Menengok Sejarah Pertambangan Ombilin Sawahlunto Yang Ditetapkan Sebagai Warisan Dunia UNESCO

SAWAHLUNTO, SUMATERA BARAT, CAKRAWALA.CO – Sawahlunto di Sumatera Barat adalah kota tua yang  memiliki peran cukup penting di era penjajahan Belanda. Kota kecil ini dulunya merupakan salah satu tempat eksplorasi tambang batubara oleh pemerintah Belanda sehingga mendapat julukan sebagai kota tambang. Pada saat industri tambang masih aktif pada medio 1892 hingga 1998, roda perekonomian di Sawahlunto bertumpu pada sektor tersebut. Hotel, toko, kafe hingga pasar tak pernah sepi pengunjung.

Sekilas Sejarah

Cikal bakal dijadikannya Sawahlunto sebagai kota terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh beberapa geolog asal Belanda ke pedalaman Minangkabau (saat itu dikenal sebagai Dataran Tinggi Padang). Penelitian pertama dilakukan oleh Ir. C. De Groot van Embden pada tahun 1858, kemudian dilanjutkan oleh Ir. Willem Hendrik de Greve pada tahun 1867. Dalam penelitian De Greve, diketahui bahwa terdapat 200 juta ton batu bara yang terkandung di sekitar aliran Batang Ombilin, salah satu sungai yang ada di Sawahlunto.

Sejak penelitian tersebut diumumkan ke Batavia pada tahun 1870, pemerintah Hindia Belanda mulai merencanakan pembangunan sarana dan prasarana yang dapat memudahkan eksploitasi batu bara di Sawahlunto. Selanjutnya Sawahlunto juga dijadikan sebagai kota pada tahun 1888, tepatnya pada tanggal 1 Desember yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Sawahlunto.

 

Kota ini mulai memproduksi batu bara sejak tahun 1892.  Seiring dengan itu, kota ini mulai menjadi kawasan pemukiman pekerja tambang, dan terus berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang. Sampai tahun 1898, usaha tambang di Sawahlunto masih mengandalkan narapidana yang dipaksa bekerja untuk menambang dan dibayar dengan harga murah.

Pada tahun 1889, pemerintah Hindia Belanda mulai membangun jalur kereta api menuju Kota Padang untuk memudahkan pengangkutan batu bara keluar dari Kota Sawahlunto. Jalur kereta api tersebut mencapai Kota Sawahlunto pada tahun 1894, sehingga sejak angkutan kereta api mulai dioperasikan produksi batu bara di kota ini terus mengalami peningkatan hingga mencapai ratusan ribu ton per tahun.

Eksplorasi tambang batubara di Sawahlunto berakhir sekitar tahun 1998 akibat habisnya cadangan batubara di dearah tersebut. Perusahaan batubara terbesar yang beroperasi di kota tersebut — Bukit Asam — memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya secara total pada tahun 1998. Semua karyawan dipindahkan ke area lain yang memiliki memiliki cadangan batubara. (Disarikan dari beberapa sumber seperti wikipedia) ***Redaksi Nasional

Facebook Comments
%d bloggers like this: