Cakrawala News
Portal Berita Online
ads bukopin

Punya 2 Mesin PCR,RSUD Chasan Boesoirie Belum Mampu “Screening” Corona

1 77

TERNATE,CAKRAWALA.COMeski sudah memiliki dua unit mesin Reaksi Berantai Polymerase atau dikenal dengan PCR, namun  Rumah Sakit Rujukan COVID-19, Chasan Boesoirie di ternate, Provinsi Maluku Utara belum mampu melakukan pemeriksaan (Screening) sampel pasien corona.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Gugus Tugas COVID-19 telah mendapatkan bantuan alat PCR dari BPBD pusat dan satu tambahan dari Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu,namun hingga kini ke-dua unit mesin tersebut belum dapat dioprasikan untuk uji Sweb kepada spesimen pasien terinfeksi corona.

Alasan lambatnya pengoperasian alat PCR yang dilakukan pihak  RSUD rujukan Covid-19 Chasan Boesoirie, lantaran instalasi mesin yang harus dilakukan secara  ketat, teliti dan steril. Begitu pula operator pengguna mesin wajib dilakukan oleh individu yang telah dilatih dengan baik.

Juru bicara COVID-19 Maluku Utara, Alwia Assagaf, dalam Konferensi Pers, Kamis (9/7/2020) menyatakan,ruangan laboratorium PCR yang telah disediakan tidak memenuhi standar, sehingga harus dilakukan renovasi.

” Karena kapasitas ruangan laboratorium kecil, sehingga harus di renovasi. Kemarin ada kunjungan dari tim Litbangkes saat kunjungan Menkes. Mereka sempat melihat kondisi ruang penempatan PCR dan bertemu dengan dokter spesialis patologi ternyata dari anjuran mereka banyak unit-unit yang harus di benahi,” ucap Alwia.

Pengoperasian alat tersebut tidak semudah yang dipikirkan masyarakat,sebab harus mengikuti paduan instalasi standar bio security level 2 plus,yang mana instalasi penggunaannya harus mendapat pengarahan dari tenaga ahli kepada teknisi di ternate.

” Meski kembali di berikan tambahan satu unit bantuan PCR ,namun pihak rumah sakit masih fokus mempersiapkan penampungan alat PCR pertama,” akui Alwia.

Sejauh ini hasil pemeriksaan spesimen terhadap pasien COVID-19 di Maluku Utara mengandalkan Tes Cepat Molekuler (TCM) maupun alat PCR milik laboratorium BBLK Makassar, meski efektif namun pelaksanaan pemeriksaan tersebut memakan waktu yang lama sebab menunggu daftar antrian dari daerah lainnya .

Sementara Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, dalam kunjungannya ke ternate, 6 Juli 2020 lalu menyatakan ,persyaratan penggunaan PCR cukup ketat dari penyedianan tempat ( Laboratorium) maupun penyediaan tenaga SDM pengguna.

” Supaya laboratorium PCR tersebut benar-benar steril dan tidak terjadi episentrum atau penularan baru maka harus benar steril  karena pengambilan spesimen hasil Sweb sangat beresiko,” jelas Terawan kepada Awak Media.***(IVN/ID)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

  1. […] Artikel Selengkapnya di cakrawala.co […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: