Cakrawala News
Portal Berita Online
ads riau 2

Solusi Atasi Dampak Covid19 Perlu Digitalisasi Sosial ekonomi Kebencanaan

0 94

JOGJAKARTA,CAKRAWALA.CO- Jumlah pasien positif Covid 19 di negara kita hingga kini terus bertambah dan  sejumlah kebijakan sudah dikeluarkan pemerintah. Salah satunya adalah pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di wilayah episentrum penyebaran Covid-19, seperti DKI Jakarta dan sejumlah wilayah penyangga Ibu Kota. Namun, apakah konsep itu cukup untuk menghambat penyebaran Covid-19? Bagaimana dampak secara sosial-ekonomi warga?. Masalah ini  menjadi perhatian Wakil ketua Ko misi B DPRD DIY Dwi Wahyu Budiantoro. Ketika ditemui di kantor DPRD DIY Dwi Wahyu mengatakan dalam konteks DIY, ketika PSBB belum diimplementasikan, maka pemerintah daerah harus segera berbenah dalam mendorong implementasi infrastruktur sosial-ekonomi. 

” Bukan hanya dalam bentuk charity (bantuan sosial), tetapi juga memproyeksi padatnya aktivitas sosial-ekonomi digital yang mungkin hadir, sekaligus melakukan konsolidasi antar stakeholder. Tujuannya, tentu terpenuhinya kebutuhan ekonomi warga, sekaligus mencegah kepanikan sosial, seperti  mencegah penjarahan/tindakan kriminal lain dan menolak penguburan pasien positif Covid-19 akibat provokasi,” ujar Dwi Wahyu Budiantoro saat ditemui di DPRD DIY, Kamis (16/4/2020).

Lebih lanjut Dwi Wahyu yang juga Ketua fraksi PDIP DPRD DIY mengatakan, Infrastruktur System Engine dan Sosial Engine sebagai terobosan digitalisasi merupakan insfrastruktur paling efektif, khususnya dalam menanggulangi  dampak Covid-19. Dengan memanfaatkan teknologi digital, masyarakat dimudahkan memenuhi berbagai kebutuhan di tengah wabah Covid-19. Namun, pemahaman digitalisasi juga harus diseimbangkan antara kebutuhan kemudahan transaksi ekonomi (system engine) dan kemudahan media informasi dan edukasi (sosial engine).

” Eksplorasinya sebagai berikut. Pertama, pembuatan marketplace lokal mandiri berbasis jarak. Kendala Covid-19 adalah masihnya aktivitas masyarakat di luar rumah. Untuk meminimalisir kendala tersebut, maka model marketplace ini harus dihadirkan memenuhi kebutuhan pokok antar warga dari jarak terdekat. System ini mendeteksi kecocokan lokasi antara pembeli dan penjual,” terang Dwi Wahyu.

Ditambahkannya bahwa fitur utamanya mengharuskan pengguna mengatur lokasi keberadaannya, sehingga mengetahui warung terdekat.  Marketplace juga harus menampilkan informasi yang lengkap dari penjual mengenai stok barang, proses delivery . Hal pengiriman bisa terintegrasi dengan ojek on-line atau ojek pangkalan dari komunitas warga , hingga proses pembayaran di bank dan diusahakan dari bank daerah untuk mengontrol perilaku transaksi warga.

“Kedua, supporting konten kreatif dan media promosi untuk UMKM, termasuk peternak unggas dan ikan. Kendala dari sektor tersebut sebenarnya terletak di pemasaran, karena mayoritas hanya berfokus di ranah produksi.  Maka, dukungan di sektor distribusi, perlu dilakukan. Misalnya ; supporting pembuatan flyer digital, infografis animasi dan lain sebagainya untuk tiap brand. Bahkan jika diperlukan, membantu proses promosi media,” jelasnya.

Tujuannya, imbuh Dwi Wahyu, untuk  mengumpulkan orang-orang yang interest terhadap produk-produk tersebut, sehingga proses promosi “tidak langsung” bisa dihadirkan. Selain juga akan difungsikan sebagai informasi dan edukasi terhadap follower / warga , agar mendapat informasi yang positif dari berbagai situasi sosial dampak dari Covid-19 di DIY, khususnya terhadap dinamika program perekonomian  misalnya jadwal operasi pasar dan wilayahnya. Strategi ini diharapkan mampu mengurangi kepanikan sosial-ekonomi warga yang berlebihan.

Berikutnya, terang Dwi Wahyu, adalah  membuat aplikasi untuk mengumpulkan dan mempertajam potensi costumer. Istilahnya, sejenis “Super Leeds” yang akan merekam list data orang-orang yang tertarik dengan produk, kemudian akan diverifikasi secara sistem calon costumer tersebut dengan tujuan mempertajam market. Dari hasil verifikasi digital (Super Leeds), dapat dilakukan re-targeting yang mendukung efektifitas/percepatan penyerapan produk pasar UMKM/peternak unggas/peternak ikan oleh costumer atau pasar.

” Selain itu, membuat aplikasi yang mempertemukan buyer (pembeli) dengan seller (penjual) –semacam “Sosial Meet”–, sehingga berbagai komponen informasi produk dan aktivitasnya dapat secara detail dihadirkan. Aktivitas komunikasi antar keduanya bisa intensif dilakukan. Tujuannya, semakin mengakrabkan aktivitas ekonomi digital warga yang dimonitoring oleh system,” tuturnya.

 

Data ini menurut Ketua Fraksi PDIP DPRD DIY akan  memudahkan pemerintah dalam mengakses perilaku market digital untuk membuat kebijakan. 

Semuanya adalah opsi terobosan digital yang mestinya disegerakan pelaksanaannya.

” Jika gotong-royong adalah pondasi ideologis masyarakat, maka jangan biarkan ini menjadi alasan pemerintah daerah untuk  menunggu atau justru berdiam diri. Kesadaran kalaboratif adalah kunci dalam sebuah perjuangan panjang, yaitu kesejahteraan sosial,” pungkasnya. ( Okta/ Santosa )

Leave A Reply

Your email address will not be published.