Cakrawala News
Portal Berita Online

Relokasi PKL Malioboro, Pemda Harus Beri Jaminan Hidup Lebih Baik

0 400

Yogyakarta, Cakrawala.co,– Rencana Pemda Propinvi Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY) merelokasi ribuan Pedagang Kaki Lima ( PKL ) mulai tahun 2022 mendatang, mulai mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat.

Seperti dilansir beberapa media, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dalam hal ini Dinas Koperasi dan UKM DIY akan merelokasi pedagang kaki lima yang ada di kawasan Malioboro, mulai tahun depan ( 2022 ).

Rencananya, ribuan PKL Malioboro akan direlokasikan ke dua lokasi yaitu kawasan bekas Gedung Bioskop Permata dan bekas Gedung Dinas Pariwisata DIY.

Karena Kawasan Pedestrian Malioboro, Yogyakarta akan segera dibebaskan dari Pedagang Kaki Lima (PKL ), bebas asap rokok serta bakal dihiasi dengan aneka bunga sebagai hiasan.

Kawasan Pedestrian Malioboro rencanannya akan disulap seperti jalur pedestrian di Orchard Road, Singapura dengan jalur pedestrian yang lebar, ditumbuhi bunga-bunga dan bebas akan asap rokok.

“Masyakat kalangan bawah juga butuh ruang untuk mengembangkan potensi kearifan lokal. Mereka membutuhkan penghasilan untuk menghidupai keluarga, untuk mempertahankan hidup. Yang perlu dicermati, ribuan orang anggota PKL Malioboro, hanya dengan cara itu mereka selama ini bisa mempertahankan hidup. Nah, kalau digusur ( relokasi, red) ada nggak jaminan kondisinya lebih baik,” ujar Muh Zarngan, Ketua Agrobiz Centre Banaran ( ACB) Jumat (3/12).

Menurutnya, pemerintah harus memberi jaminan mereka akan hidup lebih baik, memberi jaminan di tempat relokasi akan penghasilan akan lebih baik. “ Itu yang paling penting, untuk diingat oleh pemerintah,” katanya.

Kalau relokasi tidak memperhatikan aspek – aspek yang dibutuhkan PKL dipastikan timbul masalah berkepanjangan tentunya, karena berjualan ditempat baru bukan tempat pusat kerumunan orang butuh kepastian tempat itu strategis atau tidak, agar penghidupan terus berlangsung dengan aman.

“PKL itu mereka memilih Malioboro sebagai tempat mereka berjualan bukan tanpa alasan, mereka bisa laris jualan disana, bukan ditempat lain,” tegasnya.

Artinya kalau relokasi tetapi menempati lokasi baru yang tidak strategis sama saja artinya sedang membunuh sumber penghidupan ribuan PKL Malioboro. Tentu ini juga akan membuat masalah baru bagi PKL terdampak relokasi.

Maka prasarat paling humanis untuk merelokasi ribuan PKL Malioboro, tentu berada di tempat yang bagus, strategis, banyak dikunjungi orang mudah diakses publik, ada dukungan media secara masif, dan ada jaminan dari Pemda DIY jika kebijakan tersebut nantinya memperburuk keadaan maka harus ada solusi alternatif.

“Menurut saya PKL Malioboro itu tidak perlu digusur, tetapi ditertibkan, kemudian difasilitasi, ditata dengan konsep kekinian sehingga makinrapi dan bersih seperti d luar sana ( di luar negeri, red). Diberbagai negara jiga banyak kok PKl, tetaopi rapi bersih sehingga wisatawan juga nyaman,” lanjut Muh Zarngan.

Sementara Direktur Eksekutif Edelwies Foundation, Jakarta, Ayi Subing memberi pendapat bahwa sebenarnya keberadaan PKL Malioboro di kawasan pedestrian tersebut tidaka masalah. Yang penting tertib, rapi, bersih, karena keberadaan mereka juga dibutuhkan oleh semua wisatawan yang masuk kawasan pedestrian Malioboro.

“Kalau saya nggak masalah, karena saya suka wisata yang kental dan budaya dan tradisi. PKL Malioboro bagi saya nggak masalah yang penting tertip. Saya juga sering berlama – lama di Malioboro dari cari sarapan, ngopi, sampai hunting foto dan cuci mata,” katanya.

Ia mengatakan, sebaiknya Malioboro tetap seperti sekarang aja, yang penting nyaman, rapi dan tertip. Karena Malioboro punya orang Indonesia. Setiap orang dari seluruh nusantara kalau ke Yogyakarta pasti mampir ke Malioboro dengan semua keunikan yang ada. (gon)

Leave A Reply

Your email address will not be published.