Cakrawala News
Portal Berita Online
ads bukopin

Perajin Batik Diminta Olah Limbah Sebelum Dibuang Ke Sungai

0 26

JOGJAKARTA,CAKRAWALA.CO- Anggota DPRD DIY dari fraksi Golkar Lilik Syaiful Ahmad melakukan sosialisasi Perda nomor 7 tahun 2016 tentang Ambang Baku Mutu Air limbah, dihadapan puluhan perajin batik di Lendah Kulonprogo Rabu (15/7/2020).

Anggota Komisi C DPRD DIY, Lilik Syaiful Ahmad mengatakan, sosialisasi perda ini sengaja digelar di sentra kerajinan batik di Lendah Kulonprogo. Sebab dari proses produksi batik akan dihasilkan limbah yang berpotensi menyebabkan pencemaran. Oleh karena itulah perlu terus dilakukan pendampingan kepada perajin batik agar pengolahan limbahnya benar, sehingga pencemaran bisa dicegah dan kelestarian ekosistem alam tetap terjaga.

“Warisan lingkungan ini harus dijaga, kita harus bangun kesadaran pengolahan limbah yang sesuai ambang baku mutu, agar tidak membahayakan lingkungan ” ungkap Lilik Syaiful Ahmad.

Politisi Partai Golkar ini, komitment dalam mengembangkan batik Kulonprogo lebih luas. Sebelum menjadi anggota DPRD Lilik sudah mengembangkan bisnis batik menggandeng perajin lokal Kulonprogo.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kulonprogo Sumarsono yang bertundak sebagai narasumbet dalam sosialisasi teraebut mengingatkan kepada para pelaku industri batik untuk melakukan pengolahan air limbah sebelum dibuang ke sungai. Air yang dibuang harus memenuhi ambang baku mutu, agar air tidak menimbulkan pencemaran.

“Air limbah ini jangan dibuang dulu, tetapi harus diolah dengan instalasi agar tidak mencemari. Ini semua untuk anak cucu kita di masa mendatang,” kata Sumarsono

Saat ini, imbuh Sumarsono, produksi limbah yang dihasilkan masih terbatas. Namun dengan kondisi ekonomi di Kulonprogo yang terus menggeliat, maka sangat mungkin industri batik akan berkembang pesat. Hal ini harus diantisipasi sejak dini, agar limbah yang dihasilkan bisa terjaga.

“Kami siap mendampingi perajin dan pengusaha batik agar bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan aturan yang ada,” ujarnya.

Saat ini instalasi pengolahan air limbah (Ipal) sudah ada, namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

” Ke depan Ipal yang sudah ada harus bisa difungsikan kembali. Apalagi dari UGM juga sudah memberikan hibah alat portabel pengolahan limbah,” tuturnya.

Sementara itu, Hanang seorang perajin batik berharap adanya dukungan dan fasilitasi dari pemerintah terhadap pengembangan batik di Kulonprogo. Baik dalam pengolahan limbah maupun sarana pemasarannya.

” Kami berharap pengolahan.limbah kami.diawasi terus agar pengolahan limbah semakin baik dan tidak.membahayakan,” pungkas Hanang. ( Okta/ Santosa )

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: