Cakrawala News
Portal Berita Online
Banner Sky Kiri
Banner Sky Kanan

Pos Indonesia Targetkan Anak Usaha 1 Miliar Dollar

Untuk mengembangkan bisnisnya, PT Pos Indonesia memiliki target. Dirut PT Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono mengaku ingin sekali salah satu anak perusahaannya segera tambah besar dan memiliki nilai yang sudah di atas USD 1 miliar. ”Nah sekarang Poslog sedang kita kembangkan untuk memiliki bisnis trading logistic dan kurir. Kita tahu di Revolusi Industri 4.0 aset itu ada di data. Kalau mau melihat data di start-up, value mereka dari real data itu. Jadi saya berharap Poslog bisa masuk ke kurir, logistik untuk bisa membantu pembangunan ekonomi untuk bisa membantu UMKM. Yang di layanan keuangan juga kalau bisa membantu memberi solusi,” ujarnya.

Di Indonesia belum ada satu pun perusahaan yang secara robust melayani COD (Cash on Delivery). Padahal masyarakat sangat menginginkan COD. Nah, ini bisa dimanfaatkan perusahaan jasa finansial yang di bawah PT Pos, sehingga COD bisa dilayani dengan baik.

”Saya ingin dua perusahaan ini bisa bertransformasi, yang bisa mengikuti jejak seperti Tokopedia dan perusahaan unicorn-unicorn yang lain dengan nilai USD 1 miliar. Target ini sangat menantang, tapi saya percaya itu bisa tercapai,” tandasnya.

Target go international? ”Kalau untuk anak perusahaan, iya. Model DHL dan Deutsch Post itu adalah model yang ideal. Deutsch Post membeli perusahaan logistik DHL yang kemudian dibesarkan dan Go-Global. Bayangan saya juga sama, yang Go-Global bukan Pos Indonesia, tapi Poslog-nya, Pos Fin-nya bisa Go-Global. Lalu apakah kita menyiapkan diri? Iya, all out kami menyiapkan diri, tapi dengan semua keterbatasan,” tandas Gilarsi.

Apa target membentuk anak perusahaan? Dirut PT Pos Indonesia menerangkan, dengan layanan PSO (Public Service Obligation) digabungkan dengan layanan komersial selalu ada konflik. ”Jadi kita sedang upaya dengan transformasi itu, nanti semua hal-hal yang komersil akan diturunkan ke anak perusahaan. Jadi misalnya kurir kan ada dua, yaitu yang berbasis layanan publik tetap di induk, dan yang layanan komersial diturunkan ke anak perusahaan. Jadi anaknya dibesarkan tapi induknya diperkecil, nggak apa-apa,” ujarnya.

Demikian pula dengan layanan jasa finansial. Hal-hal mengenai giro pos, mengoperasional hal-hal protokol tetap di induk. Kalau yang sifatnya komersial, seperti money transfer dan lain-lain di anak perusahaan. Kenapa di anak? ”Karena kita membutuhkan dana segar, sedangkan induk memiliki dana dari pemerintah terbatas untuk layanan publik. Upaya kita mendapatkan modal baru dengan kemitraan dengan anak perusahaan agar semakin kompetitif,” jelasnya.

Target lainnya pada 2019, salah satunya, seluruh kiriman di Pulau Jawa harus bisa terlayani maksimal 72 jam. ”Beberapa tes yang kita lakukan misalnya pengiriman paket dari Jawa Timur ke Jawa Barat bisa sampai 24 jam. Jadi kita memperbaiki pola operasi kita, termasuk etika kerja,” ujar Gilarsi.

Ini membaik, tapi memang belum konsisten di beberapa daerah. ”Ini sedang kita perbaiki, dari waktu ke waktu akan semakin membaik. Kadang ada yang tercecer, sehingga target waktu tempuh tidak tercapai. Saya tidak memungkiri problem itu masih ada, tapi sudah jauh lebih sedikit, termasuk masalah kehilangan sudah jauh lebih sedikit,” katanya.

Problem lainnya, lanjut Gilarsi, perusahaannya juga melakukan kiriman-kiriman PSO yang tarifnya ditentukan pemerintah, bertarif murah karena diwajibkan pemerintah. Hal ini dimanfaatkan perusahaan kurir lain untuk mengirim barang dengan tarif murah. ”Kami tidak bisa menolak karena publik yang mengirimkan. Ini dilema.

Terus terang untuk kiriman bertarif murah, buat Pos itu rugi, karena biaya operasional lebih mahal dari tarif yang ditetapkan. Ini tentu saja menjadi tidak adil. Padahal tarif itu ditetapkan untuk masyarakat yang tidak bisa menjangkau tarif komersil,” jelasnya.

Jadi, kata Gilarsi, pihaknya mendiskusikan dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bagaimana agar tidak ada harga khusus, karena sudah sangat sedikit masyarakat yang membutuhkan tarif spesial itu. Ini sedang mendiskusikan dengan Kemkominfo agar tarif ini tidak bisa disalahgunakan perusahaan kurir lain atau untuk tujuan-tujuan komersil lain. Karena ini menjadi kompetisinya tidak adil.

”Tapi, makin ke sini kita kian beres. Pos berubah, tetapi memang kecepatan perubahan diakui tidak secepat dengan perusahaan start-up. Posisi kita di marketplace tadinya paling bawah, sekarang posisi kita sudah membaik, di beberapa marketplace sudah di nomor dua dan tiga. Karena pos ini basisnya trust (kepercayaan), untuk mengembalikannya butuh kerja sama dari para mitra bisnis kita. Kita juga memanfaatkan sinergi BUMN untuk memperbaiki diri jadi lebih baik,” tandasnya.

Bagaimana dengan PT Pos Properti Indonesia?Kalau perumahan saya tertarik, tapi konteksnya adalah teknologi industri, seperti 3D printing house seperti di China. Jika di Indonesia kan belum ada, saya ingin Pos Properti masuk ke situ, kita butuh lahan baru di situ,” katanya.

Bayangkan, lanjut Gilarsi, PT Pos bisa membangun rumah 3D printing dalam waktu 24 jam, ukuran rumahnya kira-kira 60 meter. Biayanya berapa? Di Austin, Texas (Amerika Serikat) itu dicoba biayanya USD 4.000 sudah jadi rumah. ”Wow, Rp 60 juta dengan rumah 60 meter, tinggal tanahnya saja yang dihitung berapa, itu kan memudahkan kita membangun rumah, dan masyarakat kita masih membutuhkan. Di China ada rumah 3D printing sampai lima lantai. Itu bukan sains fiction, itu sudah terjadi,” ujarnya.

”Sekarang di Indonesia belum ada. Kalau di Indonesia ada seperti itu saya ingin Pos Properti masuk ke situ. Saya akan sangat support sekali. Kalau itu terjadi, banyak sekali nelayan, orang-orang kecil sangat terbantu sekali. Tapak tanahnya sudah ada, tinggal dibantu bangun rumah,” tambahnya. (tim)

Facebook Comments
%d bloggers like this: