Cakrawala News
Portal Berita Online
ads bukopin

Semua Akan Berkoprasi Pada Waktunya

0 102

(Selamat Hari Koperasi Ke-73)

Oleh: Ngayadi Sumono

Secara mengejutkan, Bill Gates –orang terkaya kedua di dunia– mengatakan kekayaannya senilai 108,8 miliar dollar AS adalah bukti ketidakadilan ekonomi dunia. Bill Gates menuliskannya dalam refleksi akhir tahun di blognya gatesnotes.com.

Secara lebih spesifik Gates mengatakan harus ada pajak capital gain (pajak atas uang yang didapat dari investasi) yang lebih tinggi. Tidak ada satu pun orang terkaya di dunia yang memperoleh kekayaan hanya melalui upah/gaji. Karena itu Gates percaya bahwa pemerintah harus mengalihkan lebih banyak beban pajak ke modal (capital) daripada tenaga kerja.

Gates mengaku ketidakadilan ekonomi dunialah yang melandasi dirinya bersama-sama Warren Buffet mendirikan The Giving Pledge pada 2010. Giving Pledge mengajak para miliarder untuk berkomitmen memberikan sebagian besar kekayaan untuk amal. Baik Gates maupun Buffett – yang juga setuju orang kaya harus membayar pajak lebih tinggi– telah berjanji menyumbangkan kekayaan mereka melalui program amal tersebut.

Miliarder pengusaha teknologi Mark Cuban pun pernah menekankan masalah kesenjangan antara investor dengan pekerja. “Jika seseorang hanya dibayar berdasarkan kerja yang mereka lakukan setiap jam, mereka akan selalu tertinggal,” ujar Cuban.

Cuban menyarankan para pemilik perusahaan untuk mendistribusikan saham kepada karyawan agar mereka juga menjadi investor. Cuban tak bicara omong kosong. Dia melakukannya di perusahaan jasa streaming online broadcast.com yang kemudian dia jual ke yahoo pada 1999 senilai 6 miliar dollar AS. Kala itu 300 dari 330 karyawannya mendadak menjadi miliarder.

“Sebagai pengusaha kita harus memberikan saham kepada setiap orang yang bekerja untuk kita. Titik. Tidak ada pengecualian, karena hanya dengan cara itulah setiap orang akan mendapatkan segala jenis penghargaan ekuitas,” lanjutnya.

Di tanah air, employee stock ownership program (ESOP) lebih dikenal sebagai program kepemilikan saham perusahaan (PKSK) yang sudah dimulai sejak tahun 2000-an. Sebut saja ada PT. Sri Rejeki Isman (Sritex) Tbk yang menjual saham kepada 10.000 karyawannya, PT. Bank Central Asia Tbk, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Astra Internasional Tbk, Deutsche Bank AG, IBM Indonesia, dan yang terbaru perusahaan media online Kumparan.com yang memberikan saham untuk 300 karyawan mereka.

ESOP atau PKSK hanya salah satu pendekatan untuk membangun keadilan ekonomi. Pendekatan lain adalah dengan membangun koperasi; Koperasi pekerja (worker co-op) yang mana pekerja menjadi pemiliknya, atau koperasi produsen yang mana produsen menjadi pemiliknya, atau yang paling mutakhir adalah koperasi multipihak yang mana produsen-pekerja-konsumennya menjadi pemiliknya.

Kisah klasik koperasi pekerja adalah Mondragon Cooperative di Spanyol. Koperasi raksasa itu berawal dari lima orang lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Karena tak memiliki pekerjaan pasca perang saudara, mereka kemudian mengadu ke seorang pastor. Pastor Don Jose Maria Arizmendiarreta bertanya soal keterampilan mereka. “Kami bisa buat panci, Pastor”. Jadilah mereka bikin perusahaan panci tahun 1956. Lambat-laun dari panci mereka membuat perabotan rumah tangga lainnya. Dari sekadar alat teknik, Mondragon merambah ke bidang usaha elektronik, pendidikan (universitas), pusat riset, supermarket, manufaktur, keuangan (bank), dan asuransi.

Mondragon kini mendunia, dengan 261 perusahaan. Pekerjanya (yang sekaligus pemilik) mencapai 80.000 orang. Mondragon tercatat sebagai perusahaan nomor tujuh terbesar di Spanyol; perusahaan milik karyawan yang bergotong-royong membangun ekonomi kolektif.

Perbedaan mendasar koperasi dengan perusahaan berbentuk PT, CV, firma, dll terletak pada komitmen untuk meredistribusikan kekayaan. Pada masalah kepemilikan, seluruh aset dan berbagai hal dalam koperasi dimiliki bersama-sama oleh anggota. Berbeda dengan perusahaan yang sejatinya dimiliki oleh segelintir orang. Isu kepemilikan ini kemudian merembet pada isu pengambilan kebijakan. Di dalam koperasi, pengambilan kebijakan tertinggi berada di Rapat Anggota Tahunan (RAT). Setiap anggota koperasi mempunyai hak suara yang setara one man one vote. Berbeda dengan pengambilan kebijakan tertinggi di perusahaan yang berada di tangan Dewan Komisioner yang one share one vote. Artinya, pemilik saham terbesar adalah yang paling mungkin menentukan arah perusahaan.

Koperasi dapat dibangun dari nol, maupun dengan cara mengonversi/mengubah bisnis yang sudah ada menjadi koperasi yang dimiliki pekerja. Pemilik bisnis yang ingin pensiun, misalnya, bisa menjual perusahaan kepada karyawan sebagai cara untuk memperkuat bisnis sambil mendapatkan laba atas investasi.

Prinsip koperasi menyatakan no one is left behind. Koperasi wajib memastikan tidak ada yang tertinggal di belakang. Koperasi adalah model perusahaan masa depan yang menempatkan demokrasi sebagai fundamen tata kebijakannya dan berorientasi pada keadilan akses serta distribusi kekayaan. Sebagai perusahaan berbasis orang (people-centered), koperasi lebih mementingkan akses dan kesejahteraan anggotanya, ketimbang memupuk modal.

Koperasi adalah entitas bisnis untuk mengatasi ketidakadilan ekonomi. Ketidakadilan ekonomi yang “dikeluhkan” Bill Gates pada refleksi akhir tahun 2019.

***- Ngayadi Sumono, Anggota KPMWT – Wartawan senior ANTV

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: