Cakrawala News
Portal Berita Online

PT. Dipo Technologi Semarang Ingin Membuat Petani Tertawa Dengan D’Ozon

0 38

Cakrawala.co, Kulon Progo – Heboh D’Ozon, sebuah teknologi keren yang mampu mengawetkan hasil panen petani holtikultura, seperti cabai, bawang,  hingga 6 bulan mengawetkan panen sayur hingga 3 minggu, benar-benar membuat para petani terhipnotis.

Bayangkan, dengan D’Ozon ini panen cabai atau bawang bisa disimpan dalam bentuk segar selama 6 bulan, bebas jamur,bakteri dan residu pestisida rontok hingga 90 persen. Sedang hasil panen sayur bisa awert segar hingga 3 minggu juga bebas pestisida, bebas jamur dan bakteri.

Teknologi D’Ozon, produksi PT. Dipo Technologi, sebuah perusahaan yang berkantor di Semarang, Jawa Tengah tersebut, menyatakan bisa memproduksi alat menyesuaikan kantong petani. Pihaknya bisa memproduksi D’Ozon untuk perawatan pasca panen petani yang hanya memiliki kapasistas produksi 500 kilogram, atau dibawah setengah ton. Untuk kelas rumah tangga.

Untuk kelas kelompok PT. Dipo Technologi siap memenuhi permintaan kelompok tani dari kelompok kapasitas panen satu hinggai dua ton. Artinya  untuk mengawetkan hasil panen secara bersama-sama antara 20 hingga 25 orang anggota, atau dengan standar alat D’Ozon seharga 75 hingga 200 juta rupiah, jauh lebih efektif.

“Kami bisa melayani kebutuhan petani, dari kelas rumah tangga hingga kelompok. Karena teknologi yang dikembangkan Prof. Dr. Muhamamad Nur ini memang didedikasikan untuk kesejahteraan petani,  tetapi semua kembali kepada petani. Muaranya di petani.“ ujar Dirut PT. Dipo Technologi, Azwar, SE. MM.

Azwar menegaskan, pihaknya selaku produsen alat Generator Ozon atau biasa dikenal sebagai D”Ozon siap melayani kebutuhan petani dengan kapasistas apa saja. Dari alat dengan harga kurang dari 10 juta hingga 200 juta rupiah.

“Jangan dibayangkan alat ini hanya  bisa dimiliki dengan investasi miliaran rupiah, tidak juga. Tergantung kemauan petani seperti apa. Tetapi kembali lagi pada petani, efektif yang mana dan pilihannya tentu harus  menguntungkan. Tetapi prinsip dasarnya, teknologi ini ada untuk kesejahteraan petani, kami ingin menghapus air mata petani,” katanya.

Dipo Technologi adalah sebuah perusahaan komersial yang mendampingi teknologi plasma temuan Prof Dr. Muhammad Nur, Guru Esar Fisika UNDIP Semarang, hingga menjadi produk yang berguna bagi petani karena teknologi plasma ini dikhususkan untuk petani. Agar volume kehilangan hasil panen petani akibat kerusakan, busuk, dan residu pestisida bisa ditekan semaksimal mungkin.

“ Bagaimana tingkat kehilannganya hasil panen tidak terlalu besar. Itu konsentrasi kami dengan teknologi ini,” katanya.

Karena selama ini petani cabai misalnya, ketika  panen cabai tingkat kehilangannya akibat kerusakan terlalu besar. Dengan teknologi plasma kehilangan bisa ditekan hingga 50 persen. karena PT. Dipo Technologi juga  akan merubah cara petani dalam menyikapi panen.

“Kita akan rubah cara petani mensikapi panen, dengan menggunakan teknologi ini. SOP nya sampai ke sana.  Bagaimana cara memetik cabai dengan baik dan benar  sehingga kerusakan bisa ditekan,” tandasnya. Kedua bagaimana pestisida bisa dikurangai dengan teknologi ini.

Perusahaan yang berlokasi  Candi Semarang, Jawa Tengah ini kembali menenkankan bahwa tugas utamanya adalah membuat produk mesin, alat, berbasis teknologi ozon atau plasma, yang didasari filosofi riset untuk rakyat.

“Maka seberapapun permintaan petani bisa layani, bisa kita buatkan alatnya.  Seberapapun kebutuhan petani bisa kita buatkan alatnya. Sehingga tingkat lose atau terbuang bisa ditekan, atau yang ekstrem tidak dibuang buang saat harga murah,” tegasnya.

Dan dengan D’Ozon hasil panen bisa disimpan lama namun tetap segar, dan dijual saat harga tinggi, hingga tidak ada istilah dibuang. Teknologi ozon juga sangat membantu petani yang kapasitas produksinya tidak terlalu besar. “ Sehingga menahan saat harga jatuh mengurangi kerusakan, atau pada saat harga tinggi panen baru dijual ini keuntungan dengan teknologi ini,” papar Azwar.

Kemudian pestisida yang menempel bisa rontok 90 persen, hingga masa seharnya bisa lebih lama. Cabai sampai 2 bulan lebih, sayuran sampai 2 minggu. Kalau petani bisa melakukan ini maka tidak akan merugikan petani karena kehilangan pada hasil panen bisa dikurangi.

Ide produksi massal alat ini katanya bisa dilakukan, tetapi memang mauaranya kembali pada petani. Petani harus bisa menggunakan alat ini dan menerapkannya di kalangan mereka sendirti.  Bahkan harga bisa mereka  jangkau dan juga perlu dipertimbangkan tidak harus satu alat untuk  satu keluarga, karena bisa satu alat  satu kelompok .

“Karena sebenarnya kita bisa membuat alat hanya dengan  kapasitas 150 gram per jam, hanya dengan satu setengah juta rupiah, bisa punya alat ini. Tetapi jika satu alat harganya  kurang dari 200 juta rupiah  kok tidak bisa investasi ada yang perlu dibicarakan. Satu kelompok dengan 25 anggota, atau rumah tangga kan bisa setiap rumah tangga petani investasi 10 juta saja,” katanya.

Sejatinya teknologi ini tidak perlu dukungan bank atau pemerintah, bahkan cukup satu alat  bisa dibeli oleh satu kelompok. yang penting punya kebersamaaan. Karena harga teknologi murah.

Azwar menegaskan, kelihatannya harga memang mahal tetapi kalau disangga bersama jadi murah. Harga misalnya 75 juta rupiah kalau diasangga 25 anggota dalam sebuah kelompok berarti hanya butuh 3 juta per anggota. Sudah memiliki teknoloni D’Ozon. (gon/Y-2)

Leave A Reply

Your email address will not be published.