Cakrawala News
Portal Berita Online

Persaingan Industri Televisi dengan Media Sosial demi Selera Masyarakat

0

Persaingan Industri Televisi dengan Media Sosial demi Selera Masyarakat

Oleh Jessica Nathalia, Luthfia Agista, dan Muh. Kemal David

(Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia)

 

Etika bisnis sama halnya dengan etika secara umum bertujuan memberikan ajaran untuk membedakan antara salah dan benar (Hill dan Jones 1998). Hal tersebut bertujuan sebagai pedoman untuk pemangku perusahaan dapat bijak dalam mengambil keputusan. Penerapan etika bisnis dapat memperlancar hubungan antar pihak manajemen dengan stakeholder. Etika yang ada dalam dunia bisnis adalah pengetahuan pemangku usaha tersebut mengenai bagaimana cara yang ideal untuk mengelola bisnis yang berdasarkan pada norma serta moral secara umum (Muslich, 1998).

Dalam penerapannya terdapat beberapa prinsip etika bisnis, yaitu prinsip otonomi, kejujuran, keadilan, saling menguntungkan, dan integritas moral (Keraf, 1998). Prinsip ini dijalankan demi kelangsungan penerapan etika bisnis yang baik di lingkungan perusahaan. Namun, terdapat beberapa pihak yang melanggar demi keuntungan pribadi, termasuk dalam industri televisi sekalipun tidak luput dalam kondisi seperti ini.

Industri televisi Indonesia mengalami kesulitan memunculkan program yang diminati masyarakat karena minat masyarakat sudah beralih ke media lain, hal tersebut menyebabkan program televisi yang ditampilkan terpaksa harus mengikuti selera pasar, di mana yang dimaksud selera pasar di sini adalah selera dari masyarakat Indonesia agar dapat bertahan dalam persaingan digital sehingga tetap selamat.

Saat pandemi menyerang di awal tahun 2020, penggunaan media komunikasi digital berbasis online semakin banyak digunakan oleh masyarakat. Mulai dari kebutuhan pendidikan, pekerjaan, dan hiburan. Hal ini menyebabkan naiknya user atau pengguna media sosial di Indonesia bahkan pengguna media sosial aktif tumbuh 6,3 persen atau 10 juta orang (Hootsuit, 2021).

Di dalam media online acara hiburan semakin banyak ditemukan. Minat masyarakat pun semakin beralih dari televisi ke media sosial seperti Instagram dan Tiktok yang memuncak selama masa pandemi. Industri televisi Indonesia mengalami kesulitan memunculkan program yang diminati masyarakat karena minat masyarakat sudah beralih.

Program televisi yang ditayangkan terpaksa harus mengikuti selera pasar demi bersaing dengan konten-konten di media sosial. Namun, sayang persaingan ini berakhir buruk untuk kualitas dari program yang ditampilkan. Demi menyesuaikan selera masyarakat terkadang stasiun televisi atau lembaga yang mengatur penayangan televisi melupakan kualitas dari setiap program yang ditonton. Dibandingkan dengan televisi, masyarakat lebih menyukai media sosial karena dapat dikatakan mereka merasa lebih dekat dengan idolanya, makanan kesukaan, kegiatan sehari-hari, barang yang idola mereka belanjakan, hingga urusan pribadi seperti siapa pasangan idola mereka saat ini.

Transparansi ini tanpa disadari sudah tercipta di media sosial sehingga masyarakat dapat melihat langsung kehidupan sehari-hari para artis Indonesia dengan mudah dan lebih personal. Terlebih konten yang di upload pada laman media sosial artis tersebut adalah hal yang ia putuskan sendiri untuk di upload bukan karena pekerjaan atau wawancara di televisi. Transparansi ini memiliki kelemahan karena tidak setiap orang dapat memfilter apa yang mereka tunjukkan atau katakan di media sosial. Televisi tidak memiliki transparansi sebesar media sosial sehingga daya tarik masyarakat jauh menurun. Untuk mengikuti hal ini, stasiun televisi menampilkan program yang terkadang hanya membahas hal yang seharusnya menjadi privasi demi memenuhi rasa penasaran dan daya tarik masyarakat.

