Cakrawala News
Portal Berita Online
idul cakrawala

Penggusuran, Warga Pasrah Hanya Mengacungkan Al-quran

119

JAKARTA, CAKRAWALA.CO,- Apa sesungguhnya yang sedang terjadi ketika ada warga mengacung-acungkan alquran di hadapan aparat kepolisian yang sedang melakukan eksekusi lahan di Tanjung Sari Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah?

Ya itu adalah upaya perlawanan dari ratusan warga yang menolak lahannya dieksekusi oleh Pegadilan pada 19 Maret 2018. Aparat kepolisian hanya menjalankan perintah dan karena itu menggunakan segala upaya agar lahan seluas 6,4 hektar itu bisa dieksekusi untuk kepentingan yang menang di pengadilan, yaitu ahli waris Salim Akbar.

Tetapai soal menang di pengadilan ada cerita lain, yang menurut YLBHI ada salah alamat sehingga ratusan warga masih bertahan. YLBHI mencatat adanya kesalahan tafsir putusan pengadilan yang mengakibatkan obyek sengketa yang digusur diserahkan kepada ahli waris. Kesalahan tersebut mengakibatkan sedikitnya 200an unit rumah warga digusur dan 343 KK yang terdiri dari 1422 jiwa menjadi korban. Padahal sebagian warga sudah memiliki sertifikat hak milik (SHM).

 

Soal eksekusi, polisi menghadirkan alat berat. Pasukan yang dilibatkan mencapai seribuan terdiri dari pasukan gabungan dari polisi, Satpol PP dan TNI. Ada juga kendaraan berat water canon, dan tameng dan gas air mata.

Warga sempat melawan. Namun tak ada artinya. Mereka hanya pasrah. Acara dzikir, takbir dan penyebutan la ilaaha illah, tak mampu menghentikan laju pasukan penggusur yang berjajar rapat. Sesekali mereka merangsek ke dedepan dan berhadapan-hadapan dengan warga. Sementara water canon dari belakang disemprotkan sehingga pertahanan warga bubar, kocar–kacir.

Kasus ini telah menjadi catatan tersendiri di negeri ini ada 1.411 warga korban penggusuran, Pemda tidak memberikan perlindungan. Warga berjuang sendiri, seperti tidak ada mata hati. Warga hanya dimanfaatkan ketika Pilkada dan Pemilu.

 

Ketua Fraksi Nasdem DPRD Sulawesi Tengah (Sulteng), Masykur menyesalkan sikap pasif Pemda Sulteng menyikapi penggusuran ini. Dengan dalih soal ini murni persoalan hukum, sehingga pemerintah daerah tidak bisa bertindak dan manyelami situasi kebatinan warga Tanjung Sari, merupakan sikap yang sangat mengiris hati warga korban, termasuk publik yang menyaksikan proses eksekusi tersebut. Warga hanya mengandalkan solidaritas sesama warga. Utamanya yang menjadi perhatian adalah anak-anak dan balita yang perlu penanganan khusus.

Kini rumah warga sudah rata dengan tanah. Tidak tahu lagi kemana mereka berlindung. Saya kira perlu ada langkah-langkah rehabilitasi agar sisi kemanusiaan bisa diperhatikan. Bagaimanapun di dalam hukum ada sisi kemanusiaan dan keadilan. Pemda yang memiliki warga tidak boleh pasif. (fur/UCnews/24/3/2018).

Comments are closed.