Cakrawala News
Portal Berita Online
idul harita

Mustika Rasa Bung Karno, Diplomasi Ala Ganjar dan Pandangan Bisnis Wawali Tjutjuk Sunario

0 360

BLITAR CAKRAWALA.CO – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo hadir sebagai salah satu narasumber dalam Soekarno Festival yang diselenggarakan secara daring, Senin (21/6/2021).

Dalam kesempatan itu Ganjar menceritakan, buku Mustika Rasa karya Bung Karno merupakan sebuah keputusan radikal dan revolusioner dimana menu makanan rakyat menjadi lompatan hingga membawa nama Indonesia semakin besar di mata dunia Internasional.

“Menu makanan rakyat Indonesia itu hanya beras, jagung dan umbi-umbian. Namun ditangan Bung Karno, dengan ditambah ikan dan daging, makanan ini justru menjadi media diplomasi dengan negara lain,” terang Ganjar.

ads harlah pkb

Itulah pemikiran Soekarno tentang masakan yang kemudian menjadi salah satu inspirasinya melakukan lobi-lobi politik selama ini.

“Berunding di meja makan dengan sajian makanan daerah adalah budaya kita orang Indonesia. Dan itu sangat efektif (membuahkan hasil) sesuai yang direncanakan seperti pada Konferensi Asia Afrika kala itu dalam memperjuangkan kemerdekaan bersama,” ucapnya.

Ganjar pun mengapresiasi pihak penyelenggara Soekarno Festival yang telah membawakan soft power pemikiran Bung Karno dalam sebuah bahasan festival.

“Masyarakat Indonesia membutuhkan suatu ide seperti pemikiran Bung Karno yang ringan dan mudah dicerna. Acaranya sukses, terimakasih kami ucapkan kepada penyelenggara,” kata Ganjar.

Pandangan lain yang tak kalah menarik disampaikan Wawali Kota Blitar, Tjutjuk Sunario. Belajar dari strategi Bung Karno dalam mengenalkan aneka masakan, katanya, masyarakat juga bisa menirunya dengan menyajikan masakan lokal kepada wisatawan yang berkunjung ke Kota Blitar.

“Kalau ini dilakukan terus menerus, disamping menjadi identitas Kota Blitar juga ada keuntungan dari sisi ekonomi (bisnis),” ujar Tjutjuk.

Ia menambahkan, nasi pecel, pecel punten, wajik kletik, kicak, cenil dan sebagainya juga harus didukung kelestariannya. Tak menutup kemungkinan, kata Tjutjuk, Pemkot Blitar akan memfasilitasi pedagang kaki lima (PKL) dengan melakukan bimbingan dan pelatihan yang meliputi proses produksi, penyajian, pengemasan hingga penjualan.

“Jadi, rasa sebagai media diplomasi Bung Karno yang dimaksud adalah cita rasa makanan. Bagaimana dengan makanan itu kita bisa mengangkat ekonomi lokal, bagaimana masakan lokal bisa meningkatkan produktivitas UMKM. Kita harus bangga menyajikan menu makanan lokal kepada wisatawan yang datang,” tandasnya.

Di waktu yang sama, Upi Suprianto koordinator Soekarno Festival berharap akan ada edisi berikutnya yang berkolaborasi dengan pemerintah.

“Saya ingin pemerintah berkolaborasi di Soekarno Festival 3 yang akan datang dan menjadi festival Internasional dimana menceritakan ideologi Bung Karno dan karya-karyanya sehingga berdampak pada ekonomi, khususnya masyarakat Kota Blitar,” tutup Upi. (ek)

Leave A Reply

Your email address will not be published.