Tuduhan Penggelapan, Anggota Koptan ASA Polisikan Ketuanya

BANJAR JABAR CAKRAWALA.CO ,- Ketua Koperasi Petani Agropolitan Sumber Alam (Koptan Asa), Yudo Hernowo, Jum’at (23/8/2019) memenuhi panggilan Satreskrim Polres Banjar. Yudo dipanggil untuk dimintai keterangan terkait laporan anggotanya dengan tuduhan dugaan penggelapan.

“Saya selaku Ketua Koptan ASA dipanggil untuk penyidikan tuduhan penggelapan yang dilakukan Koptan ASA senilai 35 ton gula ravinasi atau senilai Rp. 300 juta, oleh Khaqimah Putri Wahtuti, kepada kami,” ucap Yudo Hernowo, usai melakukan pemeriksaan.

Kejadian yang terjadi pada Tahun 2019, medio Januari-Juni, diceritakan Yudo, Koptan ASA saat itu mendistribusikan gula ravinasi kepada anggotanya.

“Jadi kami (Koperasi) tidak memperjualbelikan gula ravinasi, tetapi mendistribusikan khusus kepada anggota. Disini ada ketidaksinkronan antara kami dengan Ibu Putri, yang menjual kepada pihak lain, tanpa sepengatahuan koperasi. Sehingga pengiriman terakhir sebesar 35 ton, kami pending,” tuturnya.

Pada saat kejadian tersebut Pihak Koptan ASA dan pelapor, sepakat untuk mengembalikan dana, dan menandatangani kesepakatan tersebut.

“Tetapi, anak dari pelapor memaksa untuk mengeluarkan cek. Padahal kami sudah rembugan, bahwa dana dalam cek itu kurang, tetapi pihak pelapor mengatakan cek tersebut hanya sebagai pegangan saja. Nah ketika hendak dicairkan, karena belum ada dana, kami kemudian dilaporkan penggelapan senilai 35 ton,” imbuhnya.

Atas dasar laporannya tidak sesuai, serta yang notabene dia sebagai anggota koptan asa, tetapi malah melanggar dan juga berjalan sendiri memasarkan gula kristal rapinasi. Pihak Koptan ASA pun berencana akan melaporkan balik pelapor karena melanggar Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2019 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi, serta menjeratnya dengan Pasal 62 juncto Pasal 8 ayat 1 UU Nomor 18/2012 tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal 139 juncto 144 UU Nomor 18/2012 tentang Pangan juncto Pasal 110 36 ayat 2 Undang-Undang Nomor 7/2014 tentang Perdagangan dan Pasal 120 ayat 1 huruf b Undang-undang Nomor 3/2015 tentang Perindustrian.

“Saya selaku Ketua Koptan ASA mengintruksikan untuk lebih berhati-hati, karena bisnis ravinasi adalah bisnis regulasi. Terkait tindakan kami selanjutnya, jika merugikan institusi atau pribadi tentu kami akan melaporkan balik,” pungkasnya.***Hermanto

Facebook Comments
%d bloggers like this: