Mengharukan, Polisi Itu Tersungkur Cium Kaki Tukang Batu

MAKASSAR, CAKRAWALA.CO,- Seorang polisi muda berpangkat Bripda bernama Asrul (20) yang baru saja lulus penididikan Bintara Polisi, bergegas mencari ayahnya lalu tersungkur mencium kedua kakinya. Tak peduli sepatuh lusuh berdebu tetap saja dicium.

Polisi mudah itu pun bangun dan memeluk erat ayahnya, lalu berkata “Minta maaf pak, kalau ada salahku. Ini saja yang bisa saya kasih, jadi polisi.” Sambil menangis, polisi muda itu mengucapkan berterima kasih kepada ayah dan ibu yang telah menyekolahkan sejak SD dari hasil tukang batu. “Itumi terima kasihku sama bapakku. Dia kasi sekolahka sejak SD dari hasil tukang batuji.”

Orang-orang di kanan dan kiri pun melihat adegan ini dengan tetesan air mata haru. Betapa tidak, sang ayah yang dicium kakinya itu memang seorang tukang pemecah batu bernama Syamsuar (54). Ia mampu mengantarkan anaknya bernama Asrul (20) menjadi polisi, tanpa membayar.

Asrul mampu menyisihkan ribuan orang yang berebut masuk menjadi polisi. Asrul adalah satu dari 600 orang yang baru dikukuhkan jadi Bripda dengan penugasan umum di Polda Makassar. Bagi Asrul ini adalah perjuangan keduanya. Yang pertama tahun lalu tidak lulus. Inilah taqdirnya setelah berusaha sekuat tenaga dan tentu saja doa kedua orang tua. Setiap pukulan batu dan tetesan keringat ayahnya adalah doa yang mujarab bagi anak yang berbakti.

Syamsuar pun tidak menyangka anaknya akan menjadi seperti ini. Ia ikut meneteskan air mata haru dan terdengar sesenggukan tangis bahagia. Ia sangat bersyukur anaknya bisa jadi polisi. Pak Syamsuar jelas bukan lagi tukang pemecah batu sekarang tetapi bapaknya polisi.

Bripda Asrul (20) adalah warga BTN Batara Ogi, Daya, Kecamatan Biringkanaya, timur Makassar. Ia adalah anak bungsu dari Syamsuar (54) dan Sitti Rusnah (51) sepasang buruh bangunan, dan pemecah batu gunung Biringkanaya.

Menurut ibunya, Rusnah, Asrul adalah anak yang penyabar. Ia banyak membantu keluarga sebagai buruh. Sepulang sekolah sering membantunya angkat bata, aduk semen, dan bantu tantenya jual ikan di pasar. Ia rajin menabung sehingga proses pendaftaran polisi juga pakai uangnya sendiri.

Asrul butuh tiga tahun untuk mendapatkan Bripda. Sejak SMA memang cita-citanya ingin menjadi polisi dan kini cita-cita itu sudah terkabul. Tinggal bagaimana menjadi polisi yang baik. Sejarah perjalanannya yang mengharukan, kiranya bisa menjadi contoh polisi ke depan yang jujur dan berpihak kepada masyarakat.

Kini keluarga Syamsuar adalah bagian dari keluarga besar Kepolisian repiblik Indonesia. Irjen Polisi Umar Septono,Kapolda Sulawesi Selatan berpesan agar masyarakat jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bisa membantu lolos jadi polisi dengan membayar sekian-sekian. Semua itu adalah penipuan.

“Saya tekankan lagi, masyarakat jangan percaya dengan orang yang janjikan agar anaknya masuk polisi, kalau ada yang pakai uang itu bodoh” jelas Umar yang sebelumnya jadi Kapolda NTB. (fur/UCNews/8/3/2018).

Facebook Comments
%d bloggers like this: