Ada satu masa bahwa suatu saat nanti ummat Islam seperti buih di lautan. Jumlahnya banyak tetapi tak memiliki kekuatan. Sikapnya mudah diombang-ambingkan oleh keadaan sehingga seperti buih di lautan. Ini terjadi karena ummat Islam terkena penyakit “wahn” yakni cinta dunia dan takut mati.

Gambaran ini disampaikan oleh Nabi Muhammad 14 abad yang lalu, ketika banyak orang berbondong-bondong menjadi muslim, namun tak memiliki kekuatan karena adanya penyakit “wahn” itu.

Berangkat dari sini, mungkin Anda bertanya, apakah salah seorang Nabi mengingatkan masa yang akan datang? Masa yang belum pernah dialami, namun secara intelektual bisa diuji?

Inilah bedanya Nabi Muhammad dengan pemimpin jamannow yang sedang ribut dengan perebutan kekuasaan. Peringatan masa depan yang penuh tantangan dan gangguan dianggap sebagai menebar ketakutan sehingga lahir istilah politik gendurwo. Yakni politik yang menakut-nakuti rakyatnya, bukan pemimpin politik yang membangun optimisme rakyatnya.

Gendurwo adalah sebutan sifat dalam pewayangan yang biasanya melekat pada tokoh buto atau rahwana. Dari tampangnya menakutkan, sehingga anak kecil yang sedang menangis sering diancam oleh orang tuanya: awas ada gendurwo, jangan menangis nanti dimakan gendurwo.

Memang kita harus pandai mencerna ucapan pemimpin. Sama dengan yang dikatakan Nabi Muhammad, apakah kita harus mengatakan bahwa seorang Muhammad SAW sebagai gendurwo karena ucapannya seolah-olah menakut-nakuti? Padahal Muhammad memiliki kemampuan intelektual (cerdas) yang bisa melihat apa yang akan terjadi jika kondisi masyarakat tidak memiliki sikap dan kebanggaan terhadap keyakinan agamanya serta sumber agamanya, yakni Al-Qur’an.

Maka dapat kita katakan bahwa jika ada seorang pemimpin yang seolah-oleh menyatakan hal negatif, sesungguhnya harus dimengerti sebagai cara agar masyarakat bangkit, sebagai motivasi.

Sama seperti ketika ada pemimpin menyatakan ramalan bahwa Indonesia 15 atau 20 tahun lagi sudah tidak ada (ini ramalan), harus dibaca dengan ilmu pengetahuan.

Mengapa harus dibaca dengan ilmu? Karena jika membacanya tamnpa ilmu maka kita menjadi seorang yang tampak bodoh. Karena faktanya adalah secara fisik Indonesia sedang menuju negara kuat secara ekonomi, banyak pembangunan insfrastruktur dilakukan, banyak kekayaan alam digali dan pelabuhan-pelabuhan juga dibangun untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

Tapi itu semua bukan milik kita, melainkan milik orang lain. Mungkin orang kita hanya jadi sopir dan tukang sapu, serta bos-bos kikta pemegang kekuasaan jadi tukang penerima upeti, tetapi mereka tak memiliki kekuasaan atasnya.

Jadi begitulah cara membacanya. Maka pemimpin yang tidak bisa membaca, biasanya salah menafsirkan dan menuduh tanpa ilmu. Inilah yang berbahaya dan bisa jadi kacaunya masyarakat, karena dijadikan gorengan informasi yang sesungguhnya akan menghancurkan kita sendiri.

Itulah sebabnya, kita dibekali akal dan hati untuk menyaring apa sesungguhnya yang terjadi di alam ini. Makanya Allah menyuruh kita untuk membaca (iqro’) lebih dalam dengan menggunakan ilmu, bukan emosi dan kepentingan sesaat. Wallahu a’lam (sumber UCnews/20/11/2018).