Cakrawala News
Portal Berita Online
ads bukopin

Minyak Jelantah Ditangan Nur Huda Menjadi Bernilai Ekonomis

0 106

SIDOARJO, CAKRAWALA.CO – Siapa sangka sisa minyak goreng atau jelantah yang sering kita anggap limbah dan dibuang begitu saja, ternyata bisa diolah menjadi biodiesel.

Ditangan, Nur Huda (30), Warga Desa Kemuning, Kecamatan Tarik. Minyak bekas pengorengan bisa menghasilkan pundi-pundi uang.

“Ide awal usaha supplier minyak jelantah ini dari Bapak saya. Yang mengatakan saat itu di tahun 2015. Lalu saya belajar dan mencari info bagaimana mendapatkan minyak jelantah dalam jumlah banyak. Lalu kemudian saya jual kembali,” Kata Nur Huda, kepada cakrawala.co

Pria yang mengaku sebagai karyawan swasta di perusahaan daerah Warugunung Surabaya. Biasa melakukan pengumpulan minyak jelantah dari restoran, home industri dari berbagai tempat di Jawa Timur. Setelah selesai bekerja dia hunting mencari minyak bekas pengorengan.

“Biasanya saya ambil minyak jelantah dari restoran, home industri pengorengan seperti di Balongbendo, Mojokerto, Kediri, dan di Tulungagung perusahaan kacang sanghai. Awal mula pengambilan perusahan atau home induatri yang mempunyai minyak jelantah selalu bilang untuk apa. Lalu saya jelaskan untuk bahan baku Biodiesel,” Ujar Nur Huda.

Dikala hampir semua masyarakat terkena dampak covid-19 yang mengakibatkan ekonomi lesu. Nur Huda mengaku dalam sebulan dia mendapatkan tambahan penghasilan rata-rata Rp 5-8 Juta rupiah.

Bapak satu anak lulusan SMK YPM Tarik, ini bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Setelah berhasil kerjasama dengan salah satu perusahaan Dari hasil penjualan minyak jelantah ke PT Delta Hijau Abadi (DHA) di daerah Surabaya yang mengelolah minyak jelantah menjadi bahan baku Biodiesel.

“Sebagai supplier, satu minggu saya bisa kirim
2 ton minyak jelantah. Harga jual per satu ton 5 juta. Rata-rata penghasilan saya Rp 5-8 juta/ bulan, setelah dipotong biaya produksi,” lanjut Nur Huda.

Nur Huda mengaku juga seringkali bekerjasama dengan Ibu-Ibu PKK di daerah Mojokerto. Dalam sosialisasinya dia mengatakan jangan buang minyak goreng bekas ke sungai atau ke tanah akan menyumbat saluran air sehingga mencemari lingkungan.

Kerjasama yang dia lakukan yakni membeli minyak goreng bekas dari warga seharga Rp 4000/ per 1,5 Liter botol minuman.

“Alhamdullilah dengan banyaknya respon dari Ibu2 PKK yang peduli tidak mencemari lingkungan dan mengumpulkan untuk dijual kembali. Setidaknya kita membantu perekonomian mereka,” pungkasnya. (Win)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: