Cakrawala News
Portal Berita Online
Banner Sky Kiri
Banner Sky Kanan

Profesor Ekonomi IPB Nilai Menteri Kabinet Kerja, 50 Persen Menteri dari Profesional

BOGOR – CAKRAWALA.CO – Guru Besar Fakultas Ekonomi Manajemen (FEM) IPB University, Prof.Didin S Damanhuri menilai Kabinet Kerja Jilid I harus banyak perubahan. 50 persen kursi sebagian harus diisi profesional bahkan menempatkan meteri dari kalangan milenial.

“Karena ikut pak Jokowi saja, harusnya 50 persen lebih diisi profesional saja dari non partai, dari profesional partai ya sisannya,” kata Prof Didin diwawancarai VIVAnews, disela-sela Kuliah Umum bersama wakil KEIN RI Arif Budimanta, PANCASILAMONICS : Jalan Membangun Kemajuan, Kemakmuran dan Kesejahteraan Bangsa, di IPB, Sabtu 19 Oktober 2019.

Menurut Didin, kabinet menteri yang diisi oleh profesional agar kinerja pemerintah lebih fokus dengan tidak memikirkan beban partai.

“Karena supaya lebih fokus, karena profesional non partai tidak memiliki beban partai dari partai pun banyak profesional tetapi bagaimanapun ada pikiran pikiran yang begitu,” kata Didin.

Dalam kesempatan itu, deretan menteri pun dinilai dan disebutkan oleh Prof Didin memiliki posisi jabatan yang harus diisi profesional. Selain itu, dia menyebut deretan menteri yang menonjol dan kurang dalam kabinet Kerja Jilid I.

“Misalnya contoh ya. Menteri keuangan jangan ada beban partai, Menko perekonomian, Kemaritiman, ya kalau partai ya kaya menteri tenaga kerja oke lah,” kata dia.

Didin menilai menteri dalam kabinet kerja dari indikator makro di era Presiden Joko widodo. Di mana Indonesia mengalami deindustrialisasi yang harus terus dievaluasi.  Bagian lain, struktur kementerian pertanian yang kurang sehat perlu juga dievaluasi.

Kementerian Lingkungan Hidup yang menagani hutan harus dievaklluasi. Sebab, persoalan pembakaran hutan tidak kunjung selesai. “Bukan kebakaran kan yang jadi sawit, presiden harus mendukung menteri yang melakukan itu,” kata dia.

Kinerja yang menonjol seperti menteri keuangan, menteri Reformasi Birokrasi,  menteri kelautan, PUPR. “Bagus dan menonjol, pertanian sedang-sedang saja. Masalah-masalah pangan tidak selesai, impor masih tinggi. Meski 700 orang ditangkap tidak refleksikan kepada perbaikan govermennya,” kata Didin.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, kata Didin menilai kinerjanya kurang efektif. Termasuk dinilai dari 16 paket reformasi. Sedangkan, lanjut Didin, menteri perhubungan  yang belum bisa menyelesaikan permasalahan di Indonesia. Mulai dari sarana transportasi mangkrak seperti Bandara Kerta Jati, konflik angkutan umum online dan tidak online.

“Menko Perekonomian dan Perhubungan) itu kurang efektif, saya tidak tahu mengapa. Tetapi butuh sosok yang lebib kuat,” kata Didin.

Kinerja yang paling disorot oleh Didin adalah Menteri Kominfo, Rudiantara. Menurutnya, terdapat khusus yang harus diperbaiki terutama menyelesaikan masalah di Indonesia.

“Lebih baik penyelesaian security dibidang digital itu tidak dengan politis pendekatannya gitu loh. Karena ada masalah politis ini langsung. Itu merugikan sekali. Ini ekstrim ya, china itu kan punya lokal konten, kan lebih baik pendekatan itu. Sehingga hoax orang-orang tercegah karena memiliki lokal konten. Saya kira Kominfo tidak memiliki inovasi, kurang tidak ada terobosan menyelesaikan problem-problem digital,” cetus Didin.

Didin juga menyinggung kinerja Kementerian UMKM yang dinilainya perlu ditempatkan orang kuat menyelesaika  perekonomian secala micro.

“Menteri UMKM, tidak ada suarannya itu sektor perlu orang kuat juga. Bicara sosial ekonomi, UMKm dan koprasi, tidak hanya kerjasama dengan menengah kecil dan sebagainya tetapi kemitraaan, itu tidak terdengar. Saya kira pelu yang lebih energik, sekarang presiden jauh lebih bebas memilih orang yang profesional,” katanya.

Khusus UMKM dan Kominfo ini Didin mencetuskan agar melibatkan para generasi milenial sebagai profesional yang ambil andil dalam terobosan. Misalnua, mengangkat Nadiem Makariem dan Achmad Zaky.

“Mungkin lebih memiliki terobosan misak mereka di kominfo tetapi juga bersama UMKM, bisa didua tempat ini. Generasi mudanya bisa di kominfo dan di UMKM. S Milenial mengutamakan Kerjasama kolaborasi ya yang sedang menonjol itu, bukan kompetisi yang mematikan. Itu perlu terjemahan lewat kebijakan-kebijakan yang terobosan,” kata Didin.***(abu abizar/Doni)

%d bloggers like this: