Cakrawala News
Portal Berita Online

Petukaran KIM Indonesia -Malaysia, Kesempatan Saling Belajar dan Memotret Peluang

Bagian II

Oleh: Janur M Bagus

Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Indonesia ternyata tidak kalah hebat dari Komuniti Harapan Malaysia (KHM) yang mereka sebut sebagai KIM-nya di Malaysia. Jika kehebatan KHM lebih banyak mendongkrak komunitas berbasis produk-produk kearifan lokal yang didorong dengan support anggaran pemerintah yang memadai sehingga digenjot untuk memiliki daya saing, maka KIM Indonesia sesungguhnya lebih dari sekdar itu…

KIM Indonesia memiliki peran proporsional sesuai dengan nama dan sebutannya sebagai Kelompok Informasi Masyarakat yang fokus dan konsisten menjadi garda terdepan pasukan Informasi yang memberikan pencerahan serta menyaring berbagai informasi Hoaks atau berita bohong dengan berbagai cara serta media yang dimiliki masing-masing KIM di Indonesia.

KIM Indonesia tidak atau belum mendapatkan support anggaran pemerintrah untuk kegiatan operasionalnya melainkan hasil swadaya, sukarela sebagaimana lahirnya KIM-KIM yang ada saat ini benar-benar dari rakyat oleh dan untuk rakyat. Kalaupun pemerintah hadir lebih kepada regulasi serta support penguatan SDM agar memiliki dasar serta pengetahuan yang mapan terkait peran dan fungsinya sebagai masyarakat penggiat informasi (ini hebatnya KIM Indonesia).

Maka ketika delegasi Indonesia tiba di Malaysia dalam Program Pertukaran Pegawai Penerangan dan Kelompok Informasi Masyarakat Indonesia-Malaysia yang dipimpin langsung oleh Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik Prof. Widodo Muktiyo, yang berkembang dalam diskusi setiap pertemuan delegasi baik kelompok maupun individu  adalah pertanyaan apakah yang telah dilakukan KIM Indonesia dan Malaysia,  maka jawabannya-pun sedikit berbeda karena memang eksistensi KIM dan KHM memiliki fokus dan orientasi yang sedikit berbeda meskipun sama-sama berada dibawah lembaga yang membidangi penerangan (di Malaysia) dan Komunikasi/Informasi (Indonesia).

Jawaban KHM tentu saja menunjukan hasil karya yang telah mereka perbuat dalam bentuk karya maupun lainnya yang ditunjukan dengan fakta-fakta bahkan tidak sedikit para delegasi KIM Indonesia harus kerepotan membawa barang-barang cideramata hasil dari kegiatan dan kreatifitas KHM dalam eksistensinya.

Pun tidak sedikit penjelasan yang kami terima dari para penggiat KHM Malayasia seperti yang dijumpai di KHM PERAMU yaitu Komuniti Harapan Malaysia Berbasis Komunitas Nelayan karena berada dan berbasis di kampung nelayan berbatasabn dengan laut Cina Selatan di Kuantan Negeri Pahang Malaysia.

Zulkipli Dagang Ketua dari KHM Peramu menjelaskan bahwa kiprahnya selain mendongkrak berbagai potensi hasil tangkapan laut para nelayan anggota KHM Peramu juga secara rutin dan berkala mengadalan pertemuan antar anggota membahas berbagai kebijakan kerajaan yang harus disampaikan kepada seluruh warga masyarakat di wilayah kerja KHM Peramu.

Zulkifli menyebut mereka menjadi corong atau jembatan komunikasi langsung untuk menyampaikan program-program yang telah diperbuat kerajaan untuk rakyatnya, sehingga seluruh rakyat paham dan dapat merasakan manfaatnya.

Penjelasan Zulkifli Dagang sama persis dengan informasi yang kami terima dari pada para pejabat penerangan Negeri Pahang bahwa KHM mereka berdayakan sebagai bagian dari ujung tombak dalam menyampaikan informasi yang menjadi garis-garis kebijakan kerajaan secara umum.

Di Indonesia KIM malah berfungsi lebih dari sekedar penyampai informasi yang menjadi kebijakan pemerintah, malah dalam kenyatannya KIM Indonesia lebih banyak menyuarakan informasi-informasi yang berasal dari apirasi warga masyarakat dari berbagai lapisannya, jadi KIM di Indonesia berfungsi menjadi lalu lintas informasi dari  pemerintah untuk masyarakat, dan dari masyarakat untuk pemerintah.

Penulis rasa ini yang lebih dari KIM Indonesia yang mampu menjadi jembatan komunikasi dua arah yang terstruktur dan terorganisir sehingga benar-benar akurat dan tidak menjadi fitnah maupun hoaks. Mari kita telusuri kembali prinsip-prinsip  KIM Indonesia yang berjalan pada ADINDA  (Akses, Diskusi, Implementasi, Networking, Diseminasi dan Aspirasi).

Akses, adalah Akses Informasi yaitu melakukan aktivitas untuk mengakses   informasi dari berbagai sumber, baik sumber langsung maupun tidak langsung,

Diskusi adalah sebuah sacara yang dilakukan KIM  setelah mengakses informasi kemudian dilakukan diskusi, tukar menukar informasi, dan memecahkan masalahnya,

Implementasi sebuah  tahapan yang sebelumnya diputuskan akan menerapkan atau mendayagunakan pengetahuan atau informasi yang telah di peroleh itu,

Networking  sebuah jejaring atau jariangan yang merupakan hubungan antar KIM atau antara anggota setiap KIM secara teratur dalam rangka saling tukar menukar informasi.

Diseminasi dalam konteks ini adalah Desiminasi Informasi (Penyebaran Informasi) yaitu menyebarluaskan informasi, bisa dilakukan bila informasi itu sudah diolah dan diyakini sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Aspirasi, instrumen terakhir didalam prinsip-prinsip KIM yaitu kegiatan KIM tidak saja menyebarkan informasi tetapi juga menyerap aspirasi masyarakat yang kemudian dapat disampaikan baik secara langsung maupun melalui berbagai media yang yang dikelola KIM dimasing-masing wilayah kerjanya.

Enam prinsip inilah yang belum sempat kami korek dan kami jumpai di KHM Malaysia, entah karena keterbatasan waktu kami para delegasi yang sangat marathon dalam pertemuan ketemuan atau memang secara prinsip memang KHM sedikit berbeda dengan pijakan yang digunakan KIM di Indonesia…..Bersambung

***Penulis adalah Ketua Forum Komunikasi Kelompok Informasi Masyarakat (FK-KIM) Kabupaten Garut, salah satu Delegasi Pertukaran KIM Indonesia-Malaysia tahun 2019

%d bloggers like this: