Cakrawala News
Portal Berita Online

Mengapa Visi Permbangunan Manusia Indonesia menjadi Sentral?

0 24

JAKARTA, Cakrawala.co – Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Pembangunan Manusia, Abetnego Tarigan menyampaikan permasalahan yang dialami Indonesia sehingga Presiden menjadi Visi Pembangunan Manusia menjadi Sentral. Permasalahan tersebut disampaikan dalam paparan berjudul, “Upaya Strategis KSP dalam  Menyelaraskan Visi Permbangunan Manusia Indonesia”, Rabu (12/08/2020) dalam Seminar Daring ke-2 kolaborasi Indonesia Peace and Conflict Resolution Association (IPCRA) bersama Ikatan Alumni Universitas Pertahanan (IKA Unhan) bertajuk “Totalitas Menuju Indonesia Maju”.

Visi Pembangunan Manusia merupakan Pilar Pertama di dalam Visi Indonesia 2045, sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo, di Musyawarah Pembangunan Nasional (Musrenbangnas)  2019 sebagai cita-cita di ulang tahun ke-100 Indonesia sebagai negara maju dan berpendapatan tinggi, dengan proyeksi PDB terbesar kelima terbesar di dunia.

“Hal ini tentu harus didukung oleh hilirasi industri dan juga dengan memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM), infra struktur, penyederhanaan regulasi, birokrasi serta tranformasi ekonomi” kata pria kelahiran Pematang Siantar, 1 Juni 1976. Abetnego menambahkan, kelima hal ini mejadi hal yang penting, yang dipikirkan oleh Bapak Presiden yang menjadi bagian dari pembangunan kita dimana kita lihat bahwa pembangunan manusia menempati urutan pertama. Ini menunjukkan juga skala prioritas.

ads bukopin

Sebelumnya, di periode pertama Presiden Joko Widodo, pembangunan infrastruktur merupakan sesuatu yang sentral di dalam pembangunan kita tetapi di dalam periode kedua ini Pembagunan SDM menjadi  sangat sentral.

Menurut Abetnego yang berkantor di KSP sejak 22 Juni 2020 lalu, meskipun Indonesia sebagai negara ke-16 GDP pada 2018, tapi jika dilihat dari angka Human Capital Indeks, Human Development Indeks, menunjukkan angkanya tidak punya korelasi yang positif (rendah-red).

Jika dibandingkan dengan Cina yang ekonominya masih berubah misalnya tapi dari Human Capital Indeks-nya nomor 46 tapi dibandingkan dengan kita di posisi nomor 87. Apalagi jika dibandingkan dengan Human Development Indeks, posisi Indonesia langsung melorot ke 116. “jadi ini memang menjadi hal penting bagi kita bagaimana posisi SDM kita (Indonesia-red) di dalam kancah global.

Berdasarkan angka-angka tersebut, ada 4 (empat) hal yang perlu mendapat perhatian kita. Pertama  terkait dengan Program for Inernational Student and Assessment (PISA). Pada tahun 2019, Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 77 negara skor literasi.

“Itu artinya kita negara paling bawah dan juga kita peringkat 72 dari 78 negara untuk skor numerasi. “Nah ini memang menunjukkan suatu keadaan literasi, matematika, dan keadaan science (Indonesia-red) pada level Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Dasar dan Menengah ini masih rendah.” Ungkap Abetnego.

Kedua, link match antara supply dan demand antara dunia pendidikan dan dunia industri, ini juga menunjukkan suatu persoalan yang serius. Kalau kita lihat bahwa ada begitu banyak sekali pengangguran dari sekolah-sekolah vokasi. Ini juga menunjukkan bagaiamana tidak terhubungnya dengan baik antara supply dan demand tadi.

Selama ini Indonesia terlalu menempatkan dari sisi supply.  Diakui Abetnego hal ini tidak hanya terjadi pada Pemerintahan Presiden Joko Widodo tetapi  juga sejak Presiden – Presiden sebelumnya,. “Kita mikirin sekolahnya tapi tidak mikirin secara serius industri kita mau bergerak kemana, demand-nya mau kemana. Ini memang yang menjadi persoalan kita sehingga link and match ini menjadi suatu isu yang sangat penting”.

Ketiga, budaya riset-teknologi dan anggaran research & development (R&D) di Indonesia itu juga masih rendah. Abetnego kembali mengingatkan, beberapa waktu teguran Bapak Presiden dimana riset-riset kita itu masing-masing pihak membuat riset-riset tersendiri tanpa punya koneksi keterhubungan dengan kebutuhan yang muncul pada saat ini.

Yang terakhir adalah manajemen talenta, KSP bersama kementerian terkait sedang mendorong adanya manajemen talenta nasional. Di setiap Kementerian memiliki unit-unit manajemen talenta tapi keterkaitan hubungan satu dengan lainnya menjadi satu isu yang sangat penting diperhatikan. Seperti dicontohkan Abetnego, Kementerian Pendidikan punya event olahraga di tingkat pendidikan, Kementerian Agama juga mempunya event olahraga di Madrasah, kemudian Kemenpora juga punya agenda olahraga untuk Sekolah Pendidikan dst. Tetapi Abetnego mempermasalahkan  integrasi antara satu event dengan  yang lainnya.

“Oleh sebab itu, di dalam Manajemen Talenta ini, ini perlu juga mendapat perhatian dari kita dan merupakan salah satu masalah sehingga tidak sedikit orang-orang bertalenta di Indonesia itu lebih terakomodasi di negara-negara luar yang punya Manajemen Talenta jauh lebih baik” harap mantan Direktur Nasional WALHI 2016-2019 ini. (sdk)

Leave A Reply

Your email address will not be published.