Cakrawala News
Portal Berita Online
Banner Sky Kiri
Banner Sky Kanan

Rangkaian Haul Singadipa Tak Dihadiri Pejabat Pemkab

BANYUMAS. JATENG. CAKRAWALA.CO – Meski Bupati Banyumas Ir Achmad Husein dalam silsilah trah keturunan Kyai Ngabehi Singadipa tercatat di dalamnya, tak satupun pejabat Pemkab Banyumas hadir dalam rangkaian kegiatan haul yang digelar 8-9 (11) kemarin. Hanya dari jajaran Forkopimca yang ikut hadir dalam kegiatan pengajian dan pembacaan narasi singkat yang dibacakan oleh tokoh muda nasional, Khatibul Umam Wiranu.

Namun, tanpa kehadira bupati yang sedianya diagendakan akan memotong tumpeng sebagai simbol dari puncak acara kegiatan, acara tetap berlangsung khidmat. Ratusan orang dari masyarakat umum maupun para keturunan Singadipa menggelar ziarah pada malam harinya, Jumat (8/11) disambung pagi hari dengan kegiatan bakti sosial berupa pengobatan gratis, donor darah, lalu solawatan oleh Habib Haedar, Pembacaan Narasi Pendek Perjuangan Singadipa, Petuah Singadipa dan Pengajian Umum.

Ketua Ikatan Keluarga Singadipa (IKS), Bing Urip Mengatakan, diharapkan ke depan IKS sebagai wadah untuk mengumpulkan balung pisah (mempererat persaudaraan) antar sesama keturunan, akan semakin berkembang dengan bisa menjadi sebuah yayasan.

“Tadi malam usai ziarah kita menyampaikan harapan akan keinginan kita bahwa Eyang Singadipa layak dan pantas jika dijadikan sebagai pahlawan nasional. Semoga ketika kita bisa menjadi yayasan, maka akan berdiri Universitas Singadipa, ” katanya.

Sosok Singa Dipa yang diyakini masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya sebagai tokoh pejuang pada era kolonial ketika pecah Perang Jawa (1825-1830) terus melakukan perlawanan meski Pangeran Diponegoro dipaksa menyerah oleh Belanda secara licik. Singdipa tak pernah berhasil ditangkap Belanda ketika melakukan perlawanan di wilayah Jawa Tengah bagian barat.

Khatibul Umam Wiranu dalam pembacaan narasi sejarahnya mengatakan, pertemuan terakhir antara Singadipa dengan Pangeran Diponegoro terjadi pada 1830 di Kretek Wonosobo. Saat pertemuan itulah, Pangeran Diponegoro menyerahkan panji (bendera perjuangan) berlafalkan kalimat tauhid. Sejak itu, Singdipa menerukan perlawanan perang terhadap kolonial tanpa pernah tertangkap hingga akhir khayatnya dan dimakamkan di Desa Penambangan Kecamatan Cilongok. (Angga Saputra /cakrawala.co)

 

Facebook Comments
%d bloggers like this: