Cakrawala News
Portal Berita Online

Pelatihan Membuat Batik Shibori bagi Istri Tukang Ojol, Atasi Dampak Pandemi Covid-19

0 1,037

GRESIK, CAKRAWALA.CO – Batik shibori tengah menjadi tren saat ini. Warna dan motifnya yang unik membuat kain ini jadi primadona. Apalagi, teknik pembuatannya sangat sederhana dan cepat.

Batik shibori merupakan kain yang diwarnai dengan teknik pewarnaan celup pada kain yang diikat. shibori sendiri berasal dari Jepang, atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama ‘jumputan’.

Keunggulan batik shibori itulah yang menjadikan Yayasan Dana Sosial Al-Falag (YDSF) memilihnya sebagai materi pelatihan bagi istri para tukang ojek online (Ojol), pada Kamis (6/8/2020) yang berlangsung di halaman Bank Sampah Kelurahan Sidomoro di jalan Kartini Gang X, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

ads bukopin

Henny Eka Ferdian HP (46), pelatih dan pendamping Usaha Kecil mikro dan menengah (UMKM) pada pelatihan tersebut mengatakan, pelatihan membuat batik ini bertujuan melestarikan budaya Indonesia. Selain itu, untuk membantu para istri tukang ojol dalam meningkatkan penghasilan ditengah pandemi Covid-19.

“Secara ekonomi ini batik shibori sangat memungkinkan untuk menjadi pilihan usaha, karena selain pembuatannya cepat, nilai jualnya juga tinggi. Satu lembar kain batik Shibori bisa dijual Rp200 ribu dengan modal Rp 100 ribu,” ungkap Amik, panggilan akrab Henny Eka Ferdian HP.

Konsep pembuatan kain shibori mengandalkan teknik ikat celup. Dengan teknik ini, beberapa kain ‘dilindungi’ agar tidak terkena corak pewarna sehingga pada hasil akhirnya tercipta pola sesuai dengan bagian yang diwarnai dan ‘dilindungi’.

Teknik ‘melindungi’ kain shibori ini dilakukan dengan menggunakan teknik seperti melipat, melilit atau melintir, mengikat, menekan kain dan selanjutnya mencelupkannya pada pewarna, baik warna sintetis untuk kain atau bahkan warna alami.

Untuk bahan, Amik biasanya menggunakan kain katun berwarna putih karena sifatnya yang dapat menyerap air dan mudah diberi aneka warna sesuai selera.

Sesuai hasil pantauan di lapangan, rata-rata para peserta pelatihan mampu membuat batik shibori dalam waktu kurang lebih 15 sampai 20 menit.

“Saya sangat senang bisa mengikuti pelatihan ini, sehingga ada rencana untuk mencoba membuka usaha batik shibori,” ujar Kusmiati (35), salah seorang peserta pelatihan.

Sementara Kepala Cabang YDSF Gresik Aries Munandar berharap, para istri tukang ojol yang merasakan dapmak langsung pandemi Covid-19 tersebut bisa merasakan manfaat dari pelatihan ini dengan melanjutkannya ke jenjang pembukaan usaha.

“Kita siap memberikan pendampingan kepada peserta pelatihan hingga mereka benar-benar mandiri dalam merintis usaha,” ujarnya. (Zen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.