Cakrawala News
Portal Berita Online
ads riau 2

 NU Gelar Sosialisasi Empat Pilar dan Aswaja

0 496

Semarang, Cakrawala.co- Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengajak warganya untuk terus menguatkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan penuh kegotongroyongan.

‘’Kota Semarang ini menjadi pusat budaya, ibu kota provinsi, masyarakatnya sangat majemuk semua budaya ada dan berkembang di kota ini. Sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian, harus terjaga keamanan, kenyamanan dan ketertibannya. Alhamdulillah berkat kerja sama yang baik antara pemerintah dengan semua warga, situasi kondusif bisa terjaga,’’ katanya (6/6/2021).

Dia mengatakan hal itu dalam sambutan diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang Ir Iswar Aminuddin MT ketika membuka Sosialisasi Empat Pilar dan Aswaja Pengurus NU, di Hotel Pandanaran Semarang, kemarin.
Ketua PCNU Kota Semarang Drs KH Anasom M.Hum menjelaskan, Sosialisasi Empat Pilar dan Aswaja merupakan kerja sama PCNU dengan Pemerintah Kota Semarang. ‘’Alhamdulillah tahun 2019 kita dapat bantuan hibah kegiatan dan tahun 2021 dapat lagi,’’ katanya.

Kegiatan diikuti pengurus cabang, pengurus MWC Kecamatan dan pengurus ranting NU se-Kota Semarang. Dia mengharapkan, selain sebagai silaturahim dan refreshing, acara itu menjadi penguatan untuk meneguhkan komitmen kebangsaan dan ahlussunnah waljamaah.

Para pembicara anatar lain Wakil Ketua Dr Abdurrahman, Agus Fathuddin Yusuf, KH Subchan, Muh Imam Mursyid, Merry Suwito, Siroj, Jumarno, KH Hanief Ismail Lc, Dr KH Ahmad Izzuddin, Dr KH In’amuzzahidin, Drs Adib Fathoni, H Choirul Ikhsan, Ali Mas’adi, Pargono dan lain-lain. Ketua Baznas Kota Semarang Arnaz Agung, Kepala Dinas Koperasi dan Kadin juga memberikan materi pembekalan.

Memiliki Sejarah

Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanief Ismail Lc mengatakan, Nahdlatul Ulama memiliki sejarah dalam perumusan Pancasila versi 18 Agustus 1945. Versi Pancasila sebelumnya tidak disepakati oleh elemen-elemen bangsa sebagaimana Piagam Jakarta. Piagam Jakarta sebagai cikal bakal Pancasila saat ini, lanjut dia, dipersoalkan pada sila pertamanya karena dianggap cenderung mengakomodasi aspirasi umat Islam dalam bernegara dan berbangsa.

Hingga pada saat itu, pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari yang dimintai pendapatnya oleh Soekarno hingga mengamini Pancasila menjadi dasar negara karena sudah sesuai syariat Islam dan mengakomodir unsur bangsa lainnya. “Dasar negara itu harus menyatu semua. Ketika itu dikaji Pancasila sudah sesuai syariat atau belum. Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari sampai istikharah dan melakukan ritual lainnya sampai pada keyakinan sepakat pada Pancasila 18 Agustus 1945,” katanya.

Maka dari itu, kata dia, warga NU saat ini terus meneruskan amanah KH Hasyim untuk ikut menjaga sekuat-kuatnya Pancasila yang sudah disepakati karena keberadaannya juga tidak menyalahi syariat Islam. Pancasila juga menjadi instrumen yang mewadahi aspirasi elemen-elemen bangsa yang beragam.

Menurut Kiai Hanief, apabila didalami, lanjut dia, isi Pancasila merupakan jati diri dan karakter bangsa Indonesia, seperti sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang bermakna, setiap diri rakyat Indonesia adalah sosok yang beragama dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun agama dan kepercayaan berbeda, saling menghormati dan bersatu dalam kebinekaan.

‘’Karena Pancasila sudah final dan diterima seluruh rakyat Indonesia, implementasinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang harus mendapatkan perhatian. Sudah saatnya fokus melakukan upaya-upaya dalam pengamalan Pancasila mulai dari diri masing-masing,” katanya.

Menurutnya, berbagai upaya pemahaman dan implementasi Pancasila sangat penting untuk membentengi bangsa Indonesia dari upaya-upaya pelemahan Pancasila dan usaha-usaha untuk mengganti Pancasila dengan ideologi lain seperti komunis, khilafah dan sebagainya.

Ketua PCNU KH Anasom mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dengan panduan falsafah Pancasila yang sudah final.

“Pancasila sudah terbukti selama ini mampu menjaga bangsa ini dalam menghadapi berbagai tantangan berat, baik dari dalam maupun luar. Dengan Pancasila, Insya Allah, seluruh rakyat Indonesia bisa membawa bangsa ini lebih bagus lagi ke depan,” katanya.

Dia berharap pemerintah menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu, tidak menoleransi upaya-upaya destruktif terhadap Pancasila dari paham-paham yang mengancam. “Kami ingin Pancasila tidak tercabik-cabik oleh paham yang merusak Pancasila, seperti liberalisme, komunisme, radikalisme termasuk faham khilafah di dalamnya.,’’ kata dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo itu.(agus/smg)

Leave A Reply

Your email address will not be published.