Cakrawala News
Portal Berita Online

Siap Menghadapi Globalisasi Digital

0 175

KABUPATEN BANDUNG JABAR CAKRAWALA.CO -Era baru industrialisasi digital mengancam akan menghilangkan sekitar 1-1,5 miliar pekerjaan sepanjang tahun 2015 sampai 2025 karena digantikan nya posisi manusia dengan mesin otomatis. Diestimasi pula 65 persen murid SD di dunia akan bekerja pada profesi yang belum ada di hari ini. Tidak heran jika juga anak-anak zaman sekarang bercita-cita menjadi YouTuber, Influencer, Selebgram.

Ridwan Rustandi, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung mengatakan cita-cita baru para generasi muda karena mereka sebagai digital native. Mereka melihat apa yang sehari-hari mereka saksikan yaitu media sosial.

Bukan hanya itu tren pekerjaan yang tidak mengikat juga akan semakin besar. Mereka melihat banyak contoh sekarang, kini hampir semua profesi dapat bekerja dari rumah dengan menggunakan gawai dan internet. Juga para kreator konten bekerja dari manapun dan mengerjakan hobi juga menghasilkan pendapatan luar biasa.

Tapi kita juga harus melihat industrialisasi digital juga membuka peluang besar. Dapat berpotensi memberikan peningkatan tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025 dan diharapkan juga dapat meningkatkan ekonomi yang lebih masif. Dampak lainnya di bidang politik bisa meningkatkan hubungan diplomatik antarnegara.

“Sekat-sekat geografis itu menjadi hilang, mempersempit ruang dan waktu. Artinya meningkatkan hubungan diplomatik yang cukup strategis dan sangat cepat antara satu negara dengan negara yang lain,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/7/2021) siang.

Jika dilihat dari sisi lain, secara negatif globalisasi juga bisa menghadirkan ancaman-ancaman, misalkan kebocoran data-data penting kenegaraan, dulu ada Wikileaks. Timbulnya fanatisme, lunturnya nilai-nilai politik kekeluargaan semuanya berorientasi pada bagaimana mencapai hasrat kekuasaan dan sebagainya.

“Kalau kita lihat di Indonesia pada saat Pilgub ya kan 2014 di DKI Jakarta lalu kita tahu kan ada yang sangat luar biasa secara politik dan itu salah satunya karena banjir informasi yang ada dalam ruang digital. Masing-masing followers antara pasangan calon memunculkan black campaign sehingga terjadi ujaran kebencian dan lain. Itu salah satu dampak secara politik,” jelasnya.

Secara ekonomi, memang benar globalisasi itu meningkatkan perekonomian kita dalam konteks negara tapi tidak boleh lupa ada juga kebocoran devisa. Tidak sedikit devisa devisa negara yang seharusnya itu dimiliki secara utuh negara kita tapi ternyata harus dibagi. Income dari sekian persen pendapatan yang didapat itu dampak globalisasi.

Globalisasi juga dapat menjadi sarana promosi pariwisata, kearifan lokal juga dapat dipromosikan di ruang virtual tapi tidak sedikit budaya asing menguasai. Banyak masyarakat mencintai produk orang lain dibandingkan mencintai produk sendiri. Salah satu dampak dari globalisasi ialah potensi kita itu sangat luar biasa, Indonesia itu salah satu pasar digital yang sangat besar di Asia Tenggara.

Namun sayangnya, untuk menjadi produsen kita masih rendah ini mungkin disebabkan karena literasi digital kita yang rendah. Salah satunya tidak sedikit dari kita menjadi pelaku penyebaran konten yang sifatnya manipulatif.

“Tidak sedikit juga generasi muda milenial yang belajar agama di internet, bertemu dengan ustadz-ustadz dunia yang berasal dari kelompok radikal terorisme. Pada akhirnya dia salah kaprah menafsirkan konsep hijrah. Berani meninggalkan keluarganya kemudian hijrah ke Suriah dan siap untuk melakukan jihad dengan cara membunuh diri,” ujar Koordinator Dunia Damai Dunia Maya Jawa Barat ini.

Masih banyak tantangan globalisasi yang terjadi di Indonesia khususnya untuk para generasi muda. Satu penyebabnya adalah kurang literasi digital.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/7/2021) siang juga menghadirkan pembicara Didin Miftahuddin (Gmath Pro Indonesia), Ginna Desiana (Relawan TIK Jawa Barat), Sri Astuty (Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin), dan Gabriela Citra (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.