Cakrawala News
Portal Berita Online
idul cakrawala

Sambut Ramadhan, Ratusan Warga Kampung Adat Miduana Cianjur Gelar Upacara Kuramasan di Sungai Cipandak

0 84

CAKRAWALA.CO-CIANJUR- Ratusan warga Kampung Adat Miduana Desa Balegede Kecamatan Naringgul Cianjur, Jumat (1/4/2022) berbondong-bondong ke Sungai Cipandak yang membelah wilayah kedusunan adat tersebut. Diiringi musik rebana dan reog dengan berkostum adat sunda warga dengan sumringah dan penuh gembira menggelar acara kuramasan.

Kuramasan adalah kegiatan tradisi mandi massal yang masih terpelihara di Kampung Miduana dalam rangka menghadapi bulan suci Ramadhan.

Warga Berbondong bondong ke sungai Cipandak

“Kegiatan ini merupakan tradisi yang masih melekat dan dijalankan oleh masyarakat kami, biasa kami lakukan sehari menjelang pelaksanaan ibadah puasa tiba,” kata Ketua Dewan Adat, Rustiman, didampingi Kokolot Adat Miduana, Abah Yayat, kepada Wartawan di lokasi acara kuramasan warga Miduana di Kampung Pojok Desa Balegede Cianjur.

Hadir dalam kegiatan yang cukup menarik wisatawan itu antara lain Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kab. Cianjur, Cecep Diki Haryadi, Camat Naringgul, Ijuh Sugandi, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Cianjur, M. Rohman, Kepala Desa Balegede Naringgul, Asep Sutisna, Ketua Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia (Lokatmala Foundation), Wina Resky Agustina, Pegiat Budaya Kemendikbud Ristek, Dika Dzikriawan, Ketua Rambati Nusantara Ira Tasti Sidarta dan sejumlah tamu undangan lain.

 

Kuramasan salah satu tradisi turun temurun

Terpisah Ketua Lokatmala Foundation, Wina Rezky Agustina, selaku pendamping Warga Adat Miduana, mengatakan, dalam tradisi mandi besar Kuramasan ini , warga sejak pagi hingga waktu menjelang jumatan sehari menjelang puasa sengaja mendatangi Sungai Cipandak dalam rangka mandi kuramasan sekaligus membersihkan sungai dari sampah dan mengangkatnya ke pinggir sungai.

“Semua kegiatan ini dilakukan secara gotong-royong penuh kegembiraan sebagai wujud rasa syukur warga menghadapi bulan penuh ampunan dan kepedulian terhadap sesama,” kata Wina.

Nampak sebelum prosesi kuramasan ini, warga adat memanjatkan niat dan doa yang dipimpin oleh pemimpin adat lalu dengan tanpa harus membuka pakaian mereka turun ke Sungai Cipandak. Setelah acara selesai biasanya ada kegiatan makan bersama atau istilah mereka mayor di tepi sungai.

Disebutkan Wina, dari kearifan lokal yang dia temui di Kampung Adat Miduana, pihaknya melihat bahwa dalam tradisi Kuramasan ini banyak hal yang sangat menarik. Diantaranya soal kesiapan mental dan spiritual warga menyambut dan menjalankan puasa di bulan suci Ramadhan. Bagi warga adat Miduana bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sangat sakral dan agung. Bulan yang tepat untuk melakukan pembersihan diri lahir batin agar ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa semakin meningkat.

“Dari tradisi mandi Kuramasan ini saja kita belajar tentang pentingnya membersihkan diri lahir batin, memulai sesuatu dengan niat yang baik dan persiapan yang paripurna, selalu memelihara kekompakan, serta peduli sesama. Sehingga pada saat saum Ramadhan dilakukan bantin sudah bersih, mental sudah siap semata-mata hanya untuk memfokuskan kepada ibadah,” jelas Wina.

Kegiatan seni budaya dan tradisi warga Kampung Adat Miduana di Desa Balegede Kecamatan Naringgul Cianjur Kabupaten Cianjur Jawa Barat kini semakin dikenal publik termasuk meningkatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Menyusul pendampingan kegiatan seni budaya yang dilakukan Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia atau Lokatmala Foundation dalam beberapa bulan terakhir.

Lokatmala Foundation mendorong upaya revitalisasi kampung adat tersebut ke berbagai pihak termasuk pemerintah karena berbagai seni budaya, tradisi dan adat kesundaan di wilayah itu terancam punah bila tidak segera mendapat perhatian semua pihak. Pemkab Cianjur sendiri kini tengah berupaya membangun berbagai fasilitas pendukung termasuk menerbitkan regulasi atas keberadaan Kampung Adat Miduana tersebut agar tetap lestari.

Disebutkan Wina, Kedusunan Miduana merupakan sebuah perkampungan yang masih berpegang teguh pada tradisi kesundaan yang kuat dalam kehidupan sehari-hari. Dusun tersebut terhampar dalam areal 1041 HA persegi, meliputi 11 rukun tetangga (RT) dan 4 rukun warga (RW) yang dihuni oleh 280 kepala keluarga (KK) terdiri dari 557 laki-laki dan 650 perempuan atau sekitar 1.207 jiwa. ***

Leave A Reply

Your email address will not be published.