Cakrawala News
Portal Berita Online

Musik Cadas Yang Tak Pernah Mati

105

Oleh: Angga Saputra

 

Getar jiwa kuungkapkan ke dalam nada

Ooh.. tercipta lagu

ads harlah pkb

Kutuliskan kata hati ke dalam bait

Ooh..tercipta lirik

 

Berkisah..nada riang dan nada sendu

Curahan desah kalbu di kala itu

Pada gitarcukukkan nada indah

Ooh..damai di hati

 

Dan kutuangkan bisik hati dalam kata

Ooh.. cerita jiwa_

 

      Hentakan pedal seperti tak beraturan karena menggunakan pola double,  menyentak bersamaan dengan suara bass yang cukup dominan. Lengkingan guitar menorobos masuk dalam birama yang sangat rapi.

Melengkapi suara itu, sang keyboardis tak mau ketinggalan menunjukkan skill spesial. Semuanya ingin tampil, meski dalam panggung dan lagu yang sama. Kekuatan skill masing-masing memang dihadirkan dalam satu harmonisasi tembang apik milik God Bless, Musisi.

      Tembang yang nge-hits pada album ke 3 legenda band rock tanah air ini memang menjadi lagu yang bisa dibilang langka di zamannya. God Bless dengan front man-nya Ahmad Albar (vokal)  dan Ian Antonio sebagai gitarisnya, seolah ingin menunjukkan bahwa rock yang mereka bawakan tak sekedar mengandalkan kecepatan bermusik,  lirik bagus,  kadang juga sedikit berbau balada, namun sebuah kualitas skill yang dimiliki personelnya dengan beradu dalam sebuah lagu.

      Tak banyak band yang mampu membawakan dengan baik lagu itu, sehingga ketika ada yang hampir menyamai-nya, band tersebut pastilah pernah menang dalam festival band rock yang dulu menjadi ajang menunjukkan diri bagi para musisi, era kejayaan musik rock beraliran heavy metal dan pop rock pada akhir 80an dan awal 90an.  

     Malam itu, ruangan berukuran sekitar 30 x 20 meter begitu riuh. Headbang, gaya penonton saat menyaksikan konser rock dulu, tampak terlihat di pojok ruangan. Tiga orang berambut panjang berjejer, kepala digoyangkan yang membuat rambut mereka bertabrakan,  tangannya saling rangkul dan berhenti ketika lagu berakhir.

     Di atas panggung, Yayan, sang gitaris band Cygnuz’x mukanya meneteskan keringat.  Tampak lelah. Tapi mukanya sumringah. Ia, sesekali mengadahkan mukanya ke atas, dan belum segera memegang dawai gitar Ibanez-nya lagi untuk memulai lagu selanjutnya.   

      Giliran Metallion. Dari namanya, anak muda generasi saat ini yang malam itu hadir juga sudah menebak kalau band asal Purwokerto ini pasti akan membawakan lagu-lagu Metallica. Ya, Purwokerto memang memiliki Metallica KW 1 yang tak lain adalah Metallion.  Dengan formasi yang hampir berubah total,  Metallion langsung menggebrak panggung dengan  Unforgiven.  Tapi malam itu, band yang masih dihuni Saceng, personel paling lawas merawat Metallion ternyata justru banyak membawakan lagu milik band lokal macam El Pamas atau Power Metal.  Tak masalah buat penonton,  mereka tetap menggerakkan kepala menyesuaikan gebukan drum sambil ikut koor saat lagu memasuki bait reffrain.

      Metallion memang punya fans fanatik,  tak heran malam itu meski kelihatan lelah,  para personel mencoba untuk tampil garang di depan penggemarnya yang merengsek mendekati stage. Sesekali,  sang vokalis turun dari panggung, bernyanyi bersama.  

      Malam kian larut.  Keringat musisi dan penonton terkuras karena semangat.  Ada beda besar ketika mereka mendengarkan atau menonton band-band rock 90an dari beragam media visual.  Malam itu, mereka seperti tak sadarkan diri, tenggelam seolah jiwa mereka sedang kembali pada masa kejayaan musik rock.  

     “Nonton langsung sangat jelas berbeda,  apalagi yang main adalah band lokal yang dulu jadi favorit kami. Musik menjadikan kita terbawa pada nostalgia yang menceritaian segalanya,“ kata Wiwit,  penonton yang mengaku dulu sering menonton mereka saat on fire, sekitar 25 tahun silam.   

     Giliran Ibu Pertiwi yang dimotori oleh Abink Birowo, generasi musisi setelah era Cygnus’x dan Metallion. Membawakan lagu-lagu Iwan Fals yang hits di era 90an, penonton dibuat kembali tak bisa diam. Lagu macam Bento, juga Pesawat Tempur yang bernuansa blues berpadu southern rock, dibawakan Ibu Pertiwi dengan seksi.  Sebagai gitaris sarat pengalaman namun hidup ketika dominasi gitar tidak lagi akrab buat telinga pasar, Abink selalu enjoy. Dia tidak menunjukan egonya dalam sebuah band. Meski sesekali skill spesial yang dimilikinya ia tunjukkan, gitaris yang juga mengajar di Purawacaraka Music School itu tetap proporsional.

       Suasana itu muncul ketika konser  musik rock bertajuk Ajibarang Rock Community pertama kali digelar,  bulan lalu. Even di daerah kecil tapi tak dipungkiri bisa menular ke daerah lain. Di wilayah yang bukan ibukota dari Kabupaten Banyumas Jawa Tengah itu, dulu memang memiliki band kebanggan, Cygnus’x,  yang pernah hampir sukses rekaman pada era kompetisi untuk menjadi artis dilalui dengan ikut festival band.

Festival – Musisi lokal seperti Yayan dengan band-nya Cignuz’x saat ikut dalam Festival Musik Indonesia pada dekade 90-an. Circa 1989. (foto: istimewa)

        “Saya juga tak pernah berpikir sebelumnya. Ini tiba-tiba saja muncul keinginan tak terbendung untuk bisa reuni,bermain lalu menghidupkan nafas rock pada zaman saya,“ kata Yayan, Gitaris Cygnuz’x.

       “Saya kaget ketika anak saya menyanyikan lagu forever in one.  Saat kutanya emang lagunya enak, dibilangnya katanya keren banget, “ kata Anggi, ibu rumah tangga yang menonton acara itu.  

      “Kami punya tekad, tren musik akan  kembali ke musik rock,  itu bisa saja diawali dari sini. Sama seperti ketika Cygnuz’x juga menjadi penyemangat bagi perkembangan musik di wilayah Banyumas, “ kata Catur, pegiat musik  Ajibarang.  

      Tekad Catur bisa terwujud jika dia dan komuitasanya cerdas dalam memanfaatkan peluang. Bahkan itu bisa membuatnya lebih mudah untuk tetap eksis di dunia musik sekaligus menjadi pencetus gagasan even yang menghasilkan rupiah.  Misalnya,  periode festival musik Rock yang begitu lama vakum bisa kembali digelar dengan model sama seperti zamannya dulu.  Ada lagu Wajib juga lagu bebas bagi peserta.  

      “Untuk sampai ke sana masih belum terpikirkan, kecuali kesempatan itu datangnya cepat,” kata Kobaharo mantan pekerja media yang juga musisi di daerah itu.

Event Reuni – Gelaran musik rock lokal di Purwokerto Jawa Tengah, bertajuk Ajibarang Rock Community ini merupakan ajang reuni musisi rock lokal era 90-an. (foto: istimewa)

        Di kota keripik, musik rock mengalami kejayaan pada era yang sama. Banyak kenangan, baik nama band lokal maupun tempat konser untuk sejumlah band tanah air. Untuk tempat konser, gedung Isola adalah nama yang banyak mengukir sejarah pentas panggung bahkan hingga ratusan musisi pernah mencobanya. Ada nama band lokal macam Zaragoza, Metallion, Cygnuz’x hingga solois macam Mayang Sari yang namanya melekat di telinga warga kota keripik khususnya usia 35 tahun ke atas. 

Bisa Jadi Trendsetter

    Geliat musik rock yang kembali panas setelah telinga pasar mungkin jenuh dengan suara alunan musik dari lagu band zaman ini yang masih belum beralih dari pop rock ditambah sentuhan melayu,  bisa saja akan menjadi trendsetter untuk beberapa tahun ke depan.  Musik rock yang seperti apa?

    Jika mengikuti siklus dari munculnya tren musik retro 60-70, lalu 80an, kini gelombang musik yang sepertinya akan jadi tren di dunia musik adalah aliran rock heavy metal dan ballads yang pernah mengalami puncak kejayaan pada era 90an. Sebut saja band dari manca seperti Gun n Roses, Skid Row, Deff Lepard, Metallica dan lainnya.

