Cakrawala News
Portal Berita Online

Sekuntum Duka Untuk Palu

185

Funco Tanipu

(Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo. Alumni STM Negeri Palu).

Biasanya, grup WhatsApp Alumni STM Palu selalu rame. Berbagi cerita, tertawa, dan riang selalu. Sering menjadi tempat “baku gara. Melalui grup ini, saya selalu mengingat kerinduan akan Palu, kota tempat dulu bersekolah, dan tinggal selama 3 tahun di ujung tahun 90 an.

Semenjak sore kemarin, grup alumni sekolah kami langsung sunyi. Hanya satu dua orang yang bersuara, itupun hanya untuk menanyakan kabar. Termasuk saya. Kami yang menyapa teman-teman di grup ini rata rata tinggal di luar Palu. Hingga sore ini, grup ini sunyi, redup.

Grup kecil kami yang “dihuni” lebih dari 100 orang langsung berhenti sekejap sesaat setelah gempa sebesar 7.7 SR menghantam Palu dan Donggala. Semua membisu. Tak ada informasi. Hingga semalam, dipastikan bahwa seluruh jaringan listrik dan komunikasi putus. Ratusan dan mungkin ribuan rumah roboh.

BNPB saat iini telah merilis jumlah korban yang meninggal hingga pukul 16.00 ada sekitar 384 orang. Salah satu yang terinformasi adalah kawan satu sekolah dulu, Bambang Supriadi, seorang polisi yang sedang bertugas di sekitaran Pantai Talise. Dia dihantam tsunami saat bertugas. Diluar itu, banyak rumah teman dan keluarga dekat yang roboh. Belum ada informasi yang utuh mengenai keadaan mereka. Pada saat yang sama, saya juga menerima informasi yang cukup menyedihkan, Asrama Gorontalo roboh, belum ada informasi mengenai keadaan warga asrama. Termasuk warga Lamahu dan KKIG Palu.

Dari pantauan di media sosial, jalan daat menuju Palu masih tertutup, baik melalui Toboli-Kebun Kopi, Kasimbar Pantai Barat. Jalan darat melalui Poso-Napu-Palolo-Sigi Biromaru bisa tembus tapi masih terjadi macet panjang karena penumpukan kenderaan. Bandara Sis Aljufrie hingga kini baru bisa menerima Hercules, belum untuk pesawat komersil.

Sebagai orang yang pernah tinggal di Palu, tepatnya di Jalan Chairil Anwar No 10, “pukulan” ini cukup terasa. Banyak pengalaman mengenai Palu dalam memori saya. Saya belajar dan memulai berorganisasi sejak di Palu. Bersama teman-teman sesama pelajar di Palu, kami sempat mendirikan Solidaritas Pelajar Indonesia Palu, yang diinisiasi oleh Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi. SPIP sengaja didirikan untuk meruntuhkan Orde Baru. Begitu pula saat terlibat dalam Pelajar Islam Indonesia, saat Poso masih bergejolak. Banyak kisah suka dan duka namun sebagai pengalaman remaja dulu.

Palu sangat berbekas dalam ingatan, ia bukan saja teritori. Palu adalah sekuntum memori indah yang luar biasa. Walupun kini, Palu adalah sekuntum duka. Tapi saya yakin, Palu akan segera bangkit. Pengalaman konflik panjang masa lalu saja bisa dikelola dengan baik, termasuk gempa yang saat ini masih menggetarkan Palu.

Bencana ini adalah refleksi bersama seluruh rakyat Indonesia. Gempa Palu melatih kembali kerelawanan kita yang mulai terkoyak dan terkesan individual. Termasuk melatih keimanan bagi kita dan mereka yang terkena dampak.

Bencana Palu adalah “sekolah” dan “kursus” singkat mengenai kemanusiaan dan solidaritas bersama. Semoga kita sekalian bisa mengambil hikmah dari sekuntum duka Palu.

Comments are closed.