Cakrawala News
Portal Berita Online

Ratusan Santri Baru Manbaulhuda Bandung Ikut Pengenalan Lingkungan Pesantren

Para santru Muallimin Saat Mempresentasikan hasil Karya mereka berupa Tong Sampah pada rangkaian Pengenalan Lingkungan Pesantren, foto dok pesantren

BANDUNG JABAR CAKRAWALA.CO ,- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi awal bagi seluruh anak didik baru saat memasuki jenjang sekolah yang akan ditempuhnya untuk menyelesaikan usia pendidikan mereka.

Proses Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) juga berlaku di kalangan pendidikan Pesantren, salah satunya di lingkungan Pesantren Muallimin Manbaulhuda, Cijawura IV, Kota Bandung, Jawa Barat dengan istilan Tasamuh atau (Pertemuan awal)

Ratusan santri dari tingat Madrasah Tsanawiayah  (MTS) dan Madrasah Muallimin (MA) antusias mengikuti kegiatan awal masuk pembelajaran di pesantren Persatuan Islam tersebut.

Pimpinan Pondok Pesantren Masdrasah Muallimin Ust. Rosihan Fahmi mengatakan pihaknya selalu memberikan sentuhan berbeda dalam setiap tahun ajaran baru bagi santri yang baru masuk pada jenjang pendidikan baru.

“kami memberikan mereka pembekalan yang sesuai dengan kebutuhan mereka tentu saja kebutuhan pendidikan dan pembelajaran ala pesantren yang tidak akan ketinggalan dengan jenjang pendidikan lainnya bahkan diharapkan jauh lebih unggul karena memang kami memiliki keunggulan tersendiri dalam menggembleng para santri,”Kata Ust. Rosihan Fahmi, Senin (16/7/2019).

Ust. Ami panggilan pimpinan Pesantren yang selalu tampil nyentrik ini menyatakan sejak dirintis beberapa tahun lalu saat membuka beberapa kelas baru, minat para santri di pesantrennya terus meningkat bahkan dengan sangat terpaksa harus membantasi penerimaan jumlah santri karena keterbatasan ruang kelas yang dimilikinya.

“Pesantren kami memang sejak awal banyak diminati santri dari luar Kota Bandung, hampir semua daerah di Jawa Barat ada orang tua yang menitipkan anaknya belajar dan mesantren disini,”ungkapnnya.

Ia menyebut untuk penerimaan tahun ini tingkat Muallimin hanya untuk dua ruang kelas kali 36 orang santri putra dan putri maka hanya sebanyak 72 santri saja.

“Ini sesuai ketentuan dalam peraturan pembelajaran dengan standar ujian negara, kami belum memiliki ruang kelas baru sehingga hanya sebanyak itu yang mampu kami tampung karena jumlah itu sesuai ketentuan santri pada akhir masa pendidikan agar dapat ikut ujian nasional,”ujarnya.

Hingga masuk masa pengenalan lingkungan, lanjut Ust. Ami masih banyak nama siswa yang ikut pada daftar tunggu berharap ada santri yang mengundurkan diri dari rencana pembelajarannya.

“Namun kenyatannya semua pendaftar sudah memenuhi kuota dan dengan sangat terpaksa bagi yang belum berkesempatan beajar disini, kami mohon maaf,”katanya.

Muhammad Isya Rais Anshori, salah seorang santri baru  Muallimin Manbaulhuda asal Kabupaten Garut mengaku sanang dirinya dapat belajar di pesantren yang sejak awal diimpikannya.

“saya memang mau melanjutkan Muallimin di pesantren ini,”Kata Isya penuh semangat.

Ia juga rela memilih tinggal dan mondok di asrama putra yang disediakan pihak pesantren, “saya ingin belajar mandiri dan juah dari orang tua, semoga mendapatkan ilmu yang bermanfaat,”ungkapnya.***jmb

%d bloggers like this: