkan tak menutup kemungkinan beberapa kebijakan PSI itu sendiri justru membuka peta konflik internal kadernya di beberapa daerah.

“Kendati awalnya kami Presidium SOS Indonesia bertekad bersatu dan melangkah bersama perjuangan mereka agar ke depan PSI mampu melahirkan politisi bersih untuk bangsa ini, tetapi kenyataannya sekarang berbanding terbalik. Maka dengan segala hormat kami memilih mencabut dukungan saja,” tegasnya.

Bagi Presidium SOS Indonesia, tegas dia, mencabut dukungan saat ini bukan perihal untung dan rugi. Karena bentuk dukungan mengawal eksistensi PSI menuju Pemilu 2019 semua itu diawali rasa solidaritas. Artinya, SOS Indonesia berharap solidaritas itu tidak dicemari tradisi politik oportunis, seperti halnya politik ‘bagi-bagi kue’ maupun ‘politik dagang sapi’.

“Tidak ada yang dirugikan. Toh sejak awal kami hanya memposisikan diri di eksternal PSI,” tandasnya. (**/d_hen)

Comments are closed.