     Dari tanah air, God Bless menjadi pionir,  disusul Power Metal, Edane,  Andromeda Band dan banyak band rock lain yg lahir dari berbagai daerah.  Mereka kebanyakan muncul setelah menang dalam ajang festival musik rock Indonesia yang rutin tiap tahun digelar.  Penyelenggaranya adalah Log Zhelebor, tokoh penting dalam perkembangan musik rock tanah air.  Sayangnya,  perubahan zaman membuat Log Zhelebour tak lagi meneruskan even yang telah membesarkan nama Logmusic,  manajenen di bawah sentuhan si boss. Kejayaan Log seperti berakhir pada Zamrud yang hingga kini masih setia menjadi band di bawah naungan Logmusic.

    Tidak ada kabar, atau isu kalau Log Zhelebour sedang bergerilya untuk mengembalikan kejayaannya ketika arus tren musik sebenernya sudah memihaknya. Tapi diamnya si boss juga belum bisa ditebak apakah ada rencana besar dirinya untuk kembali mengulang sejarah dengan membangun even seperti festival musik rock Indonesia, atau membuat gebrakan lain tapi muaranya untuk mengeksplore fenomena kembalinya kejayaan era rock.

       Misteri ini mungkin baru akan terjawab saat Log mulai beraksi.  Pria yang dikenal pendiam ini memang agak tertutup,  terutama dalam membuat rencana-rencana bisnis pada industri musik yang telah membuatnya kaya.  Sikap diam pun ia tunjukkan ketika cakrawala.co mencoba mewawancarainya melalui chat WhatsApp.  Namun dia tampaknya enggan, bahkan ketika hanya ditanya tentang festival rock-nya yang melegenda itu jika arus musik rock kembali deras mengalir.  

     Padahal, arus kembalinya aliran rock era 90an dengan aliran heavy metal maupun balads diakui para musisi yang pernah merasakan kejayaan masa itu. Pay Hasibuan, misalnya, dia sangat yakin jika rock dari ragam ballads akan kembali menjadi trend setter.  

      “Guwe rasa rock ballads dengan sentuhan sound kekinian bisa jadi trendsetter musik, “ kata gitaris yang juga produser musik ini.  

    Meski yakin, Pay belum ada niatan untuk membuat single rock ballads atau sejenisnya, yang dulu karya itu pernah ia hasilkan usai hengkang dari Slank. Juga untuk beberapa band yang selama ini ia naungi,  masih belum ada rencana untuk menggarap genre tersebut.  “Belum dulu, “ ungkap suami dari DewiQ ini.

       Front Man Zamrud, Azis MS kepada cakrawala.co mengatakan, dari masa ke masa perubahan aliran musik menjadi dinamika yang menarik. Ragamnya beragam dari setiap panggung. “Meski akarnya tetap, jenisnya pop dan rock,” katanya.

Root – Azis MS yakin jika rock tetap menjadi root dari berbagai lagu yang diciptakan oleh para musisi. (Foto: istimewa)

       Tren kembalinya rock atau yang dikenal sebutan lain musik cadas tetap bisa eksis tak tergerus zaman. “Semua jenis yang basisnya rock atau lebih spesifik  heavy metal akan tetap survive. Bahkan itu berlaku untuk metal, punk maupun trash,” katanya.

     Gitaris veteran, Totok Tewel adalah satu dari sekian musisi hebat tanah air yang namanya tenggelam setelah El Pamas bubar. Pada gelaran soundrenaline 2006 di Ancol, gitaris yang sering memakai slayer di kepala dengan rambut gondrong mirip Jimmy Hendrix itu mendadak membuat kaget penonton ketika naik ke panggung. Totok bermain ditemani kolega lawasnya yang pernah mengisi vokal di El Pamas, Baruna. Saat itu dia mengatakan, ingin menghidupkan musik rock bersama Baruna dengan tetap pada jalur awal dirinya meniti karir. Sayangnya, arus deras genre musik lain begitu dahsyat menggulung euforia masyarakat pecinta musik. Cita-citanya yang memperoleh support Baruna tak membahana. Lama,  nama Totok tak terdengar hingga muncul video berduras sekitar 60 detik dirinya bermain gitar membawakan lagu legendaries, Smoke on the Water. Suara gitar dari video itu masih sama seperi  suara gitar Totak dulu. Halus, distorsi yang tak membuat telinga panas bagi orang awam yang mendengarnya. 

