Cakrawala News
Portal Berita Online

Ratusan Balita di Wonogiri Alami Gizi Buruk

40

WONOGIRI JATENG CAKRAWALA.CO ,- Sedikitnya ada 238 balita di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dideteksi mengalami gizi buruk, dan sebanyak 1.388 anak lainnya kekurangan gizi. Dari 238 balita, 19 balita di antaranya dirujuk ke Rumah Sakit untuk mendapat penanganan khusus.

“Yang 238 balita itu berat badannya di bawah garis merah, sudah kami tangani dengan rawat jalan. Tapi 19 balita kami rujuk ke RSUD Soediran Mangun Sumarso,”  kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonogiri, Adi Dharma, Jumat (2/1/2018).

Adi Dharma mengungkapkan jumlah balita kekurangan gizi dan gizi buruk di Wobogiri dari tahun ke tahun terus menurun. Dia menyebut 2016 terdapat 283 balita masuk kategori gizi buruk, sedangkan pada 2017 menurun menjadi 238 anak.

Sedangkan anak yang masuk kategori kekurangan gizi pada 2016 tercatat 1.429 anak, dan pada 2017 berkurang menjadi 1.388 anak. Menurut Adi, pihaknya menargetkan angka balita gizi buruk dan kekurangan gizi berkurang signifikan pada tahun ini.

“Tahun ini APBD Wonogiri mengalokasikan sekitar Rp 60 juta untuk menangani masalah gizi buruk. Kami terus mengupayakan program perbaikan gizi melalui gerakan Posyandu maupun Polindes dengan dukungan 25 Puskesmas,” ujar dia.

Sementara itu menurut Kabid Kesejahteraan Keluarga (Kesga) DKK Wonogiri, Mubarok, menyebut penyebab utama gizi buruk adalah rendahnya ekonomi, dan kurangnya pengetahuan orang tua masalah gizi.

Mubarok mengungkapkan banyak warga di pedesaan Wonogiri yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, tidak mempunyai pekerjaan tetap, dan tinggal di rumah yang kurang layak hini. Kondisi seperti itu, menurut Mubarok, berdampak pada banyaknya balita yang menderita gizi buruk.

“Gizi buruk itu biasanya disebabkan dua faktor. Pertama, penderita memang murni kekurangan asupan gizi, dan kedua karena penyakit penyerta seperti jantung, pencernaan, dan lainnya sehingga asupan gizi sangat kurang,” jelas dia.

Mubarok menambahkan untuk mengetahui seorang anak mengalami gizi buruk atau tidak, diperlukan pengecekan standar berat badan dengan validasi umur, dan berat badan dengan validasi tinggi badan.

Terpisah, Bupati Wonogiri Joko “Jekek” Sutopo, menyebut kemiskinan  dan pola asuh menjadi penyebab balita di Wonogiri mengalami gizi buruk. Karena miskin, kata Jekek, orang tua merantau ke kota besar, dan menitipkan anak mereka untuk diasuh oleh nenek atau keluarga yang lain.

Menurut Jekek, sebagian besar balita yang mengalami gizi buruk ini orang tuanya bekerja di luar Wonogiri. Bupati menyebut pola asuh semacam itu salah. Apalagi jika pengasuh tidak memiliki pengetahuan soal gizi.

“Ada juga yang murni karena faktor ekonomi. Orang tua sangat miskin, sehingga asupan gizi anak balitanya tidak terpenuhi,” ujar Jekek.***Agung B

Comments are closed.