Salah satu acara televisi yang melanggar aturan yang ditetapkan KPI daerah Jawa Barat adalah acara Lesti Kejora dan Rizky Billar. Acara ini dianggap sembrono karena menggunakan jam tayang sebanyak 7 jam. Hal ini di luar peraturan yang telah ditetapkan untuk durasi penayangan sebuah acara di televisi. Acara tersebut juga dikatakan sembrono karena menggunakan durasi yang lama dan acara itu berisikan hal-hal pribadi. Stasiun televisi yang menayangkan acara tersebut dikatakan melanggar aturan dasar KPI yaitu program siaran harus dimanfaatkan untuk kepentingan publik bukan untuk kepentingan kelompok tertentu. Aturan kedua yang dilanggar adalah permasalahan kehidupan pribadi tidak boleh dijadikan materi yang ditampilkan dan/ atau disajikan dalam seluruh isi mata acara kecuali demi kepentingan publik.

Tentu keberlangsungan acara ini dapat berjalan dengan dukungan dari masyarakat Indonesia yang ikut serta menonton. Bukan hanya menonton untuk sekadar mendukung tetapi jika masyarakat menonton dengan alasan tidak suka pun mereka masih menyumbang hitungan penonton untuk keberlangsungan acara tersebut. Terlebih lagi dua publik figur tersebut juga memiliki media sosial yang ramai pengikutnya. Kegemaran masyarakat untuk mengikuti kehidupan para artis idola atau sekadar melihat video yang viral ini seakan menghapus esensi dari tayangan televisi yang sesuai dengan tujuan pada peraturan KPI. Akan tetapi, industri televisi Indonesia akan mengalami kesulitan juga jika acara yang ditayangkan sepi penonton. Dibutuhkan kerja sama dan dukungan penuh dari setiap pihak untuk meningkatkan kualitas dan memenuhi televisi dengan acara yang bertujuan baik namun tetapi menghibur masyarakat.

Sebuah acara memiliki etika dan aturan penyiaran yaitu acara yang ditayangkan di televisi harus memiliki manfaat dan ditayangkan demi kepentingan umum. Dalam kasus acara Billar dan Lesti yang memakan waktu hampir 7 jam, banyak pihak yang merasa bahwa acara tersebut ditayangkan hanya untuk kepentingan sekelompok orang saja. Hal tersebut tentunya melanggar etika dari penayangan acara di televisi karena bukan untuk kepentingan publik. Di dalam Standar Program Siaran KPI Pasal 13 (2) dijelaskan bahwa program acara televisi tidak boleh berisi tentang permasalahan kehidupan pribadi dan disajikan dalam seluruh isi mata acara, kecuali demi kepentingan publik.

Kaitannya dengan kasus ini adalah pelanggaran terhadap penghormatan hak privasi kedua artis tersebut. Walaupun jika kedua artis tersebut telah menyetujui agar pernikahannya ditayangkan, perlu di ingat kembali bahwa acara tersebut hanya untuk kepentingan sekelompok tertentu yaitu pihak artis dan para penggemarnya, bukan hal yang penting dan bermanfaat untuk dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Dalam Standar Program Siaran KPI Pasal 11 ayat 1 dijelaskan bahwa program siaran wajib dimanfaatkan untuk kepentingan publik, tidak untuk kepentingan kelompok tertentu. Dalam Standar Program Siaran KPI Pasal 11 ayat 2 juga dijelaskan bahwa program siaran dilarang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pemilik lembaga penyiaran dan kelompoknya. Aturan tersebut mengacu kepada lembaga penyiaran yang melakukan penayangan acara Lesti dan Billar demi keuntungannya sendiri seperti rate dan penonton yang tinggi mengingat banyaknya penggemar kedua artis tersebut.

Kesimpulannya, setiap acara yang ditayangkan di televisi harus memiliki manfaat untuk seluruh penonton televisi. Acara yang ditayangkan tidak boleh mementingkan sekelompok orang saja. Waktu penayangan acara juga harus disesuaikan agar tidak berlebihan.

Semua stasiun televisi dan pihak-pihak yang bersangkutan harus bisa mematuhi aturan yang telah diciptakan demi kebaikan bersama. Seiringan dengan hal tersebut, lembaga hukum dengan Komisi Penyiaran Indonesia harus dapat bekerja sama untuk bertindak tegas dan memberikan sanksi yang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan agar memberikan efek jera dan kedepannya permasalahan serupa tidak terjadi lagi. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.