Proses Adaptasi Manusia Masih Lambat, PB HMI Luncurkan Program Generasi EMAS 2045

JAKARTA, CAKRAWALA.CO – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) melakukan launching kegiatan dengan tema, “Generasi EMAS 2045″, yang juga merupakan singkatan dari “Energik, Multitalent, Aktif dan Spiritual”.

Ketua Panitia A. Ikram Rifki dalam laporannya menyampaikan bahwa, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keinginan bahwa suatu bangsa tidak boleh hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi tapi juga harus fokus pada pengembangan kualitas manusia, dengan begitu akan terjadi proses pembangunan yang berkelanjutan.

“Sehingga, penting bagi kita tentunya agar kiranya bersama-sama mewujudkan Generasi EMAS demi Indonesia jaya di 100 tahun Indonesia nanti tepatnya di tahun 2045,” tegasnya. Minggu, (19/5/2019).

Sekjend PB HMI Naila Fitria membuka resmi kegiatan ini yang bertanda dimulainya program mewujudkan Generasi EMAS 2045 Mei-Desember 2019.

Dalam kesempatannya, ia menekankan seandainya boleh nantinya ke depan, penting kiranya mendorong Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk bekerjasama mewujudkannya.

“Jika bisa ide tentang satu PAUD satu desa mungkin aalah satu gagasan yang penting untuk kita dorong bersama,” ungkapnya.

Naila Fitria juga berpendapat bahwa, proses pengabdian kader dalam proses pendidikan anak usia dini harus mampu memastikan pendidikan yang inklusif, setara, juga mendukung kesempatan untuk belajar seumur hidup bagi semua.

“Melalui program ini, kita berharap menjadi ruang pengabdian sebagaimana tujuan HMI mewujudkan masyarakat adil makmur,” harapnya.

Direktur PAUD Muh. Hasbi mengungkapkan bahwa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.

“Saya merasa bangga,bahwa anak muda dalam hal ini PB HMI ingin ikut memikirkan bagaimana masa depan bangsa. 2045 harus benar-benar terwujud mengingat perubahan yang begitu cepat sedangkan proses adaptasi manusia lambat,” lugasnya.

Bangsa-bangsa yang cepat beradaptasilah yang kemudian akan menjadi bangsa pemimpin, sedang yang lamban akan menjadi bangsa pengikut. Maka kita harus optimis, masa depan kita harus menjadi pemimpin bukan menjadi pengikut.

“Kita harus menyiapkan karakter yang berintegritas, kritis, kreatif, komunikatif dan mampu kolaboratif. Itulah karakter yang kita harapkan sehingga 2045 kita dapat terwujud,” tandasnya.

Pada talkshow, Heri Chariansyah yang banyak berkecimpung dalam dunia advokasi mengungkapkan bahwa, Bonus Demografi yang diharapkan adalah generasi yang produktif, jangan sampai generasi yang non produktif karena tidak dibekali dengan pendidikan yang kontekstual.

“Upaya PB HMI yang memikirkan puluhan tahun kedepan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa masa depan bangsa Indonesia akan tetap ada,” ucapnya.

Ia melanjutkan bahwa pola pendidikan anak pada umumnya ditemukan masih banyak terjadi kekerasan terhadap anak, ini harus diatasi dengan pendidikan anak usia dini yang edukatif bahwa di ujung rotan ada Emas itu tidak lagi cocok.

Triyanti Anugrahini sebagai narasumber juga melanjutkan bahwa, perkotaan dan pedesaan memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam proses melakukan pendampingan penting kiranya kita sadar bahwa perkataan, hati, tangan dan kaki harus benar-benar sesuai.

“Kata-kata harus pas yang tidak menyinggung perasaan, lalu melakukannya dengan hati sehingga prosesnya menjadi sangat humanis, tangan harus sadar bahwa kita tengah melakukan kreasi bahwa yang kita lakukan adalah demi kebaikan, terakhir kaki yang harus selalu sadar dimana kaki kita berpijak,” tuturnya.

Lanjut Yanti, mengibaratkan panah dan busur, maka anak adalah busurnya, orang tua adalah panahnya yang mendorong busur sebagai anak untuk mencapai tujuannya.

Kemudian ditutup dengan ungkapan Khalil Gibran bahwa, “anakmu bukanlah anakmu yang berarti bahwa jangan perlakukan anakmu atas keinginanmu,” kutipnya.

Diskusi ini dihadiri ratusan kader HMI, Ketua Bidang PB HMI Abd. Muis Amiruddin mengungkapkan ucapan terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat sehingga launching kegiatan generasi EMAS ini terwujud. Semoga apa yang kita cita-citakan menjadi berkah untuk kita semua. (ari/wira)

Facebook Comments
%d bloggers like this: