Cakrawala News
Portal Berita Online

Sering Mencari Hal Negatif Meninggalkan Jejak Digital Buruk

0 158

KOTA BANDUNG JABAR CAKRAWALA.CO Salah satu keamanan digital yang harus dijaga adalah jejak digital yakni data yang tertinggal setelah beraktivitas di internet. Kegiatan seperti mengirim email, mengunjungi website hingga posting sesuatu di media sosial sudah cukup untuk meninggalkan digital foot print.

Fikri Mohammad Hakim, Senior Manager Safety mengatakan, jejak digital tak bisa hilang layaknya tapak kaki di pasir. Dia akan tetap ada meskipun sudah tertinggal untuk waktu yang lama serta merupakan informasi yang dapat menggambarkan kepribadian.

Contoh jejak digital postingan di media sosial, pencarian di Google atau search engine, tontonan di YouTube, pembelian di marketplace, jalur ojek online, aplikasi situs web yang dikunjungi, musik online yang diputar, game online yang dimainkan data pribadi yang dipublikasikan dan lainnya.

“Bukan hanya itu komentar di media sosial milik orang lain juga bisa menjadi jejak yang kita tinggalkan. Begitu juga dengan like dan juga tag foto atau alamat yang sering kita lakukan di media sosial,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/7/2021).

Pencarian di mesin pencari ini juga sangat berpengaruh untuk hari-hari kita ke depan. Algoritma dari Google akan terus mengingatkan kita akan apa yang kita cari maka cari tahulah sesuatu hal yang positif di internet. Jika tidak mereka akan terus menayangkan hal buruk yang sudah kita cari di internet.

Untuk nonton YouTube, biasanya berbeda antara tontonan orang tua dan anak. Orang tua sebaiknya menghapus riwayat di tontonan YouTube jika memang pemakaian gawai berbarengan dengan anak.

“Untuk jalur ojek online, hubungannya dengan geo tagging, ada aplikasi yang bisa melacak hasil riwayat ojek online sampai ke nomor rumah. Sebaiknya riwayat ojek online dihapus saja,” ujarnya.

Karakteristik jejak digital yakni jejak digital aktif dan jejak digital pasif. Jejak digital aktif adalah yang ditinggalkan secara aktif dan masih dimanfaatkan setiap hari. Seperti email atau media sosial yang biasanya kita tidak perlu lagi memasukkan karena kita buka setiap hari.

Jejak digital pasif adalah detail ditinggalkan dengan tidak sengaja melalui layanan online. Misalnya di website atau aplikasi Samsat online, kita memasukkan data pribadi, nomor polisi, rangka semua yang berhubungan dengan kita dan kendaraan kita. Kita tidak sadar sudah memberikan seluruh data. Untuk aplikasi Samsat ini milik pemerintah sehingga penggunaannya masih bisa dipertanggungjawabkan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/7/2021) juga menghadirkan pembicara Muhammad Miftahul Nadzir (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Bambang Iman Santoso (CEO Neuronesia Learning Center), Deewi Tresnawati (RTIK Indonesia), dan Diza Gondo sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.