Cakrawala News
Portal Berita Online

Pameran Tunggal Seni Gambar “Story-Line” Rizal Misilu

GORONTALO CAKRAWALA.CO,- Riden Baruadi Gallery tahun ini, tepatnya pada tanggal 30 November sampai dengan 9 Desember 2019, kembali mengadakan pameran, yang sejak tahun 2015 lalu terus dibuat di setiap akhir tahun. Kali kelima ini adalah pameran seni gambar, karya-karya dari Rizal Misilu, seorang seniman gambar asal Gorontalo, tapi telah lama berkarir di Yogyakarta dan Jakarta.

Rizal sendiri dalam riwayatnya memang lahir di Gorontalo, tapi dua tahun setelah dia lahir, dia sudah berpindah tempat bersama keluarga ke Manado, lalu berpindah lagi seorang diri ke Yogyakarta dan Jakarta, di dua kota besar inilah dia meniti karir sebagai seniman.

Kerinduan akan kampung halaman ini, salah satu yang menjadi motivasi Rizal membuat pameran tunggal perdananya di Gorontalo.

“Melalui pameran ini, saya ingin berkesempatan merasakan kembali ke-Gorontalo-an saya,” kata Rizal.

Pameran ini mengambil tajuk “Story-Line” yang secara harfiah berarti ‘alur/garis cerita’. Bagi Rizal sendiri, selaku seniman gambar, alur atau garis itu mengandung cerita. Jenis karya seni yang dipilihnya, yakni gambar dengan menggunakan teknik menggambar (drawing), memang mengandalkan garis dari sebilah pena untuk menghasilkan sebuah karya yang mengandung makna.

Objek yang Rizal gambar dalam pameran ini bertemakan pohon beserta bagian-bagiannya, ranting, akar dan daun. Objek itu berdiri tunggal dalam setiap gambar. Ketunggalan yang menyisakan ruang putih (kosong) ini, menurut Syam Terrajana, seorang penafsir dalam pameran ini, berarti sang seniman ingin menyembunyikan pesan-pesan pribadinya, agar semakin luas ruang tafsir dalam karya-karyanya.

Menurut Rizal, dia punya alasan pribadi kenapa memilih pohon sebagai objek seninya. Rizal menuturkan, pernah suatu waktu pada 2018 silam, dia pernah mencoba menanam beberapa tanaman dengan teknik hidroponik, tapi naas, tanaman-tanaman itu mati karena ditinggal pergi olehnya ke luar kota dalam beberapa hari tanpa perawatan.

Dari situlah dia tergerak untuk lebih memperhatikan salah satu jenis makhluk hidup yang pernah dia terlantarkan itu.

Maka setiap hari, dia rutin memperhatikan detail pohon rambutan yang tumbuh di halaman rumahnya, bahkan menyentuh kulit pohon itu agar dapat merasakan teksturnya. Proses ini, menghasilkan satu karya pencetusnya terkait tema Story-Line ini, yakni gambar berjudul “Let It Fly” yang digambar menggunakan pena dengan medium kertas berukuran 21 x 25 cm.

Gambar ini berbentuk seperti tanaman kecil beserta akarnya, dan dua daun yang seperti sayap, sekelilingnya hanya ruang putih tak terisi, memberi kesan tanaman kecil ini sedang berada di udara.

Dengan cara yang sama, Rizal terus mengasah memorinya tentang pohon, menyerap inspirasi lalu mewujudkannya dalam setiap gambar yang dia toreh.

Tak hanya berhubungan dengan teknik menggambar tajuk ini dipilih. Kurator pameran, I Wayan Seriyoga Parta, melihat karya-karya Rizal itu seperti sebuah alur atau garis kehidupan manusia. Dia membaginya ke dalam beberapa bagian, yakni konflik, perenungan, keterbatasan dan cinta.

“Jika melihat ini, Bang Rizal lengkap menceritakan tentang pengalaman hidup,” ujar Wayan.

Wayan menata ruang pameran dengan beberapa bagian khusus sesuai alur kehidupan yang ditafsirkannya atas karya-karya Rizal. Dari sebelah kanan pintu masuk galeri, karya-karya yang terasa kuat makna konflik manusia dipajang, kemudian seperti sebuah alur, bagian-bagian lainnya dikelompokkan.

Namun begitu, sebenarnya dalam pameran ini, Wayan mengharapkan pengunjung jangan terpaku pada penafsirannya selaku kurator dan argumentasi Rizal sebagai seniman, apresiasi yang beragam justru dia harapkan.

“Karya seni kan selalu multi-dimensi dan multi-tafsir, silakan saja jika misalkan kita mengaitkannya dengan lingkungan atau isu-isu lainnya,” kata Wayan.

Total ada 31 karya yang dipamerkan, dari gambar yang paling kecil berukuran 11,6 x 16,5 cm, sampai yang paling besar 80 x 80 cm, ditambah satu buku yang tak dijual berisi beberapa gambar yang Rizal sediakan khusus untuk pameran.

Karena ini pameran pertamanya di Gorontalo, Rizal belum bisa berharap banyaknya apresiasi terhadap karya-karyanya ini. Walaupun butuh persiapan khusus, seperti pengangkutan karya-karyanya dari Yogyakarta ke Gorontalo yang memakan ongkos dan waktu, serta risiko kerusakan karya.

“Terkait target saya dalam pameran ini tak muluk-muluk, saya bisa pulang kampung saja, berbagi cerita, dan karya-karya saya dipajang teman-teman di sini, itu sudah cukup membahagiakan saya,” kata Rizal.

Tak hanya pameran seni gambar, beberapa komunitas yang terlibat dalam kegiatan ini, bahwa menyadari Riden Baruadi Gallery sebagai satu-satunya sentrum kesenian di Gorontalo, jarak setahun tak bisa hanya diwakili oleh satu agenda kesenian saja. Maka selain pameran, juga ada agenda-agenda lain yang terbuka untuk umum, yakni pentas musik dan tari, pidato kebudayaan, dan bincang-bincang seni.

Setiap tahun, sejak 2015 sampai 2018 kemarin, Riden Baruadi Gallery membuat empat kali pameran. Mulai dari Menegaskan Gorontalo sebagai pembuka; Beyond Nature yang merupakan pameran karya-karya seni fotografi sekaligus dokumentasi sejarah Gorontalo oleh Riden Baruadi; On Paper, sebuah kolaborasi dua seniman dengan dua gaya yang berbeda pada medium kertas; kemudian terakhir di tahun kemarin, Minus Dua, pameran tandem antara seni ilustrasi digital dengan karikatur.***

%d bloggers like this: