Cakrawala News
Portal Berita Online

RSUD Chasan Bosoirie Tepis Isu Kejar Target Pasien Positif Corona Untuk Tambah Anggaran

0 536

TERNATE,CAKRAWALA.CO- Isu krusial yang menyebutkan Gugus Tugas Covid-19 di Provinsi Maluku Utara dan pihak Rumah Sakit Umum Chasan Bosoirie mengejar target hasil kajian pakar epidemiologi untuk meningkatkan pemakaian anggaran penanganan corona dibantah.

Sebelumnya, pakar epidemiologi Universitas Hasanuddin Makassar Profesor Ridwan Amiruddin memprediksi kasus corona di Maluku Utara dapat meningkat hingga 500 kasus pada Juni 2020.

Prediksi itu menjadi kenyataan, bahkan hitungan per- 29 Juni 2020 kasus corona di Maluku Utara merangkak naik dan tembus diangka 712 kasus positif.

Prediksi pakar tersebut membuat sejumlah pihak beranggapan Gugus Tugas dan RSUD Chasan Bosoirie dapat leluasa menggunakan anggaran penaganan corona yang disediakan pemerintah melalui Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai Rp 148 miliar dari sumber APBD.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Chasan Bosoirie dr. Samsul Bahri,Senin ( 29/6/2020) membantah sangkahan yang dialamatkan kepada pihaknya. Ia menegaskan tidak mengejar target anggaran dengan mengorbankan warga Malut untuk terpapar corona.

” jadi seolah-olah bila pasien masuk ke rumah sakit maka diagnosa pasien penderita penyakit apa saja di dinyatakan positif ,” ucapnya.

Ia menjelaskan, mendiagnosa pasien corona bukanlah memakai alat Rapid Test. Alat itu,hanya digunakan sebagai screening awal atau sebagai pengarahan reaktif atau tidak ? untuk kemudian diperiksa lanjutan.

” Dari yang reaktif ini angkanya 30-50 persen karena dia bisa saja terinfeksi virus lain juga bisa saja reaktif,” jelasnya.

Untuk mendiagnosa pasien terjangkit Covid-19,kata Samsul ,bukan seorang dokter tetapi melalui hasil pemeriksaan alat PCR (Polymerase Chain Reaction). Hasilnya pemeriksaan nya pun tidak dapat di manipulasi.

” Jadi tra bisa tong mengarang kalau di periksa tong Kase hasilnya positif melalui alat Sweb Test Terus kemudian bilang negatif ,” jelasnya.

Hasil pemeriksaan spesimen pasien Covid-19 sekarang terpantau secara online,begitu pun pengiriman Cardridge atau media pengambilan sampel pasien tidak bisa di pakai lebih atau dikurangi.

” hampir 50 persen pemeriksaan Rapid Tes menunjukan relatif ,namun Sweb Test menjadi Negatif,” ucapnya.

Ia mengaku, bila pihaknya dianggap kejar target maka pada prinsipnya pembiayaan oprasional RSUD Chasan Bosoirie tetap terbayarkan oleh pemerintah daerah Provinsi Maluku Utara meskipun ada atau tidaknya pelayanan medis terhadap pasien.

” Kami harap masyarakat selalu percaya pada penanganan virus Corona ini dengan tidak menyangkakan dugaan -dugaan negatif kepada pemerintah seolah olah-olah kejar target,” cetusnya.

Samsul menambahkan, apa yang menjadi dugaan masyarakat adalah hal yang bisa, namun pihaknya tidak mau menyikapi presepsi buruk itu secara berlebihan sehingga tidak mengganggu kinerja medis.

Selain itu dalam sejarah medis di Maluku Utara tidak ada kasus jiwa yang melayang secara berentetan seperti yang terjadi pada kondisi pandemi Covid-19.

” Bila tidak percaya bisa datang di RSUD bergabung dengan pasien positif tanpa APD kalau sakit nanti kami bantu merawatnya dengan penyediaan alat ventilator.Corona ini bukan terjadi di Maluku Utara saja melainkan
Seluruh dunia termasuk perjalanan haji terganngu dengan wabah virus ini,”tutup Samsul.***(IVN/ID)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
1
+1
1
+1
2
+1
1
+1
1
+1
7

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: