Cakrawala News
Portal Berita Online

Rivalitas China vs Amerika Serikat : Bagaimanakah Posisi Geopolitik Indonesia?

0 975

Oleh Cita Pramudita Nabila Syifa

International Relations Student 2020 at Islamic University of Indonesia

Rivalitas merupakan persaingan atau keadaan yang sangat kompleks dengan didukung oleh berbagai aspek. Rivalitas yang terjadi antara China dan Amerika Serikat menunjukkan adanya keunikan tersendiri yang berbeda dengan rivalitas keamanan sebelumnya selama masa Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet. Hal ini dikarenakan dengan adanya kebangkitan China dalam interaksi keamanan membuat stabilitas keamanan dan politik akan berbahaya bagi AS sebagai negara super power semenjak berakhirnya Perang Dingin, yang secara tidak langsung menjadikan AS sebagai negara yang mampu mengatur keadaan dunia, sehingga memunculkan konflik kontemporer serta hegemoni antara dua negara tersebut.

Konstelasi konflik yang terjadi antar negara super power salah satunya adalah munculnya spekulasi stabilitas keamanan kawasan di Asia Pasifik sebagai pusat keamanan global yang strategis.

Diketahui bahwa Asia Pasifik menyimpan potensi yang besar dalam aspek perekonomian yang terus berkembang dan memancing daya tarik negara-negara Barat untuk memasarkan dan memenuhi kebutuhan produksi. Selain itu, dalam aspek geostrategi dan geopolitik pun Asia Pasific menjadi kawasan yang diperebutkan untuk kepentingan politik maupun ekonomi khususnya bagi Amerika Serikat yang mana negara tersebut sudah berpengaruh pada negara seperti Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Philipina, dan India sejak berakhirnya Perang Dunia 2.

China yang muncul dengan kekuatan militer serta ekonominya, membuat Amerika Serikat menyadari pentingnya geopolitik di kawasan Asia Pasifik. Rivalitas yang terjadi antara China dan AS ini tentu akan menjadi problematika penting dalam beberapa tahun ke depan, yang menimbulkan interaksi konfliktual dimana AS juga terlibat dalam sengketa kawasan Laut Cina Selatan.

Persaingan yang terjadi adalah perebutan pengaruh atau hegemoni antara China dengan Amerika serikat untuk menguasai pasar perdagangan internasional. Hal tersebut ditandai dengan adanya perubahan strategi oleh AS untuk mengalihkan kekuatan militer di kawasan Eropa, Afghanistan, dan Irak ke kawasan Asia Pasifik karena adanya kekuatan ekonomi serta militer China yang meningkat.

China menciptakan program BRI (Belt and Road Initiative) atau OBOR (One Belt One Route) dalam meningkatkan perdagangan melalui pengembangan jalur darat yang menghubungkan kota-kota China dengan kawasan Asia Tengah, Rusia, serta Eropa. Sementara Amerika Serikat membuat FOIP (Free and Open Indo-Pasific) sebagai bentuk strategi untuk melawan China.

Hal ini membuat negara-negara Asia termasuk Indonesia memandang dari segi geopolitik bahwa upaya China melalui program tersebut dilakukan untuk meningkatkan Bargaining Position dan Political Leverage, khususnya dalam kawasan Asia Pasific. Rivalitas antar dua negara tersebut menimbulkan terjadinya dampak perang dagang antara AS dengan China sejak tahun 2018 serta eskalasi ketegangan sampai sekarang.

Adanya persaingan dan perebutan hegemoni antara China dengan Amerika Serikat, salah satunya dengan persaingan antara BRI dan FOIP membuat Indonesia sebagai negara dengan kebijakan politik luar negeri yang bebas-aktif harus mengambil sikap dan menempatkan dirinya dengan tepat pada posisi diantara dua negara adidaya yang saling memperebutkan pengaruh di kawasan tersebut.

China dengan posisi serta kekuatan ekonomi yang berada setelah Amerika Serikat dalam perekonomian Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang bersifat netral serta tidak berpihak terhadap AS maupun China dengan tanpa mengurangi integritas dan independensi Indonesia demi menghindari kepentingan untuk masuk dalam salah satu kontrol atau kendali dari pihak manapun baik China maupun AS. Terlebih dengan adanya hubungan perdagangan serta investasi yang terus meningkat antara Indonesia dengan China dan AS, juga menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam menjaga hubungan baik dengan kedua negara tersebut. Baik dari China maupun Amerika Serikat, perlu mencari metode ataupun pendekatan agar hubungan strategis yang ada antar kedua negara tidak menimbulkan dampak negatif terhadap stabilitas keamanan, serta untuk mengantisipasi terjadinya konflik terbuka di negara-negara sekitar kawasan tersebut, khususnya bagi Indonesia dalam meningkatkan pertahanan negara yakni dengan strategi yang komprehensif.

Referensi :

Ansri Octapianus Purba, A. C. (2021). INDONESIA DAN RIVALITAS AMERIKA SERIKAT DENGAN CHINA DI KAWASAN ASIA PASIFIK. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 177-181.

Lai, David.(2011). The United States and China in Power Transition. Strategic Studies Institute. Carlisle.

ISSN. (2019). “Indonesia’s Double Hedging Strategy towards the United States- China Competition: Shaping Regional Order in the Indo-Pacific?” . Issues & Studies, Vol. 55. No. 4.

Syahrin, M. N. (2018). Interpretasi Rivalitas Keamanan Negara Adidaya Di Kawasan Asia Pasifik. Global & Strategis, 146-160.

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.