Tribute to Musisi Negeri dengan Rock

    Nama aslinya Retno Yuskarini. Lahir di Semarang,  61 tahun silam. Usia yang sudah tak lagi muda. Bagi kebanyakan orang di sini khususnya kaum hawa, masa tua mereka biasa lebih banyak diisi dengan kegiatan yang tak jauh-jauh dari lingkungan keluarga. Momong cucu, atau paling banter ikut kegiatan sosial bareng tetangga untuk menghabiskan harinya.

Buat Retno, keluarga memang penting, namun aktifitas tetap harus bisa berjalan beriringan. Semua orang punya pilihan,  begitu juga dengan Retno. Tua adalah hitungan usia, untuk urusan aktifitasnya dia masih sama seperti dulu. Gesit,  semangat serta keinginan yang kuat untuk bisa berperan dalam idealismenya menjaga kejayaan  musik rock.

     Itulah tekad Retno, yang dikenal dengan nama panggung Renny Djayusman. Meski tak lagi produktif dalam berkarya, Renny tetap bergerak.

     Tak ada yang berubah dari penampilan Renny, lady rocker papan atas ini tetap nyentrik. Ciri khasnya tak ditanggalkan, aneka jenis kalung di leher, beberapa gelang melingkar di tangan, kacamata hitam, dan kain motif khas Nusa Tenggara Timur, masih menghiasi kepalanya. 

        Ambisi Renny tak pernah redup. Musik adalah kebutuhan, buatnya dan bagi banyak orang. Adapun rock, adalah benderanya yang harus terus berkibar. Bagi Renny, dia tak pernah pedali dengqn tren,  rock tetap ada dalam kalbu sanubarinya. Meski era sudah berubah, media sebagai alat bantu juga sudah berbeda dibandingkan ketika dia berjaya, Renny tak mau berdiam diri. Ketika rock sedang ditinggalkan oleh banyak pendengarnya,  dia bergerilya mengumpulkan musisi-musisi yang sedang vakum. Bahkan, Renny mulai membuka diri tak hanya bagi para rocker saja. Musisi dari aliran reggae dan blues ia rangkul. Renny lalu membentuk komunitas yang ia namai Indonesia KITA (IKI).

IKI – Renny Djayusman bareng temen-temen IKI. IKI menjadi wadah Renny bersama musisi-musisi di zaman-nya maupun musisi generasi setelah itu, untuk menjadikan musik Indonsia terus berjaya.(foto: istimewa)

     Melakui wadah itulah,Renny bersama dengan sejumlah musisi seperti Bangkit Sanjaya, Ita Purnamasari, Irang eks BIP dan banyak musisi tanah air lain mencoba menghidupkan gema rock di nusantara.

     “Sekarang ini kawan-kawan sedang ada kegiatan di Ambon untuk konser.  Kita juga sedang mempersiapkan album beris Lima lagu, ” kata Renny dengan suara yang masih sama,  serak dan kuat.

      Komunitas yang dinaungi Renny ini memang memiliki misi khusus, yaitu menjaga kejayaan musik Indonesia.  “Ini tanggungjawab moral kita, mengenalkan kepada generasi sekarang bahwa di Indonesia itu ada lho lagu Khas punya almarhum Bang Ben, juga sang legenda Bing dan lain-lain, ” kata Renny.

Gitaris – Ini para gitaris I.Ki (Indonesia Kita) Ada Ipunq Power Metal, yoel Vai, Eddy Kemput Grass Rock, Doni Suhendra Krakatau,Ambang , Taràz, Anwar, Zondy. (foto: istimewa)

     Rock memang tak bisa lepas dari diri Renny, bersama kawan satu komunitas, konser rock pernah digelar di Hardrock Cafe. Sesuai cita-cita utamanya menjadikan  musik Indonesia jaya di negeri sendiri, konser IKI digelar dengan konsep tribute. Dari even yang sudah digelar, ia mencontohkan konser bertajuk tribute to Ebiet G Ade, Titik Puspa, God Bless.

     “Semua tribute untuk musisi tanah air,  dan semuanya diaransemen rock. Karena saya yakin,  kejayaan rock akan terulang,” kata Renny, yakin. ***

Angga Saputra, jurnalis,  penikmat rock, tinggal di Purwokerto Jawa Tengah

Comments are closed.