Cakrawala News
Portal Berita Online
idul harita

Parlemen Garut, “Serba Salah” Salah Siapa?

0 1,049

Oleh : Janur M Bagus

“Serba Salah” meminjam istilah kata serapan yang berlaku di tatar Sunda, orang tua dulu saat mengilustrasikan pemandangan yang cenderung simalakama alias “tak ada untungnya”, maka kerap muncul kata-kata Serba Salah itu.

Buah Simalakama juga identik dengan sebuah keadaan yang tidak menguntungkan sama sekali. Ibarat harus memilih jalan kanan mati ibu, jalan kiri mati bapa, sama-sama tidak ada untungnya.

ads harlah pkb

Mencermati kinerja para anggota DPRD Garut tentu saja banyak aspek yang bisa dicermati, sebagaimana perintah Undang-undang dalam Tata Negara atau Tata Pemerintahan bahwa peran dan fungsi Parlemen diberbagai tingkatannya, memiliki tugas dan wewenang antara lain: Menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat diberbagai tingkatannya.

Sejalan dengan itu dalam istilah undang-undang kita mengenal beberapa istilah terkait fungsi atau tugas Parlemen diantarnya : fungsi legislasi , fungsi Budgeting atau anggaran, dan fungsi pengawasan. Ketiga fungsi ini memungkinkan masing-masing anggota Parlemen atau anggota Dewan memiliki posisi tawar yang cukup signifikan dalam kerangka implementatif lajunya roda pemerintahan diberbagai tingkatannya.

Dalam Konteks Kabupaten Garut, sebagai kota kecil yang dinamis dan memiliki denyut aktifitas politik yang agresif membuat peran dan fungsi legislasi yang diperankan para anggota Dewan kerap kali tenggelam oleh hingar bingar kritisi serta serbuan opini yang menyudutkan bagi peran dan fungsi yang dijalankan para anggota legislatif tingkat Kabupaten tersebut.

Suara suara sumbang terus membumbung menenggelamkan kerangka program yang berpijak pada tiga fungsi bagi para legislator tersebut. sebut saja guliran Pokok-pokok pikiran Dewan atau yang lebih populer disebut Pokir kerap kali harus parkir dan bermuara di ujung meja pemeriksaan para aparat penegak hukum lantaran derasnya pengaduan masyarakat atau (Dumas) dengan berbagai cara dan saluran yang ada sehingga membuat kinerja para anggota legislatif menjadi sempit dan terkadang terhimpit ditengah jeratan opini publik yang menghujam dan menyudutkan apapun yang dilakukan para wakil rakyatnya.

Muncul pesimistis bahwa apapun yang dilakukan para anggota dewan selalu “serba salah” atau tak pernah ada benarnya dimata masyarakat baik konstituen berbasis partai politiknya maupun masyarakt secara umum yang menjadi subjek dan objek dari guliran program-program pemerintahan di Kabupaten Garut. Jika demikian keadaannya lantas apa yang salah atau siapa yang salah? sulit mencari detail penyebab pasti keculai mencari alibi atau memalingkannya pada kambing hitam yang memungkinkan untuk dijadikan batu sandaran alasan pembenar dari sebuah tudingan atau keadaan yang memaksanya.

Banyak faktor yang menyebabkan sebuah situasi jika kinerja anggota dewan terus terusan mendapatkan keritik tajam, karena memang muara awalnya tentu saja disebabkan oleh sistem politik kita yang menggambarkan sebuah keadaan dimana jabatan politik diraih dengan partisipasi publik secara langsung yang menorehkan angka kost politik yang cukup tinggi, sehingga membutuhkan banyak amunisi untuk melenggang ke Parlemen.

Amunisi inilah kemudian berujung pada kecemburuan pada saat sosok-sosok tampil melenggang ke Parlemen menduduki kursi legilatif setelah berkompetisi dan bertarung di perhetan politik periodesasi, sebagaimana ditentukan peraturan perundang-udangan yang ada.  Amunisi dalam kenyataannya menumbuhkan politik balas budi yang tidak cukup dengan program penguatan melainkan harus ada program “pamulangan” atau program “mulang tarima” dan inilah yang kemudian menjadi kue-kue kurang objektif yang dimaknai sebagian warga masyarakat sebagai kompensasi dari keterpilihan para wakilnya di Parlemen. Padahal sejatinya semua itu harus menjadi bagian pemerataan dan pemanfaatan sepenuhnya bagi khalayak tanpa tersekat oleh Daerah Pemilihan ataupun rumpun-rumpun tim sukses yang meminta dan berharap ikut sukses. Belum lagi terbatasnya jumlah Anggaran negara yang dapat dijalankan untuk memuluskan program-program harapan masyarakat. Ini juga terkadang menjadi dilema dan lagi-lagi berujung pada ketidak puasan pada masyarakat yang menjadi objek penerima manfaatnya.

Faktor lainnya adalah kekuatan finansial memungkinkan tersisihnya Sumber Daya Manusia yang mumpuni karena tidak berdaya lantaran minim amunisi saat harus berkompetisi di bursa jabatan politik dengan kost yang tinggi. Maka jangan salahkan jika dikemudian hari minimnya kemampuan SDM di Parlemen dalam menjelama mewakili suara dan aspirasi rakyat yang tidak dapat berkembang dan terbatas pada menggugurkan kewajiban dengan memberikan alokasi Pokir tanpa pola pikir yang akurat dan tepat sasaran.

Pemandangan inilah yang kemudian mendominasi semakin kerdilnya fungsi legislasi, fungsi penganggaran dan fungsi pengawasan karena kemampuan serta pemahaman yang terbatas dengan sendirinya membelenggu ruang gerak yang bersangkutan untuk bermanuver meluruskan hak-hak rakyat karena mudah dibodohi dan mudah di umpan dengan politik penganggaran yang sama sekali tidak relevan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja.

Jika pemandangan eksekutif jauh lebih pintar memahami aturan serta pola yang berkembang, maka sudah dapat dipastikan fungsi-fungsi parlemen dengan seabreg kekuatannya akan melemah dengan sendirinya karena tidak dapat bersandar pada kemampuan yang mumpuni. Kalaupun ada SDM yang pantas dan layak jumlahnya jauh tidak berbanding lurus dengan persoalan yang dihadapi. Maka tibalah pada situasi dimana akan muncul keadaan “Serba Salah” dan mudah disalahkan dengan legitimasi hak-hak rakyat yang sesungguhnya lebih luas dan jauh jangkauannya. Maka yang terjadi  malah membuat pintu-pintu para oposan terbuka lebar dan terus berteriak lantang berharap pamulangan dengan segala dalih dan alasan dari ketidak berdayaan lantaran terdesak dan minimnya kemampuan menjawab serta menyodorkan argumen yang tepat.  Wallohu’alam.

***Penulis adalah Jurnalis Penggiat Kelompok Informasi Masyarakat Ketua Forum Komunikasi KIM Kabupaten Garut. 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.